ADVERTISEMENT

10 Rekomendasi Buku untuk Memahami Seluk-Beluk Tragedi 1965 agar Tidak Termakan Propaganda

Bulan September masih menjadi bulan kelam bagi Indonesia. Kita menyebutnya September HItam. Rentetan kekerasan dan pelanggaran HAM berat banyak terjadi di bulan September. Termasuk apa yang terjadi pada akhir September 1965. Peristiwa itu kita kenal dengan sebutan G30S (Gerakan 30 September), atau Gestok (Gerakan Satu Oktober), seperti kata Soekarno.

Kejadian atau tragedi 1965 sampai sekarang masih kerap jadi perbincangan. Propagandanya masih cukup terasa kencang, salah satunya dengan masih adanya nobar film jelek “Pengkhianatan G30S/PKI.” Namun, usaha-usaha melawan propagandanya juga tidak padam, termasuk melalui buku-buku.

Ada banyak sekali buku, baik fiksi maupun nonfiksi, yang membahas peristiwa atau tragedi 1965 dari sudut pandang berbeda. Ada yang fokus pada Gerakan 30 September hingga 1 Oktober, ada yang membahas kekerasan massal setelahnya, kesaksian para korban, peran militer, hingga menariknya ke konteks Perang Dingin.

Daftar rekomendasi 10 buku tentang tragedi 1965

Dari sekian banyak buku tentang tragedi 1965 yang beredar, ada 10 buku yang bisa jadi rekomendasi untuk memahami secara menyeluruh mengenai tragedi 1965 dan apa-apa yang terjadi di sekitarnya. Berikut daftar rekomendasinya.

1. Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto – John Roosa

 

Buku Dalih Pembunuhan Massal ini merangkum dengan cukup lengkap berbagai versi tentang apa yang terjadi pada 1965. Buku ini jadi pengantar paling lengkap bagi siapa saja yang ingin mengetahui apa yang terjadi di 1965. Dalam buku ini, John Roosa tidak hanya menjelaskan secara menyeluruh soal apa yang terjadi tahun 1965. John Roosa juga membongkar beberapa narasi dan propaganda pemerintah yang selama ini tumbuh subur.

Salah satu argumen John Roosa dalam buku ini adalah apa yang terjadi pada 30 September atau 1 Oktober dinihari hanya layak disebut sebagai G30S saja. Unsur “PKI” seperti propaganda pemerintah, sangat layak diperdebatkan. Ya, tidak heran jika melihat buku ini sempat dilarang beredar di Indonesia pada tahun 2009 oleh Kejaksaan Agung.

2. Riwayat Terkubur: Kekerasan Antikomunis 1965-1966 di Indonesia – John Roosa

Berbeda dengan Dalih Pembunuhan Massal, buku Riwayat Terkubur adalah hasil karya John Roosa yang lebih mendalam soal 1965. Dalam buku ini, John Roosa membahas secara terperinci perihal pembantaian massal terhadap para anggota, simpatisan, dan siapapun yang dituduh PKI. John Roosa juga membahas kaitan antara militer dan paramiliter (pasukan ormas) dalam pembantaian itu.

Buku ini juga berisi hasil wawancara John Roosa dengan para korban yang selamat dari pembantaian tersebut mulai dari Riau, Sumatera Selatan, Jawa Tengah dan Bali. Buku ini jadi media yang tepat dan lengkap untuk memahami bagaimana kejahatan HAM yang terjadi pada 1965.

3. Metode Jakarta: Amerika Serikat, Pembantaian 1965, dan Dunia Global Kita Sekarang – Vincent Bevins

Vincent Bevins memaparkan tragedi pembantaian 1965 dari sudut pandang yang lebih luas dalam Metode Jakarta. Vincent Bevins menyoroti bagaimana peran Amerika Serikat dalam pembantaian tersebut. “Kesuksesan” Amerika dalam mendukung pembantaian dan naiknya rezim orde baru jadi cetak biru mereka dalam operasi-operasi serupa di Amerika Latin. Itulah mengapa istilah “Jakarta Method” atau Metode Jakarta muncul.

Buku Metode Jakarta yang laris banget ini bisa jadi cara memahami tragedi 1965 dari kacamata yang lebih luas. Apa yang terjadi pada 1965 tidak hanya karena militer (angkatan darat). Ada faktor campur tangan asing dan efek perang dingin yang saat itu memang sedang kencang-kencangnya.

4. Musim Menjagal: Sejarah Pembunuhan Massal di Indonesia 1965-1966 – Geoffrey Robinson

Buku Musim Menjagal ini fokus pada tragedi pembantaian massal yang terjadi pada 1965 sampai 1966. Dalam rentang waktu tersebut, setidaknya ada 500 ribu jiwa yang dibunuh dan dipenjara tanpa melalui proses pengadilan. Mereka diperlakukan seperti itu hanya karena dituduh sebagai simpatisan atau anggota PKI.

Dalam buku ini, Geoffrey Robinson punya argumen yang sangat menarik. Sejarawan dari University of California, Los Angeles (UCLA) mengatakan bahwa pembantaian orang yang dituduh PKI bukanlah bentuk kemarahan spontan dari rakyat. Pembantaian itu adalah operasi yang dirancang, di organisasi, dan digerakkan secara sistematis oleh elite militer TNI Angkatan Darat

5. Suara Perempuan Korban Tragedi ’65 – Ita F. Nadia

Buku ini menghadirkan kesaksian perempuan yang menjadi korban atau terdampak tragedi 1965. Ita F. Nadia menyoroti pengalaman perempuan yang kerap luput dari narasi sejarah tragedi 1965 arus utama, mulai dari penangkapan dan penahanan tanpa dasar yang jelas, hingga stigma sosial yang harus mereka hadapi setelahnya.

Lewat kesaksian para korban tersebut, kita sebagai pembaca bisa melihat bahwa dampak tragedi 1965 tidak berhenti pada peristiwa politik dan kekerasan fisik, tetapi juga meninggalkan persoalan sosial dan trauma yang berlangsung sangat panjang.

6. Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film – Wijaya Herlambang

Buku ini membahas bagaimana produk budaya, dalam hal ini sastra dan film, digunakan dalam membentuk wacana antikomunisme pada masa orde baru. Wijaya Herlambang melihat bagaimana produk budaya dapat berperan dalam membangun gambaran tertentu mengenai komunisme dan tragedi 1965 di tengah masyarakat.

Buku ini jadi sudut pandang yang menarik ketika bicara soal tragedi 1965. Buku ini memang tidak membahas apa yang terjadi di tahun 1965 secara terperinci. Tapi melalui buku ini, kita bisa tahu aftermath yang muncul pasca 1965.

7. Tahun yang Tak Pernah Berakhir: Mengalami Pengalaman Korban ’65 – John Roosa, Ayu Ratih, dan Hilmar Farid

Buku ini merupakan kumpulan esai yang menghadirkan pengalaman korban tragedi 1965. Isinya merekam pengalaman orang-orang yang mengalami penangkapan, penahanan, pembuangan, dan berbagai dampak politik pasca 1965. Jika kita yang ingin melihat bagaimana dampak dan pengaruh tragedi 1965 dalam kehidupan sehari-hari para korban, buku ini memberikan sudut pandang yang berbeda.

Sayangnya, buku yang diterbitkan ELSAM bersama Tim Relawan untuk Kemanusiaan dan Institut Sejarah Sosial Indonesia pada 2004 ini agak susah dicari.

8. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu – Pramoedya Ananta Toer

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu merupakan memoar atau kumpulan tulisan dan catatan Pramoedya Ananta Toer yang berkaitan dengan pengalaman hidupnya sebagai tahanan politik di Pulau Buru. Melalui catatan ini, Pram menggambarkan kehidupan para tahanan serta berbagai pengalaman yang mereka alami selama menjalani penahanan.

Buku yang saat ini mahal banget dan agak langka ini memberi perspektif langsung mengenai kehidupan orang-orang yang terdampak situasi politik pasca 1965. Dari buku ini pula kita tidak hanya bisa tahu bagaimana rezim orde baru memperlakukan para tahanan politik. Kita juga bisa tahu bagaimana permenungan Pram sebagai manusia saat masa tahanannya

9. Rumah dengan Pintu Biru – Tari Lang

Rumah dengan Pintu Biru adalah sebuah memoar yang ditulis oleh Tari Lang, anak dari Suwondo Budiardjo dan aktivis HAM, Carmel Budiardjo. Buku membawa kita para pembaca pada kisah keluarga dan ingatan Tari yang berkaitan dengan tragedi 1965. Soal bagaimana hidupnya di era orde lama, lalu ketika orang tuanya ditangkap tanpa pengadilan oleh orde baru, hingga harus menghidupi keluarganya sendiri.

Melalui cerita yang lebih personal, kita seakan diajak melihat 1965 bukan hanya sebagai peristiwa sejarah nasional, tetapi juga sebagai pengalaman yang dapat diwariskan melalui ingatan keluarga yang tetap melekat dan terus berpengaruh terhadap kehidupan generasi berikutnya.

10. Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari

Untuk ranah fiksi, novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah buku paling populer jika membahas masalah tragedi 1965. Novel yang mengambil latar masyarakat pedesaan ini menggambarkan dampak gejolak politik 1965 terhadap kehidupan masyarakat. Novel ini menceritakan kisah hidup Srintil, ronggeng dari dukuh Paruk, yang penuh dengan gejolak. Mulai dari persoalan ronggeng, hubungannya dengan Rasus, hingga bagaimana tragedi 1965 membuatnya terseret dalam pusaran tersebut.

Gaya penulisan Ahmad Tohari yang deskriptif dan sangat membumi, membuat novel ini sangat mudah dipahami. Novel ini bisa jadi pintu masuk yang halus bagi kita para pembaca yang ingin tahu soal tragedi 1965.

Jangan sampai termakan propaganda militer

Sepuluh buku di atas bukan hanya sebagai buku-buku untuk mengetahui apa yang terjadi pada tahun 1965 dan sekitarnya. Sepuluh buku di atas juga bisa menjadi semacam alat perlawanan terhadap propaganda tragedi 1965 yang selama ini digaungkan sejak rezim orde baru hingga sekarang. Harapannya, kita jangan sampai termakan propaganda seperti generasi sebelumnya.

Selain 10 buku di atas, masih banyak sekali buku-buku, baik itu fiksi maupun nonfiksi, yang membahas soal tragedi 1965. Tentu dengan berbagai macam sudut pandang. Namun, 10 buku di atas setidaknya sudah cukup untuk memberi dasaran pengetahuan mengenai apa yang sebenarnya terjadi saat itu.

Terakhir diperbarui pada 28 September 2026 oleh .

Iqbal AR

Penulis dan reporter lepas. Tinggal di Malang.

Exit mobile version