ADVERTISEMENT

Mengenal Aksi #CuekinBuzzer untuk Melawan Narasi dan Menjaga Algoritma Media Sosial

windah basudara serukan gerakan cuekin buzzer untuk menjaga algoritma

Streamer dan YouTuber Windah Basudara menyerukan gerakan Cuekin Buzzer kepada warganet Indonesia. Gerakan ini bertujuan untuk mengajak publik berhenti memberi interaksi apa pun kepada akun buzzer. Interaksi itu kemudian dialihkan kepada konten yang menyuarakan kepentingan rakyat. Seruan tersebut ia unggah melalui Instagram pada 5 November 2026 dengan tajuk “Belajar dari Brasil”.

Belum ada 24 jam, postingan Windah ini sudah menembus 424 ribu like dan 139 ribu repost. Windah juga menggandeng beberapa streamer seperti Reza Auditore, Luthfi Halimawan, dan Jefri Nichol. Respons warganet terbelah antara mendukung dan mempertanyakan.

ADVERTISEMENT

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Windah Basudara (@windahbasudara)

Yang menarik, seruan ini adalah perubahan taktik. Beberapa hari sebelumnya, Windah masih memakai cara sebaliknya: menyerang balik dan mengajak pengikutnya melakukan rumbling. Namun, lewat gerakan ini, ia berakhir meminta pengikutnya berhenti meladeni sama sekali.

Apa Itu Gerakan Cuekin Buzzer?

Gerakan Cuekin Buzzer adalah strategi kolektif untuk melemahkan buzzer lewat cara kerja algoritma media sosial. Buzzer adalah akun atau jaringan akun yang menyebarkan narasi tertentu secara terkoordinasi. Tujuan mereka memenangkan permainan algoritma agar kontennya menjangkau pengguna awam.

Selama ini, banyak warganet melawan buzzer dengan membalas dan berdebat. Menurut logika gerakan ini, cara itu justru keliru. Algoritma tidak membedakan komentar dukungan dan komentar kemarahan. Keduanya sama-sama tercatat sebagai interaksi, dan interaksi membuat konten makin tersebar.

Nama gerakannya merujuk pada pengalaman Brasil. Istilah Janonismo berasal dari buku Janonismo Cultural yang ditulis politikus Brasil, Andre Janones, pada 2023. Janones adalah anggota Kongres dari Minas Gerais. Metodenya memiliki tiga front: mengalihkan perhatian lawan, memenangkan suara lewat pembicaraan soal kehidupan nyata, dan mobilisasi pendukung.

ADVERTISEMENT

Metode itu diuji dalam Pemilihan Umum Brasil 2026. Calon yang didukung Janones, Lula, kalah pada putaran pertama dari Flavio Bolsonaro. Di sela dua putaran, Janones mengubah kanal WhatsApp miliknya menjadi markas mobilisasi bernama Exercito do Lula. Pengikut kanal itu melonjak dari sekitar 50 ribu orang pada 5 Oktober menjadi 10,9 juta orang dalam waktu sekitar tiga minggu. Isinya adalah misi harian yang harus dijalankan para pendukung. Pada putaran kedua, 25 Oktober 2026, Lula berbalik menang dengan 51,79 persen suara.

Kemenangan itu membuat strategi Janones terkenal sebagai pembalik keadaan. Namun, catatan jujurnya perlu disampaikan. Sampai saat ini, belum ada data yang bisa memastikan seberapa besar pengaruh kanal tersebut terhadap hasil suara. Yang terbukti adalah pertumbuhannya yang luar biasa cepat, bukan peran pastinya dalam kemenangan Lula.

Cara Ikut Gerakan Cuekin Buzzer

Tentunya gerakan ini tak butuh modal. Cuma butuh prinsip. Prinsipnya satu: algoritma menyebarkan konten yang ramai disentuh orang. Maka perlawanannya adalah menahan sentuhan itu secara serentak, dan memindahkannya ke konten lain.

  1. Pertama, berhenti sejenak setiap menemukan unggahan yang memancing emosi. Konten buzzer memang dirancang untuk memancing kemarahan dan perdebatan. Begitu kita terpancing, kita sudah masuk ke permainan mereka. Kita terpancing, kita kalah.
  2. Kedua, lewati unggahan itu tanpa menyentuh tombol apa pun. Jangan memberi like, jangan berkomentar, dan jangan membagikannya. Bahkan berhenti menonton pun sebaiknya dihindari, karena tontonan terhitung sebagai interaksi. Menggulir lewat tanpa berhenti adalah bentuk perlawanan paling dasar dalam gerakan ini.
  3. Ketiga, jangan menangkap layar unggahan buzzer untuk dibalas. Menangkap layar hanya akan mengundang warganet lain yang penasaran dan memancing untuk “bersilaturahmi”. Rasa penasaran itu membuat orang membuka akun aslinya, dan kunjungan tersebut terhitung sebagai interaksi.
  4. Keempat, jangan membagikan tautan unggahan buzzer ke grup dengan alasan apa pun. Membagikan tautan untuk bahan hujatan tetap saja memperluas jangkauan mereka. Jangan pula melaporkan akun secara sembarangan, sebab kebanyakan akun buzzer tidak melanggar aturan platform.
  5. Kelima, soal memblokir, ada dua versi yang perlu diketahui. Materi Windah memasukkan blokir ke daftar tindakan yang boleh dilakukan. Namun, manual Janonismo dari Brasil justru menyarankan sebaliknya. Alasannya, memblokir hanya memberi tahu algoritma bahwa kita tidak bisa melihat konten itu. Sedangkan menggulir lewat tanpa interaksi memberi sinyal bahwa konten itu tidak relevan. Sinyal kedua itulah yang dianggap lebih mematikan jangkauannya.
  6. Keenam, alihkan interaksi yang tadi ditahan kepada konten pro-rakyat. Beri like dan komentar pada unggahan berbasis fakta soal kepentingan publik, misalnya kebakaran hutan dan lahan atau dampak kebijakan pemerintah. Simpan unggahannya, tonton videonya sampai selesai, lalu bagikan ulang dan sebarkan tautannya ke grup-grup. Menurut materi gerakan ini, interaksi paling berdampak adalah yang diberikan pada 15 menit pertama setelah sebuah konten diunggah.
  7. Ketujuh, ajak orang-orang terdekat melakukan hal yang sama. Gerakan ini tidak akan terasa hasilnya kalau dijalankan sendirian. Algoritma membaca perilaku kerumunan, jadi kekompakan adalah bahan bakar utamanya. Dan kalau lelah, berhenti dulu tidak dilarang. Tidak semua unggahan harus dilawan, dan tidak ada kewajiban memelototi linimasa seharian.

Windah sendiri menyampaikan ajakan itu dengan kalimatnya sendiri di Instagram Story. “Yuk kita gerakan serentak. Simple, intinya cuekin gak ada penghitaman dan rumbling lagi. Tapi tetep like, share, repost konten-konten pro rakyat yang berdasarkan fakta. Letsgo komunitas gaming kompak,” tulisnya.

Bagaimana Mengenali Akun yang Diduga Buzzer?

Pertanyaan ini paling banyak muncul di kolom komentar unggahan Windah. Sayangnya, tidak ada alat yang bisa memastikan sebuah akun adalah buzzer bayaran. Yang ada hanya ciri-ciri yang lazim dijadikan tanda kecurigaan.

Ciri pertama, akunnya baru dibuat dan identitasnya tidak jelas. Foto profilnya kerap berupa gambar umum yang tidak meyakinkan. Jumlah akun yang diikuti jauh lebih banyak daripada pengikutnya. Ciri berikutnya, komentarnya seragam dan berbentuk template. Kalimat yang sama persis bisa ditemukan di banyak akun berbeda dalam waktu berdekatan. Aktivitasnya juga kerap muncul serentak dalam jumlah besar, dan isinya fokus membela atau menyerang satu tokoh yang sama.

Namun, ciri-ciri ini harus dipakai dengan hati-hati. Ciri adalah tanda untuk waspada, bukan alat untuk memvonis. Akun asli milik pendukung fanatik pun bisa tampak serupa. Di sinilah kritik terhadap gerakan ini menemukan dasarnya. Tanpa kehati-hatian, perbedaan pendapat bisa dengan mudah dicap sebagai buzzer, lalu dicuekin beramai-ramai. Gerakan mencuekin pun berisiko berubah menjadi alat membungkam kritik yang sah.

Berawal dari Windah yang Dituduh sebagai Buzzer

Seruan Cuekin Buzzer ini tidak secara tiba-tiba digagas oleh Windah. Pada Oktober lalu, Windah angkat bicara soal kebakaran hutan dan lahan. Alih-alih didukung, ia justru dituduh sebagai buzzer bayaran pihak tertentu. Tuduhan itu ia bantah dengan tegas. Ia memastikan tidak menerima uang dari siapa pun untuk bersuara.

Dalam siaran langsung pada 14 Oktober 2026, ia menyampaikan keprihatinannya secara terbuka. “Prihatin buat para korban dan malu sih, malu sama negara sendiri, malu sama pemerintah lebih tepatnya,” katanya. Ia juga menyindir barisan komentar yang menurutnya berpola template. Komentar-komentar itu mengaku sebagai penonton lama, padahal menurutnya tidak pernah menonton kontennya.

Respons awal Windah waktu itu adalah melawan secara terbuka. Pada akhir Oktober, ia membiayai para pembuat klip lewat komunitas discord Motion Klip dari kantongnya sendiri untuk menyebarkan dokumentasi aksi unjuk rasa. Pada 1 November, ia menyerukan rumbling terhadap seorang figur publik yang dianggapnya pro rezim. Kalimat “gak ada penghitaman dan rumbling lagi” di seruan Cuekin Buzzer menandai titik baliknya. Lima hari setelah menyerukan rumbling, ia memilih jalan yang berlawanan: diam yang terorganisasi.

Pengalaman dituduh itulah yang tampaknya mendorong seruan ini digagas. Seseorang yang bersuara soal isu publik bisa dengan mudah dicap buzzer. Cap itu kemudian dipakai untuk menyerang orangnya, bukan argumennya.

Pada akhirnya, gerakan Cuekin Buzzer adalah pengingat soal satu hal sederhana. Perhatian adalah mata uang di media sosial, dan setiap orang memegangnya. Algoritma hanya menyebarkan apa yang ramai disentuh publik. Kalau publik kompak menahan jempolnya dari konten provokatif dan memberikannya kepada konten yang berguna, peta penyebarannya ikut berubah. Gerakan ini mungkin tidak mengakhiri buzzer. Tetapi pastinya mengubah posisi warganet, dari mulanya penonton sumbu pendek, menjadi yang menentukan apa yang layak muncul di algoritmanya.

 

Terakhir diperbarui pada 6 November 2026 oleh .

Muhammad Ridhoi

Pemuda asli Nganjuk. Pernah berkuliah di Universitas Airlangga, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Suka mengulik teknologi digital, terkhusus Artificial Intelligence. Sering disebut Wibu dari hobi menonton anime.