Daftar pustaka merupakan kumpulan sumber yang menjadi rujukan dalam sebuah karya tulis. Sumbernya dapat berupa buku, jurnal, laporan penelitian, maupun publikasi lainnya. Dalam penulisan akademik, daftar pustaka sangat penting sebab berkaitan dengan sitasi yang muncul di dalam tulisan. Pembaca dapat menggunakan informasi tersebut untuk menemukan sumber asli yang menjadi dasar sebuah argumen atau informasi.
Format penulisan daftar pustaka tidak selalu sama. Setiap gaya mempunyai aturan mengenai urutan penulisannya. Ada yang memiliki perbedaan tanda baca, ada pula yang memiliki perbedaan penulisan huruf kapital. Di Indonesia, setidaknya ada 3 gaya yang paling umum digunakan oleh para penulis. Ketiga gaya tersebut adalah APA Style, Harvard Style, dan MLA Style.
Meskipun ketiga gaya ini cukup populer di Indonesia, masih banyak penulis atau mahasiswa yang bingung mengenai cara menulis daftar pustaka. Mereka banyak yang tidak tahu apa perbedaannya, termasuk bagaimana cara penggunaannya.
Menulis daftar pustaka dengan APA Style
APA (American Psychological Association) Style pertama kali muncul pada 1929. Kemunculannya diprakarsai oleh sekelompok ahli psikologi dan antropologi yang ingin menyusun pedoman gaya penulisan agar lebih mudah dipahami oleh pembaca. Penulisan gaya ini kerap digunakan untuk karya tulis di bidang ilmu sosial.
APA Style menggunakan sistem penulis dan tahun. Dalam daftar referensi atau daftar pustaka, nama belakang penulis dan tahun publikasi menjadi elemen penting. Daftar referensi juga disusun secara alfabetis berdasarkan nama belakang penulis. Salah satu yang harus diperhatikan dalam penulisan APA Style adalah huruf kapital pada judul buku/artikel hanya ditulis di bagian awal kalimat saja. Selain itu, penulisannya menggunakan 1 spasi.
Format penulisan daftar pustaka APA Style jika sumbernya berasal dari buku adalah: Nama belakang, inisial nama depan. Tahun terbit. Judul buku. Penerbit.
Contoh: Kusrianto, Adi. 2007. Pengantar desain komunikasi visual. Andi Publisher.
Jika sumbernya dari jurnal, format penulisannya tidak jauh berbeda, yaitu: Nama belakang, inisial nama depan. (Tahun terbit). Judul artikel. Nama Jurnal, volume (nomor/issue). Halaman. URL/DOI.
Contoh: Putri, A. R. (2024). Media sosial dan perilaku komunikasi generasi muda. Jurnal Komunikasi, 12(2), 100–115.
Menulis daftar pustaka dengan Harvard Style
Penulisan daftar pustaka atau sitasi Harvard Style muncul pertama kali pada tahun 1881. Kemunculannya bermula dari makalah zoologi karya Edward Laurens Mark, seorang profesor anatomi di Harvard University. Gaya ini baru mendapatkan pengakuan secara akademik pada 1903.
Dalam gaya ini, penekanannya ada pada nama penulis dan tanggal. Nama penulis dan tahun publikasi menjadi bagian penting dalam sitasi. Penulisan daftar pustakanya ditulis dengan 1 spasi. Secara umum, format penulisannya jika sumbernya berasal dari buku adalah: Nama belakang, Inisial nama depan, (Tahun), Judul buku, Kota: Penerbit.
Contoh: Kusrianto, Adi, (2007), Pengantar desain komunikasi visual, Yogyakarta: Andi Publisher.
Jika sumbernya dari jurnal, format penulisannya tidak jauh berbeda, yaitu: Nama belakang, inisial nama depan. (Tahun) ‘Judul artikel’, Nama jurnal, volume(nomor), halaman.
Contoh: Putri, A. R. (2024) ‘Media sosial dan perilaku komunikasi generasi muda’, Jurnal Komunikasi, 12(2), pp. 100–115.
Perlu kita ketahui bahwa Harvard Style ini bisa berbeda-beda di masing-masing institusi. Hal ini dikarenakan gaya ini tidak memiliki panduan resmi seperti APA Style. Setiap kampus/institusi bebas membuat panduan mereka sendiri berdasarkan gaya ini. Bahkan banyak yang mengombinasikannya dengan APA Style. Jadi, jangan heran jika contoh dan formatnya penulisan daftar pustakanya akan sedikit berbeda. Entah di penggunaan tanda baca, atau
Menulis daftar pustaka dengan MLA Style
MLA Style adalah format penulisan yang lahir dari organisasi Modern Language Association. Pada tahun 1951, organisasi ini menerbitkan sebuah panduan penulisan karya ilmiah di bidang bahasa dan sastra bertajuk The MLA Style Sheet. Hingga sekarang, MLA Style sudah punya edisi termutakhir, yaitu edisi kesembilan yang mengakomodasi sitasi di era digital.
Berbeda dengan kedua gaya sebelumnya yang penulisan tahunnya ada setelah nama, MLA Style meletakkan penulisan tahun di bagian belakang. Selain itu, penulisan judul buku atau artikel ditulis dengan huruf kapital tiap awal kata. Secara umum, format penulisannya jika sumbernya berasal dari buku adalah: Nama belakang, Nama depan. Judul Buku. Penerbit, Tahun.
Contoh: Kusrianto, Adi. Pengantar Desain Komunikasi Visual. Andi Publisher, 2007.
Sementara itu, jika sumbernya berasal dari jurnal, maka format penulisannya adalah: Nama Belakang, Nama Depan. “Judul Artikel.” Nama Jurnal, vol. (Volume), no. (Nomor/Isu), Tahun Publikasi, halaman.
Contoh: Putri, Andini R. “Media Sosial dan Perilaku Komunikasi Generasi Muda.” Jurnal Komunikasi, vol. 12, no. 2, 2024, pp. 100–115.
Gaya apa yang harus digunakan?
Tiga gaya beserta cara penulisan daftar pustaka di atas adalah tiga gaya paling populer di Indonesia. Mulai dari kampus hingga lembaga penelitian hampir semuanya memakai slaah satu atau paduan tiga gaya di atas. Sebenarnya masih ada banyak gaya seperti Chicago, Vancouver, atau ASA. Tapi gaya-gaya tersebut tidak terlalu, bahkan kalah populer di Indonesia ketimbang APA, Harvard, dan MLA.
Lalu pertanyaannya, gaya apa yang harus digunakan untuk menulis daftar pustaka? Terserah. Tidak ada satu gaya yang otomatis paling benar untuk semua karya ilmiah. Cara menulis daftar pustaka yang benar bergantung pada pedoman yang sudah ditetapkan oleh kampus, jurnal, dosen, atau lembaga terkait.
Kalau di dalam aturannya mengharuskan pakai APA Style, ya pakai APA Style. Begitu seterusnya. Asalkan jangan sampai mencampuadukkan semaunya sendiri. Mau pakai gaya apapun, setidaknya kita sudah sama-sama tahu bagaimana cara penulisan daftar pustaka sesuai gaya yang sering digunakan di Indonesia. Jadi, harusnya tidak ada masalah, ya.