Asal usul nama kampung di Jogja sebagian besar berakar pada tiga sumber yaitu nama bangsawan keraton, profesi abdi dalem, dan kelompok prajurit yang tinggal di sana. Nama lain lahir dari bentuk lahan, sumber air, atau lidah Jawa yang berusaha menirukan kata dalam bahasa Belanda.
Mungkin kamu sering melewati jembatan Kewek atau Klitren dalam perjalanan ke kampus atau kantor. Lalu sempat bertanya-tanya dalam hati, kenapa tempat tersebut dinamakan seperti itu. Nama tempat biasanya tidak muncul begitu saja, ia bisa saja menyimpan sejarah panjang yang sangat menarik untuk dikulik.
Toponimi, Ilmu yang Membaca Asal Usul Nama Tempat
Toponimi adalah ilmu yang mempelajari asal usul nama tempat. Kata ini berasal dari bahasa Yunani, “topos” yang berarti tempat dan “onyma” yang berarti nama. Ilmu ini menelusuri kenapa sebuah tempat dinamai seperti itu, entah dari bentuk lahan, tokoh yang tinggal di sana, atau peristiwa yang pernah terjadi.
Asal usul nama kampung di Jogja menarik karena keraton menata ruang kota dengan rapi. Bayangkan Jogja abad ke-19 sebagai sebuah kampus raksasa. Fakultas pandai besi tinggal di satu kawasan, fakultas penabuh gamelan berada di kawasan lain, dan fakultas prajurit ada di kawasan ketiga. Warga lalu menamai kampung menurut penghuninya. Kalau kamu makan gudeg di Wijilan, kamu duduk di kampung yang namanya berasal dari ndalem pangeran.
Kawasan Njeron Beteng, area di dalam benteng keraton, menyimpan contoh paling lengkap. Di Pameran Living Museum Njeron Beteng di Dalem Pakuningratan pada 30 dan 31 Agustus 2023, dijelaskan bahwa toponimi njeron Beteng mengikuti pola keahlian para abdi dalem yang tinggal di lokasi tersebut.
Pameran yang mengangkat tema Benteng Baluwerti keraton itu memberikan beberapa contoh, diantaranya adalah:
- Kenekan
Kenek merupakan asisten kusir dan duduk di belakang kereta keraton. Kampung ini masuk wilayah Kalurahan Panembahan.
- Pandean
Kampung yang dihuni oleh orang yang ahli menempa besi dan membuat peralatan darinya. Kampung ini masuk wilayah Kelurahan Panembahan.
- Bludiran
Kampung ini dihuni abdi dalem yang bertugas membuat dan memperbaiki busana keraton; nama kampung berasal dari kata Belanda borduuren, menyulam. Kampung ini masuk wilayah Kelurahan Panembahan.
- Musikanan
Kampung ini dihuni para pemain musik. Mereka memainkan musik Eropa untuk menyambut tamu resmi keraton. Kampung ini masuk wilayah Kelurahan Panembahan.
- Gamelan
Nah kalau kamu menebak kampung ini dihuni para pemain Gamelan, kamu salah. Tempat ini dihuni oleh abdi dalem Gamel yang bertugas mengurus dan merawat kuda-kuda milik Sultan. Kampung ini masuk wilayah Kelurahan Panembahan.
- Pesindenan
Merupakan kampung yang dihuni oleh para Sinden atau abdi dalem yang profesinya menyanyi atau nembang ketika ada pagelaran seni keraton. Kampung ini masuk wilayah Kelurahan Panembahan.
- Siliran
Nama ini diambil dari kata Silir, yang merupakan petugas yang mengurus lampu minyak keraton di masa sebelum ada listrik. Kampung ini masuk wilayah Kelurahan Panembahan.
- Sekullanggen
Merupakan tempat tinggal juru masak keraton. Mereka menyiapkan sekul langgi, atau nasi langgi, untuk keraton. Kampung ini masuk wilayah Kelurahan Panembahan.
Nama Kampung di Jogja dari Nama Bangsawan dan Prajurit yang Menetap
Jika kampung di dalam benteng banyak mengambil nama dari keahlian abdi dalem. Kampung-kampung berikut mengikuti pola lain. Nama mereka mengikuti pemilik ndalem, entah bangsawan, prajurit, atau pejabat keraton.
Kampung Kadipaten tumbuh di sekitar ndalem Adipati Anom, gelar untuk putra mahkota. Putra mahkota itu naik takhta sebagai Sultan Hamengku Buwono VII, lalu adiknya menempati ndalem tersebut. Orang menyebut kawasan itu juga sebagai Mangkubumen. Kampung Pakuningratan mengambil nama dari ndalem BPH Pakuningrat, suami putri sulung Sultan Hamengku Buwono VII. Nama pemilik rumah menjadi nama kawasan.
Ngadisuryan, Suryoputran, Panembahan, Mangunegaran, dan Wijilan mengikuti pola yang sama. Satu rumah bangsawan yang kemudian dikelilingi oleh rumah penduduk sehingga berkembang menjadi satu kampung.
Prajurit keraton juga meninggalkan nama sendiri. Langenastran dan Langenarjan menjadi tempat tinggal prajurit keraton, sedangkan Bugisan dan Daengan mengingatkan pada prajurit Bugis dan Makassar.
Lalu ada Mantrijeron yang dihuni oleh Prajurit Bregada Mantrijero. Nama itu berarti “mantri di dalam”, merujuk pada kedekatan mereka dengan keraton. Nama ini melekat sejak masa Sultan Hamengku Buwono IV, dan kawasan ini kini menjadi kemantren di selatan Kota Jogja.
Keseleo Lidah Jawa Melafalkan Bahasa Belanda
Sebagian nama tempat di Jogja punya akar dari bahasa Belanda. Pola penamaannya biasanya adalah keseleo lidah. Orang Jawa mendengar kata Belanda, lalu melafalkannya dengan lidah sendiri. Hasilnya nama yang terdengar Jawa, padahal asalnya jauh dari Jawa.
Beberapa nama tempat di Jogja juga ada yang berasal dari istilah Belanda. Klitren berasal dari kata Kulitrain. Krekop merujuk pada halaman gereja, dari kata church. Pathuk dikaitkan dengan Part Hook. Petinggen berarti tempat pejabat tinggi.
Kewek punya dua tafsir. Tafsir pertama menyebut Chat Weg dari bahasa Belanda. Tafsir kedua menyebut kata Jawa untuk perempuan genit.
Angka Yang Menjadi Nama Desa
Sebagian nama kampung di Jogja bahkan lahir dari angka. Contohnya Kampung Pitu di Nglanggeran, Gunungkidul, yang hanya dihuni oleh tujuh kepala keluarga. Pitu berarti tujuh dalam bahasa Jawa. Kampung itu berada di Pedukuhan Nglanggeran Wetan, Kapanewon Patuk.
Angka juga menyimpan cerita di desa-desa yang jauh dari keraton, terutama di Sleman dan Bantul. Desa Caturharjo di Kecamatan Pandak, Bantul, lahir dari penggabungan empat kalurahan lama yaitu Gluntung, Tunjungan, dan dua wilayah lain. “Catur” berarti empat, dan angka itu mengacu langsung pada jumlah kalurahan yang melebur jadi satu desa.
Pola yang sama berlaku di banyak nama desa berakhiran “harjo” di Sleman dan Bantul. Triharjo menandai penggabungan tiga wilayah, sedangkan Pandowoharjo mengambil kata “pandowo” dari Pandawa, tokoh pewayangan yang berjumlah lima bersaudara, untuk menandai lima wilayah yang bergabung.
Akhiran “harjo” sendiri berasal dari kata “harja”, yang berarti sejahtera atau makmur. Jadi nama desa seperti Caturharjo dan Pandowoharjo tidak hanya berasal dari angka semata namun juga harapan untuk bisa sejahtera setelah bersatu.
Di beberapa perkampungan yang jauh dari keraton, air menjadi sumber nama yang lebih umum. Kalitirto menggabungkan kata “kali” (sungai) dan “tirto” (air). Sumbertirto dan Tegaltirto memakai pola serupa, masing-masing menandai sumber air dan tegal atau ladang yang dekat dengan air.
Cara Menelusuri Nama Kampungmu
Kamu bisa menelusuri asal usul nama kampung di Jogja tanpa perpustakaan. Kajian toponimi lain di Indonesia mencatat bahwa warga kurang mengenal sejarah nama tempatnya sendiri.
Tanyakan pada penjual angkringan atau warga sepuh di tempatmu tinggal. Sebagian dari mereka menyimpan versi yang mungkin belum masuk jurnal mana pun. Toponimi bukan ilmu pasti, melainkan kumpulan ingatan yang diwariskan dari mulut ke mulut, lalu ditulis ulang oleh siapa pun yang sempat mendengarnya.
Selain nama kampung di Jogja, kamu juga perlu menelusuri kuliner terbaik di Kecamatan Ngaglik Sleman.