ADVERTISEMENT

Popularitas dan Fakta Menarik Indomie, Kenaikan Harganya Seakan Jadi Penanda Rezim di Indonesia

Bentuk bungkus Mi Segera a.k.a. Mie Instan Indomie berbagai rasa, kemasan untuk negara Malaysia.

Indomie adalah merek mi instan paling populer di Indonesia saat ini. Sudah bertahun-tahun Indomie merajai dunia mi instan. Indomie juga bukan sekadar mi instan yang akrab di meja makan orang Indonesia. Merek mi instan ini menyimpan perjalanan sejarah panjang, persaingan bisnis, perubahan daya beli masyarakat, hingga diplomasi gastronomi Indonesia ke dunia luar.

Sejarah panjang Indomie di Indonesia merentang selama lebih dari 50 tahun. Selama itu pula Indomie sudah mengalami dan merasakan banyak hal. Mulai dari menjadi salah satu pemain pertama di dunia mi instan Indonesia, hingga bagaimana kenaikan harganya jadi penanda rezim yang berkuasa. Semua sejarah panjang ini berawal dari satu nama: Djajadi Djaja.

ADVERTISEMENT

Lahir di tahun 1972 dari tangan Djajadi Djaja hingga berada di bawah Salim Group

Mi instan sebenarnya sudah masuk ke Indonesia pada akhir 60-an. Pemain pertamanya adalah merek Supermi, yang merupakan hasil kerja sama dengan perusahaan Jepang. Barulah pada 1972, Djajadi Djaja bersama rekan-rekannya (melalui PT. Sanmaru Food Manufacturing), menciptakan Indomie. Produk pertamanya adalah Indomie Kuah Rasa Kaldu Ayam.

Nama Indomie merupakan singkatan dari “Indonesia Mie”. Kehadirannya ikut meramaikan awal perkembangan industri mi instan yang mulai dikenal masyarakat Indonesia. Pada masa itu, mi instan belum langsung diterima sebagai makanan sehari-hari. Sebagian masyarakat masih meragukan apakah produk tersebut bisa menjadi alternatif pangan pokok. Namun, perlahan masyarakat bisa menerima mi instan sebagai salah satu pilihan makanan pokok.

Selama sepuluh tahun pertama, Indomie berhasil menancapkan namanya jadi salah satu pemain penting di dunia mi instan Indonesia. Setelah sukses dengan Indomie Kuah Rasa Kaldu Ayam, mereka merilis varian baru yaitu Indomie Kuah Rasa Kari Ayam pada 1982. Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1983, Indomie merilis varian yang nantinya akan jadi andalan mereka, yaitu Indomie Mie Goreng.

Perjalanan Indomie mengalami fase penting dalam perjalanannya pada pertengahan dekade 80-an. Tahun 1984, Djajadi Djaja dan Salim Group membentuk joint venture dengan nama PT. Indofood Interna Corporation. Ini jadi tahap pertama pergantian kepemilikan dari Djajadi Djaja ke Salim Group. Baru pada tahun 1986 Salim Group melalui PT. Indofood Interna Corporation mengakuisisi Indomie secara penuh, dan pada awal 90-an, Indofood resmi berada di bawah naungan PT. Indofood Sukses Makmur.

Kiprah dan popularitas Indomie di dunia internasional

Nama Indomie sebenarnya sudah mulai merambah ke dunia internasional sebelum berada di bawah naungan Salim Group. Awal dekade 80-an, Indomie sudah mengekspor produk-produknya ke beberapa negara seperti Malaysia, Brunei, Singapura, dan beberapa negara di luar Asia Tenggara.

Ekspansi Indomie di luar negeri semakin meluas semenjak berada di bawah Salim Group. Indomie tidak hanya mengekspor produknya, Indomie bahkan mendirikan pabriknya sendiri di beberapa negara lain. Indomie mendirikan pabrik di Arab Saudi pada 1992, di Afrika pada 1995, lalu di Turki pada 2014 dan Serbia pada 2016.

Keberadaan pabrik di luar negeri jadi alasan mengapa produk Indomie sangat populer di dunia internasional. Saat ini, Indomie sudah tersedia di 100 negara di seluruh dunia, mulai dari Asia, Australia, Eropa, Afrika, hingga Amerika Utara. Produksi per tahunnya sudah menyentuh lebih dari 19 miliar bungkus per tahunnya.

Nunuk Nuraini, sosok di balik resep legendaris Indomie

Melihat kesuksesan Indomie, banyak orang yang bertanya-tanya tentang siapa sosok di balik kesuksesan ini. Nama Djajadi Djaja dan para petinggi Salim Group sebagai pencetus serta pemilik Indomie tentu jadi sosok yang punya peran penting. Namun, sorotan utama justru tertuju pada Nunuk Nuraini, orang di balik resep-resep legendaris Indomie.

ADVERTISEMENT

Nunuk Nuraini adalah seorang ilmuwan pangan yang menjabat sebagai Manajer Pengembangan Rasa Indofood selama 3 dekade. Nunuk bertanggung jawab menciptakan dan meracik bumbu-bumbu Indomie, dan mi instan di bawah Indofood (Sarimi dan Supermi). Berkat keahliannya, berbagai racikan bumbu Indomie berkembang dan menjadi bagian dari identitas rasa yang dikenal masyarakat Indonesia. Salah satu penemuan terbesarnya adalah Indomie Mie Goreng yang lahir pada 1983.

Sayangnya, Nunuk Nuraini meninggal dunia pada awal 2021. Meninggalnya Nunuk menjadi duka tersendiri bagi masyarakat. Jasanya yang besar, menciptakan resep legendaris Indomie, tentu akan dikenang sepanjang masa.

Kenaikan harganya seakan jadi penanda rezim

Kita tidak bisa membicarakan Indomie tanpa membicarakan kenaikan harganya dari masa ke masa. Sebab kenaikan harga Indomie ini bukan hanya jadi penanda inflasi saja. Kenaikan harga Indomie juga jadi semacam penanda rezim yang berkuasa. Momen naiknya harga Indomie itu seakan terjadi di waktu-waktu yang bergejolak, baik untuk masyarakat maupun untuk rezim.

Di awal kemunculannya, harga satu bungkus Indomie hanya sekitar 150 rupiah saja. Harganya naik pada dekade 90-an jadi sekitar 500 rupiah per bungkus. Saat Indonesia mengalami krisis moneter sekitar tahun 1998-2001, harga Indomie justru mengalami penurunan. Entah karena adanya subsidi atau bagaimana, harga sebungkus Indomie hanya 250-500 rupiah saja.

Harga Indomie baru kembali naik ketika krisis moneter selesai dan orde baru tumbang. Rezim berganti, begitupun harga Indomie. Setelah krisis moneter reda sampai sekitar tahun 2011, harga Indomie masih ada di kisaran 1000-1500 rupiah. Harga sebungkus Indomie terus naik menjadi 2000 rupiah pada tahun 2016, hingga menjadi 2500 rupiah pada tahun 2018-2019. Lalu pada tahun 2020-2025, harganya naik sedikit menjadi kisaran 2500-3500. Barulah pada tahun 2026, harganya sudah menyentuh 4000 rupiah.

Dari sejarah kenaikan harganya, kita bisa lihat bagaimana harga Indomie jadi penanda rezim. Indomie lahir pada era Orde Baru, ketika pemerintah mendorong diversifikasi pangan dan penggunaan terigu. Makanya harga sebungkusnya masih murah. Transisi rezim dari orde baru ke reformasi tidak hanya ditandai dengan krisis moneter, tapi juga ditandai oleh turunnya harga Indomie.

Setelah krisis moneter reda, harga Indomie kembali naik perlahan. Mulai dari rezim SBY, Jokowi, sampai Prabowo, harga Indomie naik dari harga sekitar 1000 rupiah hingga sekarang ada yang menyentuh harga 4000 rupiah.

Indomie dan sejarah panjang alternatif pangan Indonesia

Indomie memang bukan termasuk pangan lokal atau tradisional Indonesia. Posisinya tidak seperti gudeg dan rawon. Meski begitu, Indomie tetap tidak bisa dipisahkan dari bagian sejarah pangan Indonesia. Sebab Indomie tidak hanya berhasil menjadi salah satu alternatif makanan pokok di Indonesia. Indomie juga berhasil menjadi semacam alat diplomasi (soft power) di dunia luar. Terbukti dari bagaimana popularitasnya di berbagai negara.

Melihat bagaimana perjalanan panjangnya, rasanya kita juga perlu menaruh hormat pada Indomie. Indomie memang bukan pionir atau pemain pertama mi instan di Indonesia. Namun, Indomie bisa tumbuh menjadi yang merek mi instan terbaik, terpopuler, dan tentunya tersukses sampai saat ini. Sejarah perjalanan Indomie ternyata jauh lebih panjang daripada waktu memasaknya.

Iqbal AR

Penulis dan reporter lepas. Tinggal di Malang.