ADVERTISEMENT

Kebakaran Hutan di Indonesia Kerap Terjadi, Penyebabnya Manusia atau…?

penyebab kebakaran hutan

Penyebab kebakaran hutan di Indonesia paling banyak berasal dari aktivitas manusia, bukan semata-mata faktor alam. 

Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar masih menjadi salah satu pemicu utama karena dianggap lebih cepat dan murah. Masalahnya, saat musim kemarau tiba dan vegetasi dalam kondisi kering, api lebih mudah menyebar dan sulit dikendalikan. Kajian ilmiah juga menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) jarang terjadi murni karena faktor alam, sebab unsur kesengajaan maupun kelalaian manusia hampir selalu ikut berperan. 

Setiap Agustus sampai Oktober, media selalu ramai dengan berita kabut asap, sekolah diliburkan, dan penerbangan tertunda. Pola ini berulang bertahun-tahun, padahal kalau ditelusuri sampai akar masalahnya, penyebab kebakaran hutan sebenarnya cukup jelas dan sudah dikaji berkali-kali oleh lembaga resmi maupun peneliti independen.

Aktivitas Manusia Jadi Biang Keladi Utama

Pembukaan lahan dengan cara membakar tetap jadi praktik yang dipilih oleh segelintir petani dan perusahaan perkebunan. Alasannya karena lebih ringkas dan cepat. Membakar merupakan cara malas untuk membersihkan vegetasi sebelum lahan dipakai bercocok tanam atau berkebun. Tapi namanya juga api, kalau tidak diawasi dengan ketat, ia gampang banget merembet dan jadi petaka, terutama ketika cuaca sedang kering. BMKG punya kesimpulan senada soal siapa dalang utamanya. Lembaga itu menyebut ulah manusia sebagai faktor dominan di balik sebagian besar kejadian karhutla di tanah air.  

Petani skala kecil kerap membakar lahan karena cara ini jauh lebih murah dibandingkan menyewa alat berat untuk membersihkannya. Masalahnya muncul ketika lahan yang dibakar merupakan gambut. Lahan gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar dan api dapat merambat hingga ke lapisan bawah tanah, bukan hanya membakar permukaan. Api semacam ini juga sulit dipadamkan karena bisa terus membara di bawah tanah tanpa terlihat jelas dari permukaan.

Sektor perkebunan skala besar juga punya dosa terkait kebakaran. Industri sawit dan hutan tanaman industri turut mempercepat kerusakan ekosistem gambut, terutama melalui sistem drainase yang berlebihan. Kanal-kanal yang dibangun untuk mengeringkan gambut demi kepentingan perkebunan membuat lahan kehilangan kelembapannya dan menjadi lebih rentan terbakar. 

Alam Memperparah Kebakaran, tapi Bukan Penyebab Utamanya 

Musim kemarau panjang memang memperbesar risiko kebakaran, tetapi biasanya hanya menjadi pemicu tambahan, bukan penyebab utamanya. Fenomena El Nino, misalnya, dapat memperpanjang musim kering hingga tumbuhan kehilangan kelembapan dan lebih mudah terbakar. Saat El Nino terjadi, curah hujan turun drastis sehingga lahan gambut yang biasanya basah bisa berubah menjadi seperti tumpukan jerami kering yang siap jadi makanan api jika tidak dijaga. 

Sambaran petir juga masuk kategori penyebab alami, meski jarang jadi faktor tunggal. Petir yang mengenai pohon atau semak kering bisa memicu percikan api yang lantas merembet ke kawasan hutan lebih luas, dan risikonya makin tinggi saat suhu udara panas, hujan jarang turun, dan udara terasa kering. Tapi perlu digarisbawahi, faktor alam ini biasanya cuma jadi pemicu di atas kondisi lahan yang sudah dirusak manusia lewat drainase dan pembukaan lahan berulang. 

Contoh nyata terjadi di Kalimantan Barat sepanjang 2026. Kondisi kering yang meluas membuat api menyebar cepat ke banyak wilayah gambut. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat area terbakar di provinsi itu sejak Januari sampai Agustus 2026 sudah tembus 38.310 hektare lebih, angka yang berisiko memicu bencana asap di berbagai kabupaten dan kota sekitarnya. Angka ini menunjukkan betapa cepat kerusakan bisa meluas begitu kombinasi cuaca kering dan aktivitas manusia bertemu di satu titik. 

Data Menunjukkan Pola Penyebab Kebakaran Hutan yang Berulang Tiap Tahun

Kalau melihat tren angkanya dari tahun ke tahun, polanya cukup konsisten. Luas karhutla memang naik-turun mengikuti kondisi cuaca, tetapi satu hal yang tetap sama, manusia masih menjadi aktor penyebab kebakaran hutan. Catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan, lahan terbakar di Indonesia mencapai 354.582 hektare pada 2021, naik 19,4 persen dibandingkan 296.942 hektare pada tahun sebelumnya. Jika diakumulasikan sejak 2016 hingga 2021, total lahan yang terbakar bahkan mencapai 3,43 juta hektare. Rekor terburuk terjadi pada 2019, ketika luas lahan terbakar mencapai 1,6 juta hektare dan menjadi yang tertinggi dalam catatan tahunan. 

Angka terbaru pun tidak kalah mengkhawatirkan. Sistem Pemantauan Karhutla milik KLHK, yang turut dirujuk dalam laporan Global Assessment Report 2024 terbitan badan PBB untuk pengurangan risiko bencana, mencatat lahan terbakar di Indonesia pada 2023 mendekati 1,16 juta hektare, melonjak tajam dari tahun sebelumnya. Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan El Nino kuat yang melanda kawasan Asia Tenggara sepanjang tahun itu. 

Dampak karhutla juga tidak berhenti di lahan yang hangus. Emisi karbon yang dilepaskan ikut memperparah krisis iklim global. Data KLHK menyebut karhutla di seluruh Indonesia sepanjang Januari-Juli 2023 saja sudah melepaskan emisi karbon sekitar 9,60 juta ton. 

Karhutla Terus Berulang, Padahal Penyebabnya Bukan Misteri 

Kalau penyebabnya sudah jelas, kenapa kebakaran hutan tetap terjadi tiap tahun? Jawabannya ada di pola penanganan yang selalu reaktif, bukan preventif. Persoalan sesungguhnya bukan terletak pada seberapa cepat api dipadamkan, melainkan pada sistem pencegahan yang belum berjalan optimal, dan selama ini pola pikir yang berkembang cenderung baru bergerak setelah kebakaran terjadi. Pemerintah selalu fokus pada pemadaman daripada mencegah sejak awal. Penanganan serius baru muncul setelah asap mengepul, bukan sebelum titik api muncul. 

Pola pikir semacam ini membuat siklus karhutla terus berputar. Petani kecil tetap membakar lahan karena itu opsi termurah yang mereka tahu. Perusahaan tetap mempertahankan sistem drainase gambut karena mengubahnya butuh biaya besar. Sementara pengawasan di lapangan sering kalah cepat dibanding luasnya kawasan rawan kebakaran yang harus dipantau.

Melihat pola ini, jelas bahwa karhutla bukan sekadar musibah cuaca yang datang tiap kemarau. Ini soal kebiasaan, sistem insentif ekonomi, dan lemahnya penegakan aturan yang silang sengkarut dalam satu masalah besar. Selama akar persoalannya belum disentuh, asap akan terus jadi langganan setiap musim kemarau. 

Terakhir diperbarui pada 16 September 2026 oleh .

Armandoe Gary Ghaffuri

Bapak rumah tangga yang belum tertarik koleksi batu akik.

Exit mobile version