MOJOK.COPernah merasa perlu memikirkan berkali-kali karena saking takutnya salah ngomong hanya untuk nge-chat atasan? Kamu nggak sendirian.

Menjadi suatu hal yang mahfum kalau melihat di sekitar kita, jika ada orang dengan posisi lebih tinggi akan bersikap begitu bossy. Hal semacam ini cukup sering terjadi. Seseorang yang merasa punya status sosial dan/atau ekonomi lebih tinggi, sering merasa bisa menyuruh-nyuruh orang lain yang—kebetulan—jadi anak buahnya dengan seenaknya. Hingga terkadang, mereka disuruh untuk sesuatu yang bukan jadi kewajibannya.

Contohnya salah seorang tetangga saya yang punya bisnis laundry. Dengan berkembangnya bisnisnya ini, beliau akhirnya merekrut beberapa orang untuk membantu usahanya tersebut. Di awal sudah cukup jelas, kalau tugas pegawainya hanya yang berkaitan dengan pekerjaan mencuci, menjemur, menyetrika, dan membungkusnya hingga layak untuk diterima konsumen.

Tapi dengan berjalannya waktu, si pegawai ini juga ngurusin hal lain di luar aktivitas tersebut. Semacam, ya ikut bantuin masak, ya ikut bersih-bersih rumah, atau dimintai tolong untuk (((hal-hal yang dianggap kecil))) lainnya. Semua ini dilakukan tetangga saya dengan biasa-biasa saja, karena merasa dia telah membayar pegawainya itu.

Sikap-sikap merasa berkuasa atas orang lain karena merasa posisinya lebih tinggi, sebetulnya sudah terlalu menjengahkan. Apalagi yang terjadi di tengah-tengah birokrat kita. Ya, baik persinggungan masyarakat dengan birokrat. Maupun di dalam birokrat itu sendiri. Banyak orang yang merasa punya privilege akhirnya memilih bersikap sewenang-menang (ya, menang) dan merasa senang kalau ada orang lain yang tunduk padanya.

Jadi, saat muncul keluhan seorang budak birokrat yang menunjukkan komunikasi keseharian dengan atasannya semacam ini, menjadi cukup relevan bagi banyak orang.

 

Di situ tampak bagaimana si bawahan nge-chat atasan. Ketika atasan sering memberikan respons singkat untuk pesan panjang kita, seperti “tks”, itu bisa dipahami. Mereka sibuk dan punya banyak agenda. Begitu pula, ketika kita merasa tidak punya kuasa, lantas menjadikan obrolan jadi kaku dan hanya sanggup mengungkapkan hal-hal yang template semata. Sampai-sampai, hal tersebut disematkan menjadi starter pack ala birokrat.

Hubungan yang tidak setara, membuat kita yang berada di posisi bawahan merasa pekewuh kalau bersikap sok akrab dengan mereka. Bahkan, setiap kalimat yang akan disampaikan perlu dipikirkan berkali-kali. Kalau perlu, di-draft dulu sekalian biar bisa dicek dulu sebelum dikirim ke si bos.

Pasalnya, kalau nge-chat atasan dengan sok akrab kayak ke teman kita sendiri, bisa dianggap tidak sopan dan tidak tahu unggah-ungguh. Padahal kita semua juga tahu, yang namanya hubungan kerja ada relasi yang saling membutuhkan di dalamnya. Jadi, bukan lagi siapa membutuhkan siapa, toh?

Oleh karena itu, karena hubungan kerja yang sangat otoritatif ini menjadi biasa saja dan justru dilanggengkan, ketika ada seorang atasan yang bersikap humble ia bakal terlihat sangat wow! Dan menjadi idaman. Padahal, menjadi baik dan humble itu ya memang sudah seharusnya. Ia bukanlah suatu hal besar.

Bukankah kita memang diminta untuk menghargai orang lain selayaknya kita ingin dihargai? Bukankah ada yang namanya hak asasi manusia bahwa setiap orang punya derajat yang sama?

Eh, tapi maaf kalau salah dan sok tahu. Mohon arahannya *emot menangkupkan kedua telapak tangan*

BACA JUGA: 5 Ciri-Ciri Bucin Alias Budak Cinta: Romantis, tapi Nalarnya Tipis



Tirto.ID
Loading...

No more articles