ADVERTISEMENT

Masih Bingung Soal Boleh Tidaknya Mencukur Rambut Kemaluan? Begini Penjelasan dari Sisi Islam dan Kesehatan

Masih Bingung Soal Boleh Tidaknya Mencukur Rambut Kemaluan? Begini Penjelasan dari Sisi Islam dan Kesehatan

Rambut kemaluan boleh jadi merupakan salah satu bagian tubuh yang paling membingungkan. Bagian ini tidak terlihat oleh publik, penyebutannya juga macam-macam tergantung daerah. Persepsi orang terhadapnya juga macam-macam. Ada yang menganggapnya jorok dan mengganggu, ada juga yang menganggapnya seksi, bahkan jadi semacam daya tarik. Soal perawatannya pun berbeda masing-masing orang.

Soal beragamnya penyebutan dan persepsi tidak perlu kita bahas. Kita hanya perlu membahas soal perawatannya, sebab ini yang lebih menarik. Soal perawatan rambut kemaluan, orang-orang seperti terpecah antara boleh atau tidak boleh. Ada yang menganggap bahwa mencukur rambut kemaluan ini boleh, bahkan wajib dan harus rutin. Tapi ada juga yang mengatakan sebaliknya, bahwa biarkan rambut kemaluan tumbuh. Kalau risih, rapikan seperlunya, jangan dicukur.

Situasi ini bikin banyak orang, termasuk kita, menjadi bingung. Tapi kita tidak mau pergi dengan konklusi yang abu-abu. Kita perlu keputusan bulat. Mencukur rambut kemaluan itu boleh atau tidak? Maka dari itu, mari kita lihat dari dua sudut pandang: agama Islam dan kesehatan.

Hukum mencukur rambut kemaluan menurut Islam

Ada salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya Shahih Al Bukhari. Hadits tersebut berbunyi: “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, Aku mendengar Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Fitrah itu ada lima: Bersunat, mencukur rambut kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.’”

Dari hadits ini sebenarnya sudah bisa kita ambil kesimpulan bahwa Islam menganjurkan untuk mencukur rambut kemaluan. Itu termasuk Sunnah. Bahkan para ulama berpendapat bahwa mencukur rambut kemaluan itu 40 hari sekali. Ini berdasarkan pada salah satu hadits riwayat Imam Muslim, di mana Anas bin Malik Radiyallahu Anhu dianjurkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam untuk memotong rambut kemaluan, kumis, serta kuku, dan tidak membiarkannya panjang selama lebih dari 40 malam.

Anjuran mencukur rambut kemaluan ini berlaku juga untuk laki-laki maupun perempuan. Anjurannya juga untuk mencukur habis. Namun, bukan berati kita tidak boleh mencukur tipis. Boleh-boleh saja, kok, tapi keutamaannya ya mencukur habis. Intinya, mencukur bulu kemaluan itu boleh banget dalam Islam. Santai saja, nggak perlu khawatir.

Manfaat sekaligus potensi risiko

Kalau melihatnya dari kacamata medis atau kesehatan, rambut kemaluan ini punya fungsi yang cukup penting. Keberadaannya vital banget untuk area vital. Rambut kemaluan bisa jadi pelindung dari gesekan, menangkal kuman, hingga mengatur kelembaban di area kemaluan. Lalu kalau kita mencukurnya bagaimana? Apakah boleh?

Tentu saja boleh. Boleh banget. Justru dengan mencukur rambut kemaluan, kita bisa “mengaktifkan” fungsi mereka dengan maksimal. Hanya saja, para dokter tidak menganjurkan kita untuk mencukur habis bulu kemaluan. Sebab mencukur habis bulu kemaluan punya beberapa risiko yang akan membahayakan kesehatan kulit di area kemaluan. Ada risiko iritasi, peradangan, luka, hingga adanya ingrown hair.

Makanya, para dokter menganjurkan kalau mau mencukur rambut kemaluan, jangan sampai habis. Cukur dan sisakan tipis saja rambutnya. Kalau masih belum berani, cukup dengan grooming atau memotongnya dengan gunting saja.

Tetap hati-hati…

Kita juga perlu berhati-hati dalam mencukur rambut kemaluan. Maksudnya, jangan asal cukur begitu saja. Kebersihan dan kesterilan juga harus kita perhatikan. Kalau mau mencukur, pastikan memakai alat cukur (pisau cukur atau gunting) yang bersih dan tajam. Gunakan juga krim atau gel cukur, supaya prosesnya halus dan tidak gampang luka.

Usahakan juga untuk mencukur rambut kemaluan searah dengan pertumbuhan rambut. Misalnya, rambut kemaluan kalian menghadap ke bawah, maka mencukurnya dari atas ke bawah, jangan sebaliknya. Kalau sudah beres, bilas dengan air hangat, lalu keringkan. Ingat, area tersebut adalah area vital, jadi lakukan dengan lembut, jangan grusa-grusu.

Islam dan kesehatan sama-sama memperbolehkan

Soal mencukur rambut kemaluan, baik Islam maupun medis/kesehatan punya pendapat yang sama. Keduanya sama-sama memperbolehkan untuk mencukur rambut kemaluan. Ya, walaupun secara ketentuan, keduanya punya pendapat berbeda. Tapi itu tidak menjadikan jadi salah satu yang paling benar. Toh, keduanya punya concern yang sama, yaitu soal kebersihan area vital.

Intinya, kalau mau mencukur bulu kemaluan, ya cukur saja. Kalau mau pakai patokan 40 hari seperti hadits Nabi, ya silakan. Tapi kalau tidak, atau kalau merasa dalam 40 hari masih aman dan belum perlu mencukur ya tidak apa-apa. Senyamannya saja, lha wong urusan rambut kemaluan ini urusan masing-masing, kok.

Iqbal AR

Penulis dan reporter lepas. Tinggal di Malang.