Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Ketika Wisata Halal Juga Menyasar Sampai Pendakian Gunung Rinjani

Audian Laili oleh Audian Laili
22 Juni 2019
A A
wisata halal gunung rinjani MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Apa? Ada rencana pemisahan laki-laki dan perempuan untuk pendakian Gunung Rinjani, demi konsisten dengan konsep wisata halal? Ini beneran apa hoaks, sih?

Sebetulnya, saya masih belum paham-paham amat dengan konsep wisata halal yang tengah diseriusi sama pemerintah. Hanya saja, yang saya tahu, pemerintah lagi begitu bergembira karena tahun ini Indonesia dan Malaysia sama-sama menduduki posisi puncak sebagai destinasi wisata halal terbaik 2019 versi Global Muslim Travel Index atau GMTI. Wow! Sebuah target dari Kementerian Pariwisata untuk menjadi destinasi wisata halal terbaik dunia, akhirnya tercapai!!!

Iklan

Tidak hanya itu. Apalagi, saat ini ada 5 kota dari 10 destinasi wisata halal terbaik di dunia, berada di Indonesia. Di antaranya, Lombok, Aceh, Riau dan Kepulauan Riau, Jakarta, dan Sumatera Barat.

Pertama kali saya mendengar soal wisata halal ini, saya kira ini nggak jauh berbeda dengan wisata religi yang selama ini dilakukan dengan berwisata ke lokasi-lokasi religius. Seperti berwisata ke makam-makam Walisongo. Namun ternyata, ada perbedaan di antara keduanya. Jika wisata religi ini lebih mengedepankan soal sisi historis dan religiusitas. Sementara wisata halal, lebih mengedepankan aspek pelaku atau wisatawannya sendiri.

Menurut beberapa sumber, sebuah perjalanan wisata bisa dikatakan sebagai wisata halal, dengan beberapa indikator. Antara lain, tersedianya makanan halal yang bebas alkohol, daging babi, dan sejenisnya. Lalu, tersedianya fasilitas ibadah dan ada kamar mandi dengan air untuk wudhu. Selain itu, ada pelayanan khusus saat bulan Ramadan, semisal tersedia santapan berbuka dan sahur. Ada pula pencantuman label non-halal jika makanan tersebut tidak halal. Dan terakhir, fasilitas wisatanya menjaga privasi dan tidak bercampur baur secara bebas.

Indikator di atas, merupakan indokator paling sederhananya. Pasalnya, untuk dapat memenuhi standar internasional, masih ada indikator-indikator lain, salah satunya yang ramah untuk anak dan keluarga.

Lantaran Lombok menjadi salah destinasi wisata halal terbaik di dunia. Bahkan menempati posisi pertama sebagai destinasi wisata halal unggulan nasional. Maka, menjadi dapat dipahami kalau ghirah ini menyuara ke segala pelosok, hingga muncul wacana kalau Gunung Rinjani akan menjadi salah satu desninasi dari wisata halal ini. Bagaimana teknisnya? Yakni dengan memisahkan pendaki laki-laki dan perempuan.

Awalnya, saya kira betul-betul dipisah sejak dari jalur pendakian. Walah, kalau memang betul ini yang terjadi, lumayan susah juga, ya. Pasalnya, biasanya dalam tim pendakian, baik laki-laki maupun perempuan punya peran masing-masing. Yang sering terjadi, cuma seringnya, loh, ya. Laki-laki punya peran untuk membawa perlengkapan pendakian yang lebih berat—semisal menggotong tenda untuk digunakan bersama. Sementara yang perempuan, biasanya punya peran untuk mendokumentasikan. Fyi, jangan pernah sekali-kali sepelekan soal dokumentasi~

Ya, meski memang tidak selalu seperti itu. Kalau memang betul-betul dipisah saat mendaki, bisa saja dalam satu rombongan itu hanya terdiri dari dua perempuan dan tujuh laki-laki. Lah kalau dipisah, berarti nanti rombongan yang perempuan jadi kesepian, dong? Oke, bolehlah kalau memang saat itu ada rombongan pendaki yang lain, jadi masih ada temennya. Lha, kalau nggak ada?

Tapi ternyata, saya sendiri yang overthinking. Rencana wisata halal untuk dipisah ini bukan dimulai dari jalur pendakian. Namun, untuk pemisahan tendanya saja. Tapi tetap saja, kalau ini betul-betul dilakuin, sungguh smh. Bukankah Gunung Rinjani itu medannya berat banget, ya? Apa ya para pendaki ini bakal masih kepikiran buat ena-ena? Emangnya masih punya tenaga? Lha wong, untuk makan aja diatur sedemikian rupa biar nggak kekurangan tenaga hingga kembali di bawah nanti. Masak ya, kalorinya malah dipakai buat “hal-hal yang lain”?

Nah, setelah ada pro kontra selama beberapa hari mengenai hal ini, akhirnya Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani mengatakan, untuk saat ini rencana program tersebut tidak akan dilaksanakan. Pasalnya, bukan menjadi prioritas dari Balai Taman Nasional Gunung Rinjani.

Gimana, gimana? Lega? Atau malah menyesalkannya? Wqwqwq.

Iya, sih. Sudah betul itu, kalau rencana ini nggak perlu dijadiin prioritas, karena nggak berhubungan langsung dengan pelestarian alam Indonesia. Bukankah biasanya orang-orang yang lagi di tempat semacam gunung kayak gitu, akan bersikap dengan lebih beradab, ya. Pasalnya tahu dan paham, kalau tempat itu bukanlah tempatnya. Kita yang datang adalah tamu. Ada semesta lain yang tinggal di situ, sehingga kita tidak dapat bersikap semau-maunya.

Lagian ya, daripada ribet-ribet ngatur hal-hal semacam ini—hanya demi meningkatkan penilaian sebagai wisata halal terbaik. Bukankah lebih baik ngurusin untuk menemukan cara paling tepat dan jitu menumbuhkan kesadaran pendaki supaya membawa kembali sampahnya selama pendakian tersebut? ini masih jadi PR yang gueeede, loh. Apalagi sejak naik gunung menjadi sebuah gaya hidup supaya diaku sebagai anak indie yang cinta foto-foto berlatar belakang alam~

Oh ya, sekadar mengingatkan. Btw, itu gunung loh, Pak. Bukan gurun.

Terakhir diperbarui pada 23 Juni 2019 oleh

Tags: gunung rinjaniLombokwisata halal
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Konten Kreator Perjalanan dapat pelajaran hidup di Lombok. MOJOK.CO

Konten Kreator Perjalanan Nyaris Luntang-lantung karena Tak Punya Uang, Malah Menangis Saat Meninggalkan Lombok

21 Juli 2026
Vario 125 dan Suzuki Spin 125 Bikin Anakku Jadi Lebih Sabar MOJOK.CO

Dari Vario 125 ke Suzuki Spin 125: Misi Seorang Ayah Cari Motor Seken untuk Anak Bujang Magang di Lombok

21 Juli 2025
Gunung Rinjani Lombok Menuju Menjadi Gunung Sampah MOJOK.CO

Gunung Rinjani Lombok Tak Seindah yang Dibayangkan, Capek-Capek Mendaki Berujung Kekecewaan

7 Juni 2024
MotoGP di Sirkuit Mandalika Memang Balapan Jancok! MOJOK.CO

MotoGP di Sirkuit Mandalika Adalah Simulasi Neraka. Sebuah Pengalaman Menonton Balapan yang JANCOK Banget!

25 Oktober 2023
Pesona Rinjani, Gunung Terindah di Indonesia yang Ternodai (Ega Fansuri/Mojok.co)

Di Balik Pesona Rinjani, Gunung Terindah di Indonesia yang Ternodai

6 Agustus 2023
sepab bola di kaki gunung rinjani mojok.co

Menikmati Kegilaan Sepak Bola di Kaki Gunung Rinjani

31 Juli 2023
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Kenangan Honda Astrea Grand 1996 di Surabaya. MOJOK.CO

Astrea Grand 1996 Milik Bapak: Saksi Bisu Ketangguhan Orang Tua Saya, Kini Tetap Slay Menyibak Kemacetan Surabaya

27 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Shifana, pemain Timnas U-16 Indonesia dibayangi pemain Yordania, Alma Odai di pertandingan semifinal Srikandi Merdeka Cup 2026. Indonesia menang dengan skor 3-0 di laga semifinal, Jumat (21/8).

Timnas Putri U-16 Indonesia Bungkam Yordania 3-0, Thailand Menanti di Final Srikandi Merdeka Cup

22 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

Garuda Pertiwi Diredam Thailand di Final: Satu Langkah Mundur, Seribu Langkah ke Depan

24 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.