ADVERTISEMENT

Lima Olahraga Kalcer yang Sedang Digemari Anak Muda, dari Padel sampai Hyrox

Lima Olahraga Kalcer yang Sedang Digemari Anak Muda

Olahraga kalcer kini bukan cuma lari atau sepeda, hiking, padel, pilates, slow jogging, dan HYROX juga semakin populer menjadi pilihan kegiatan untuk mengisi kalender akhir pekan anak muda di Indonesia. Olahraga ini tidak hanya menawarkan kebugaran tapi juga lingkaran pertemanan baru serta validasi melalui media sosial..

Buka eksplor Instagram pada hari Sabtu atau Minggu dan foto sunrise dari puncak gunung bakalan memenuhi layarmu. Scroll ke bawah, ada teman kantormu sedang mereview raket padel yang baru saja dibeli. Di postingan yang lain, beberapa public figure sedang memamerkan betapa capeknya ikut HYROX. Kita melihat itu dan menyimpulkan, anak muda dari Jakarta sampai Surabaya sepertinya sudah pindah arena.

Olahraga kalcer merujuk pada aktivitas fisik yang membawa nilai gaya hidup. Kata kalcer berasal dari pelafalan gaul untuk culture, dan anak muda memakainya untuk menyebut hal yang sedang tren.

Olahraga-olahraga ini lahir dari keinginan generasi baru dari yang selalu haus akan pengalaman baru. Dibanding generasi sebelumnya yang gemar mengumpulkan materi, generasi baru ini cenderung mengumpulkan cerita, foto, dan lingkaran pertemanan.

Etalase Online Bernama Media Sosial

Media sosial memberi olahraga kalcer panggung yang luas. Seorang pendaki mengunggah foto sunrise di Gunung Prau. Teman dan bahkan orang lain yang tidak dia kenal bakal membanjiri kolom komentar dengan pertanyaan soal jalur dan biaya. Akibatnya, beberapa dari mereka ikut mendaki pada akhir pekan berikutnya.

Strava mencatat rute lari dan pendakian, lalu penggunanya membagikan tangkapan layar ke Story. Di sisi lain, TikTok memutar video persiapan menuju studio pilates lengkap dengan set baju olahraga. Instagram menyuguhkan foto-foto pertandingan padel yang kelihatan menyenangkan dan seru. Semua konten itu membuat kegiatan-kegiatan tersebut terlihat sangat menarik dan menggoda untuk ditiru.

Bola salju pun bergulir, makin banyak orang akhirnya ikut mencoba olahraga kalcer tersebut, bukan semata karena ingin berolahraga, tetapi juga karena ingin menjadi bagian dari tren yang sedang ramai di media sosial.

FOMO dan Validasi Teman Sebaya

Setiap suka dan komentar memberi dorongan kecil untuk mengulang aktivitas yang sama. Seorang pekerja di Jakarta melihat lima temannya bermain padel pada Sabtu sore, lalu ikut memesan lapangan.

Karena itu, banyak orang ikut memesan lapangan yang sama supaya tidak ketinggalan tren. Biaya yang dikeluarkan memang tinggi, namun sebagian orang rela membayar mahal demi pengalaman eksklusif yang bisa mereka pamerkan.

Lima Olahraga Kalcer yang Sedang Naik Daun

Kelima cabang berikut belakangan ramai menghiasi linimasa anak muda. Tak hanya menawarkan manfaat kesehatan, olahraga-olahraga ini juga hadir dengan bungkus gaya hidup, komunitas, dan media sosial yang membuatnya semakin menarik untuk dicoba.

Hiking

Olahraga ini merupakan kegiatan lama yang sukses bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Dahulu, hanya komunitas pecinta alam yang naik gunung. Kesan yang mereka bawa adalah usang, kotor, lengkap dengan ransel besar dan rambut gondrong. Kini media sosial mendorong popularitasnya.

Foto lautan awan dan video perjalanan di jalur pendakian yang rimbun membuat masyarakat luas, terutama generasi muda, ingin mencoba. Pendaki sekarang tidak lagi didominasi oleh mas-mas gondrong berkemeja flanel yang mukanya lusuh. Pendaki-pendaki kalcer dengan outfit mahal dan sporty kini banyak memenuhi jalur pendakian.

Hiking punya turunan bernama trail run, yaitu lari di jalur alam seperti hutan dan lereng gunung. Pendaki tradisional berjalan selama puluhan jam dengan beban berat sedangkan pelari trail membawa perlengkapan minimalis dan menyelesaikan jalur lebih cepat.

Berbagai macam event ikut mendorong kegiatan ini dengan race dalam berbagai pilihan jarak. Produsen apparel merilis sepatu dan tas hidrasi khusus jalur alam. Di media sosial, komunitas aktif berbagi rute dan catatan waktu.

Padel

Olahraga kalcer yang satu ini lahir di Meksiko dan kemudian berkembang di Spanyol. Padel memadukan tenis dan squash di lapangan yang lebih kecil, berdinding kaca, dengan raket tanpa senar. Berbeda dengan Tenis yang membutuhkan keterampilan khusus, bola Padel yang melaju lebih pelan memudahkan pemula dalam bermain sejak sesi pertama.

Di Indonesia, anak muda dan komunitas olahraga sosial menggemarinya, khususnya di Jakarta dan sekitarnya. Pekerja kantoran memesan lapangan setelah jam kerja dan mengajak teman atau kolega.

Tidak hanya itu, pemerintah juga ikut mendukung. Wamenpora Taufik Hidayat meresmikan Seven Padel pada 1 Desember 2024 dan menyatakan ingin lapangan padel tersedia merata di banyak kota.

Pilates

Pilates melatih otot inti dan fleksibilitas lewat gerakan yang terlihat seperti gabungan yoga dan senam. Adalah Joseph Pilates yang mengembangkan metode ini pada awal abad ke-20. Tanpa niat untuk menciptakan olahraga kalcer, pada awalnya Joseph merancang sebuah metode untuk merehabilitasi pasien rumah sakit yang tidak bisa bangun dari tempat tidur. Joseph memanfaatkan pegas dari tempat tidur rumah sakit untuk membantu pasien. Dari sinilah cikal bakal mesin Reformer dan Cadillac.

Kini, makin banyak kota punya studio pilates. Pekerja kantoran memilihnya sebagai alternatif gym konvensional karena intensitasnya yang lebih ringan dan diklaim bisa memperbaiki postur, sangat cocok bagi pekerja yang harus duduk delapan jam di depan laptop.

Slow Jogging

Hiroaki Tanaka, ilmuwan olahraga dari Universitas Fukuoka, mengembangkan metode lari pelan ini. Pelari memakai ritme santai dan langkah pendek, dengan kecepatan setara jalan cepat. Tanaka menyebutnya niko niko pace, tempo yang membuat pelari tetap bisa tersenyum.

Olahraga ini populer di kalangan mager yang merasa lari terlalu membebani kaki dan jantung. Dengan intensitas rendah, olahraga ini juga menjadi pilihan utama orang-orang yang sedang ingin memulai gaya hidup sehat.

HYROX

HYROX lahir di Hamburg, Jerman, pada 2017. Christian Toetzke, penyelenggara event lari massal, dan Moritz Fürste, peraih medali Olimpiade hoki, merancangnya dengan satu pertanyaan sederhana, kalau anak lari dan sepeda ada event lombanya, kenapa anak gym tidak ada?

Akhirnya HYROX lahir untuk menjawab hal itu. Event pertamanya diikuti 650 peserta. Balapan ini menggabungkan delapan lari sejauh satu kilometer dengan delapan stasiun latihan fungsional, seperti SkiErg dan sled push. Formatnya baku, sehingga peserta bisa membandingkan catatan waktu antarkota dan antarnegara.

Penyelenggara resmi sudah membawa HYROX ke Indonesia. AirAsia HYROX Jakarta pada 27 sampai 28 Juni 2026 menjadi balapan pertama di negara ini, dengan lokasi di Nusantara International Convention Exhibition, Tangerang.

Popularitas itu juga membawa sorotan yang tidak diinginkan. Pada 12 September 2026, atlet elite Australia Joanna Wietrzyk mengalami diare parah di tengah balapan Pro Women HYROX Beijing.

Tapi ia tetap melanjutkan lomba dan menang dengan waktu 1:01:23. Karena sirkuit tertutup memakai peralatan bergantian, banyak orang mempertanyakan risiko kontaminasi dan mengapa panitia tidak menariknya dari lomba. Kecaman dan hujatan mengalir deras terutama di media sosial.

Fürste akhirnya meminta maaf dan HYROX menawarkan pengembalian biaya pendaftaran bagi atlet terdampak. Buku aturan kini mengizinkan direktur lomba menarik atlet dari lintasan bila terlihat cairan tubuh yang berpotensi membahayakan kesehatan si atlet, peserta lain, dan memicu kontaminasi.

Cara Memulai Olahraga Kalcer Tanpa FOMO

Jika kamu tertarik dengan salah satu olahraga kalcer yang kita bahas di atas, coba dulu selama sebulan penuh. Kemudian, hitung kemampuan fisik diri sendiri dan tentu saja kemampuan dompetmu sebelum memutuskan apakah akan lanjut atau tidak. Kalau ternyata tidak cocok di badan dan di kantong, tidak perlu gengsi untuk mengakhiri.

Jika ternyata kamu menyukainya, cari komunitas yang saling mendukung dan sabar pada pemula. Baca juga cerita komunitas olahraga di kotamu untuk mencari teman latihan.

Suatu hari nanti, halaman eksplor Instagram bakalan dipenuhi olahraga kalcer yang lain. Sepatu hikingmu bisa saja kembali nganggur di rak, sementara raket padelmu cuma menjadi hiasan di dinding. Pada akhirnya, yang paling penting adalah kamu berolahraga karena memang menyukainya, bukan sekadar karena media sosial sedang ramai membicarakannya.

Terakhir diperbarui pada 12 Oktober 2026 oleh .

Armandoe Gary Ghaffuri

Sehari-hari menganalisis media, sisanya menulis cerita.