Filsuf, sofis, dan sufi sekilas memang sama-sama terdengar seperti istilah yang berhubungan dengan orang yang mencari pengetahuan. Ketiganya juga seakan diasosiasikan dengan orang-orang bijak, orang-orang yang keilmuannya sundul langit, dan orang-orang yang “sudah selesai” dengan remeh-temeh dunia. Padahal, ketiganya punya arti, makna, dan sejarah yang berbeda.
Bagi yang baru belajar filsafat, istilah filsuf dan sofis mungkin jadi yang paling membingungkan. Keduanya sama-sama muncul dalam sejarah pemikiran Yunani Kuno dan sama-sama dikenal sebagai orang yang mengajarkan kemampuan berpikir serta berbicara. Banyak pelajar filsafat yang tertukar antara keduanya.
Kalau sufi, asalnya dari kultur Islam, bukan Yunani. Jadi, kecil kemungkinannya untuk tertukar dengan filsuf dan sofis, meskipun ada juga sufi yang jadi filsuf.
Apa itu filsuf dan siapa saja tokoh-tokohnya?
Sederhananya, filsuf adalah orang yang mendalami dan menguasai bab filsafat. Bahasa yang lebih sederhana adalah ahli filsafat. Jika mengacu pada arti harfiah, filsuf berasal dari bahasa Yunani philosophos, yang secara sederhana berarti “pecinta kebijaksanaan”. Istilah tersebut berasal dari philein atau mencintai dan sophia atau kebijaksanaan.
Filsuf bukan berarti orang yang sudah memiliki seluruh jawaban tentang kehidupan. Filsuf juga bukan orang yang memiliki kebijaksanaan. Justru sebaliknya. Seorang filsuf adalah orang yang mencintai bahkan mencari kebijaksanaan. Tentu melalui cara-cara khas filsuf, yaitu dengan cara pandang dan cara pikir yang rasional serta kritis.
Dalam pencarian kebijaksanaan dan kebenaran, filsuf selalu menggunakan logika dan akal sehat, serta menolak mitos, dogma, bahkan asumsi. Hasilnya, para filsuf mempercayai bahwa kebenaran adalah hal yang objektif. Kebenaran tidak bergantung kepada opini pribadi, bahkan suara terbanyak atau siapa yang menang debat. Sederhananya seperti itu.
Nama-nama seperti Plato, Socrates, Aristoteles dari masa Yunani Kuno adalah tokoh filsuf yang paling populer. Di era modern, nama-nama seperti Rene Descartes dan Immanuel Kant juga merupakan tokoh filsafat.
Apa itu sofis dan siapa saja tokoh-tokohnya?
Sofis adalah sebutan bagi kelompok guru dan intelektual yang berkembang terutama pada abad ke-5 SM di Yunani Kuno. Selayaknya seorang guru, para sofis mengajarkan berbagai kemampuan yang orang butuhkan dalam kehidupan publik, terutama retorika, argumentasi, dan kemampuan berbicara. Para sofis biasanya menerima bayaran dari murid yang belajar kepada mereka.
Bedanya dengan filsuf, para sofis ini pragmatis. Orientasi para sofis itu ada pada hasil dan kemenangan, entah itu dalam pengajaran (yang mana mereka memasang tarif), atau dalam debat. Para sofis juga punya pandangan berbeda tentang kebenaran. Jika filsuf memandang kebenaran adalah sesuatu yang objektif, para sofis memandang kebenaran adalah hal yang relatif, tidak mutlak, tergantung sudut pandang masing-masing.
Meski kerap bertentangan dengan filsuf, peran para sofis ini masih sangat penting, khususnya dalam kehidupan praksis. Saat itu, kehidupan politik semakin berkembang, kemampuan berbicara di depan publik menjadi keterampilan yang sangat penting. Seseorang yang mampu menyampaikan argumen dengan meyakinkan, tentu dapat memiliki pengaruh besar dalam banyak aspek kehidupan.
Tokoh-tokoh atau para sofis memang tidak seterkenal para filsuf. Sebagian dari kita, termasuk yang baru saja belajar filsafat, mungkin masih asing dengan nama-nama seperti Protagoras, Gorgias, atau Thrasymachus.
Lalu apa itu sufi dan siapa saja tokoh-tokohnya?
Dalam pengertian yang sederhana, sufi merupakan sebutan bagi orang yang menempuh jalan spiritual dalam tradisi yang kemudian dikenal sebagai tasawuf. Tasawuf menekankan dimensi batin dalam kehidupan beragama, termasuk penyucian jiwa, pengendalian diri, kecintaan dan usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam kehidupan para sufi, mereka menganut beberapa prinsip dasar. Beberapa di antaranya adalah prinsip zuhud atau kehidupan sederhana yang tidak bergantung dengan kesenangan duniawi. Ada juga prinsip penyucian diri dan pengendalian hawa nafsu, hingga prinsip lain seperti tarikat atau bergabung dengan kelompok spiritual di bawah bimbingan seorang guru/ulama.
Tokoh-tokoh sufi tentunya tidak asing di telinga sebagian masyarakat. Nama-nama seperti Hasan Al-Bashri, Rabi’ah Al-Adawiyah, hingga Jalaluddin Rumi adalah beberapa di antaranya. Bahkan ada tokoh sufi yang juga termasuk filsuf dunia Islam seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Arabi, hingga Imam Al-Ghazali.
Perbedaan mendasar antara filsuf, sofis, dan sufi
Dari penjelasan tiga istilah di atas, sebenarnya kita sudah bisa mengetahui perbedaan antara filsuf, sofis, dan sufi. Tradisi, sumber pengetahuan, dan metode untuk mencapai kebenaran jelas berbeda. Filsuf dan sofis berasal dari lingkungan intelektual Yunani Kuno, sedangkan sufi berasal dari kultur Islam. Meskipun ketiganya sama-sama berisi para pemikir, dan tetap beririsan secara pemikiran.
Singkatnya, filsuf merujuk pada seseorang yang menekuni pencarian dan penyelidikan filosofis. Sofis dalam konteks Yunani Kuno merujuk pada guru profesional yang banyak mengajarkan retorika dan keterampilan intelektual, meskipun beberapa di antaranya juga menghasilkan gagasan filosofis yang penting. Sementara sufi merujuk pada seseorang yang menempuh jalan tasawuf dalam tradisi Islam, jalan untuk mendekatkan diri secara lahir dan batin kepada Allah SWT.
Pergeseran makna dari filsuf, sofis, dan sufi
Baik filsuf, sofis, maupun sufi mengalami pergeseran makna dari masa ke masa. Filsuf misalnya, mengalami banyak pergeseran makna sejak era Yunani Kuno. Pada awalnya, filsuf adalah sebuah karakteristik moral dan pilihan hidup secara umum. Filsuf lalu berkembang dan dimaknai sebagai ilmuwan, hingga sekarang menjadi akademisi di dunia kampus.
Sofis bahkan bernasib lebih parah. Sejak awal kemunculannya, sofis yang sebenarnya merujuk pada orang-orang cerdik dan orator, sudah mendapat label guru keliling. Setelahnya, sofis bahkan sudah sudah dianggap sebagai “penjual kata-kata” oleh Socrates, Plato, dkk. “Bondo nyocot” kalau kata orang Jawa. Imbasnya, sofis kerap mendapat cap negatif, yang mengakibatkan sofisme sebagai aliran pemikiran filsafat jadi kurang populer.
Sedangkan sufi, maknanya juga berkembang seiring sejarah. Pada masa awal, istilah ini banyak dikaitkan dengan zuhud, kesederhanaan, dan pengendalian diri. Seiring waktu, praktik tersebut berkembang menjadi tradisi tasawuf yang membahas penyucian jiwa, cinta kepada Tuhan, dan pengalaman spiritual. Karena itu, sufi kini tidak hanya merujuk pada sosok asket, tetapi lebih luas kepada orang yang menempuh jalan spiritual dalam tradisi tasawuf.
Bekal dasar untuk yang baru mulai belajar filsafat
Siapapun yang akan atau baru memulai belajar filsafat, rasanya perlu mengerti tentang perbedaan filsuf, sofis, dan sufi. Ini jadi semacam garis dasar sebelum masuk lebih dalam. Ketiganya, apalagi filsuf san sofis, kerap tertukar dan salah sebut. Selain itu, sufi juga kerap diartikan secara asal sebagai filsuf Islam, tanpa menyebutkan faktor-faktor lain.
Maka dari itu, memahami perbedaan ketiganya menjadi sangat penting. Biar nanti kalau ketemu orang yang cuap-cuap panjang lebar soal filsafat, tidak buru-buru menyebutnya sebagai filsuf. Bisa jadi dia hanya seorang sofis pragmatis yang sekaligus bagian dari penguasa fasis.