Seorang presiden tidak hanya memimpin negara melalui kebijakan, tetapi juga melalui kata-kata. Pidato, wawancara, konferensi pers, hingga unggahan di media sosial menjadi bagian penting dari cara seorang kepala negara membangun hubungan dengan masyarakat. Karena itu, gaya komunikasi presiden Indonesia menarik untuk dibedah dari masa ke masa.
Setiap presiden memiliki karakter komunikasi yang berbeda. Ada yang mengandalkan pidato berapi-api, ada yang lebih banyak menggunakan bahasa simbolik, ada yang spontan dan kontroversial, sementara yang lain memilih gaya verbal yang sederhana dan to the point. Perbedaan gaya komunikasi tersebut turut dipengaruhi oleh situasi politik, perkembangan media, latar belakang pribadi, serta hubungan antara pemerintah dan masyarakat.
Sebelum masuk ke masing-masing tokoh, ada baiknya kita paham dulu dua istilah yang bakal sering muncul di artikel yaitu high-context dan low-context. Teori komunikasi tersebut dicetuskan pertama kali oleh seorang antropolog Amerika Serikat, Edward T. Hall. Teori ini asli dari bidang komunikasi antarbudaya (intercultural communication), bukan teori komunikasi politik murni. Namun, konsepnya sering dipakai untuk menganalisis gaya komunikasi presiden Indonesia.
Secara sederhana, komunikasi high-context itu gaya bicara yang banyak mengandalkan konteks, isyarat, dan pemahaman bersama. Pesannya jarang diungkap secara gamblang; orang harus “membaca suasana” dulu supaya paham maksudnya.
Sebaliknya, komunikasi low-context lebih langsung dan eksplisit. Apa yang dikatakan hampir semuanya sudah ada di dalam kata-katanya sendiri, sehingga lebih mudah dipahami tanpa perlu banyak menebak.
1. Soekarno: Orator andalan yang bikin orang merinding
Soekarno memang juaranya soal pidato berapi-api. Dia bukan cuma ngomong, tapi benar-benar menjadikan pidato sebagai senjata untuk menggerakkan rakyat dan menyebarkan ide-ide politiknya. Gaya bicaranya sangat retoris, ekspresif, dan penuh muatan emosional sehingga tergolong sebagai low-context.
Soekarno adalah ahli dalam membangun suasana. Pilihan katanya sering memakai istilah-istilah kebangsaan, simbol perjuangan, pengulangan kalimat, dan kata-kata yang dirancang khusus untuk membakar semangat pendengar.
Kadang dia pakai diksi yang abstrak, kadang yang konkret, tapi semuanya diarahkan agar orang tidak hanya paham, tapi juga ikut merasakan dan terbawa suasana. Intinya, Soekarno ingin rakyatnya tidak cuma mendengar, tapi ikut “merasakan” apa yang dia sampaikan.
2. Soeharto: Tenang, formal, dan suka ngomong lewat simbol
Soeharto adalah kebalikan total dari Soekarno. Kalau Soekarno ekspresif dan emosional, Soeharto justru tenang, formal, dan agak berjarak.
Dalam pidatonya, kita banyak menemukan kata-kata abstrak, denotatif, dan repetisi atau paralelisme. Pesannya jarang sekali disampaikan secara gamblang. Makna seringkali harus “dibaca” lewat konteks politik, pilihan kata, dan struktur kalimatnya. Makanya gaya komunikasinya tergolong sebagai high-context yang implisit, konotatif, dan relatif sulit dipahami kalau tidak memperhatikan situasi politik saat itu.
Gaya komunikasi presiden Indonesia yang seperti ini cocok banget dengan karakter pemerintahan Orde Baru yang sangat terstruktur dan kaku. Presiden tidak perlu selalu tampil sebagai orator yang membakar emosi massa. Otoritas justru dibangun lewat ketenangan, formalitas, dan kontrol yang ketat terhadap pesan publik.
3. B.J. Habibie: Teknokrat yang suka menjelaskan secara teknis
Habibie muncul di masa transisi setelah jatuhnya Orde Baru. Saat itu masyarakat baru memasuki era Reformasi, media jauh lebih bebas, dan ruang publik semakin terbuka.
Latar belakangnya sebagai teknokrat sangat terasa dalam cara berbicaranya. Dia lebih nyaman menjelaskan sesuatu secara rasional dan teknis. Habibie termasuk tipe low-context yang cenderung menyampaikan pesan secara lebih eksplisit dan langsung.
Tapi tantangannya bukan sekadar cara berbicara. Dia harus membangun komunikasi politik di tengah situasi transisi yang penuh ketidakpastian. Pemerintahan Habibie sempat kesulitan meyakinkan publik dan parlemen terkait sejumlah kebijakan kontroversial, termasuk referendum Timor Timur. Jadi, meskipun dia berbicara secara terbuka, ternyata itu belum tentu cukup ketika publik sedang mengalami perubahan politik yang sangat besar.
4. Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Spontan, humoris, dan suka bikin heboh
Dari semua gaya komunikasi presiden Indonesia, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur membawa warna yang benar-benar berbeda dalam komunikasi kepresidenan. Dia dikenal spontan, santai, dan sangat gemar menggunakan humor. Lelucon dan celetukan bahkan jadi ciri khasnya, termasuk ketika membahas persoalan politik yang serius.
Kadang dia bisa bicara dengan bahasa yang sederhana dan diselingi humor, tapi di kesempatan lain dia melontarkan pernyataan yang multitafsir atau kontroversial. Retorikanya memang sering menimbulkan polemik, tapi sejumlah pernyataannya juga bisa dipahami sebagai cara menyampaikan kritik atau pesan politik secara tidak langsung.
Secara keseluruhan, gaya komunikasinya lebih condong ke low-context yang terbuka, cair, dan mudah diakses, meskipun sesekali masih menyimpan lapisan makna yang perlu ditafsirkan.
Gaya ini membuat komunikasi Gus Dur terasa lebih cair dan dekat dengan masyarakat. Dia tidak terlalu terikat pada gaya bahasa kepresidenan yang kaku dan formal. Humor membuatnya tampil sebagai presiden yang manusiawi dan santai. Tapi spontanitas yang sama juga membuat beberapa pernyataannya mudah menimbulkan tafsir berbeda dan memicu polemik.
5. Megawati Soekarnoputri: Formal, serius, dan hemat omongan
Megawati Soekarnoputri punya gaya yang cukup berbeda dari Gus Dur. Dia lebih formal, serius, dan relatif hemat dalam berkomunikasi kepada media. Gaya komunikasinya cenderung high-context.
Dalam pidatonya, dia sering memakai bahasa resmi, nada serius dan bertenaga, repetisi, pertanyaan retoris, metafora, serta sesekali humor ketika menyapa audiens.
Gaya Megawati memperlihatkan bahwa gaya komunikasi presiden Indonesia tidak selalu harus lewat frekuensi bicara yang tinggi. Diam, komentar pendek, dan pemilihan momen berbicara juga merupakan bagian dari strategi komunikasi seorang pemimpin.
6. Susilo Bambang Yudhoyono: Rapi, diplomatis, dan suka menjelaskan panjang-panjang
Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY membawa gaya komunikasi yang lebih terstruktur. Latar belakang militernya berpadu dengan gaya bahasa yang panjang, sistematis, dan formal.
Dia cenderung memiliki gaya bicara yang teratur, agak kaku, dan sering menggunakan istilah yang panjang. Gaya komunikasinya bersifat normatif membuat SBY condong ke high-context. Dia menggunakan pilihan kata, struktur kalimat, dan majas untuk menjelaskan kondisi yang dihadapi masyarakat.
Karena itu, komunikasi SBY sering terasa seperti penjelasan panjang yang berusaha memberikan konteks dulu sebelum sampai pada kesimpulan. Dia tidak selalu mengejar efek spontan, tapi lebih mengutamakan kelengkapan pesan dan kesan formal.
7. Joko Widodo: Sederhana, langsung, dan kuat di visual
Joko Widodo mengubah gaya komunikasi presiden Indonesia menjadi lebih sederhana, membumi, dan ceplas-ceplos. Bahasa yang digunakan cenderung mudah dipahami dan dekat dengan percakapan sehari-hari. Gaya komunikasinya termasuk low-context.
Selain kata-kata, Jokowi sangat kuat dalam komunikasi visual. Melalui kunjungan lapangan, blusukan, dokumentasi aktivitas, hingga penggunaan media sosial Jokowi ingin menampilkan kesan dekat dengan masyarakat tanpa harus panjang lebar berbicara atau berpidato. Jadi pesan politik tidak hanya disampaikan lewat pidato, tapi juga lewat citra sosok presiden yang hadir langsung di tengah masyarakat.
8. Prabowo Subianto: Tegas, asertif, tapi bisa cair
Prabowo Subianto memperlihatkan perpaduan antara komunikasi formal seorang kepala negara dan karakter spontan yang sudah melekat pada dirinya sejak sebelum menjadi presiden.
Dalam pidato-pidatonya, muncul dominasi gaya komunikasi yang tegas dan dinamis, tapi juga ada unsur yang lebih kasual. Setelah menjadi presiden, dia terasa lebih komunikatif, informal, dan humoris. Secara keseluruhan, gaya komunikasinya lebih condong ke low-context.
Komunikasinya cenderung asertif, dengan bahasa yang lugas, disertai empati, serta kombinasi unsur verbal dan nonverbal untuk membangun kedekatan dengan audiens.
Kesimpulan
Jika ditarik sebagai garis besar, gaya komunikasi presiden Indonesia bergerak mengikuti perubahan zaman. Mulai dari orasi massa Soekarno, komunikasi simbolik Soeharto, keterbukaan transisi Reformasi, spontanitas Gus Dur, kehati-hatian Megawati, penjelasan panjang SBY, kesederhanaan Jokowi, hingga gaya tegas sekaligus informal Prabowo.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa komunikasi kepresidenan bukan sesuatu yang statis. Cara seorang presiden berbicara selalu berhubungan dengan karakter personal, situasi politik, teknologi media, dan ekspektasi masyarakat pada zamannya.