MOJOK.COPaket Premium Family milik Spotify memang hemat betul. Nggak aneh, kalau akhirnya banyak yang menggunakannya bebarengan meskipun bukan satu keluarga.

Perihal mendengarkan lagu, dulu kita harus bersandar pada lagu-lagu hasil download. Atau, kalau pengin lebih murah dan cepat, ya harus ngopi-ngopi dulu. Setiap ada lagu baru dan kita pengin lagu tersebut ada di hape kita, itu artinya kita harus melewati proses download atau ngopi yang nggak efektif tadi.

Akan tetapi, sejak adanya aplikasi-aplikasi semacam Spotify yang hadir dalam kehidupan kita, proses yang ribet itu tidak perlu lagi. Kita tinggal ngetik judul lagu yang kita pengin, ngeklik tombol play, dan lagu pun dapat langsung kita dengarkan saat itu juga—kalau akun kita ini premium alias berbayar.

Beda lagi kalau akun Spotify-nya gratisan. Ada biaya internet yang harus dibayarkan. Ada iklan yang sering bermunculan saat lagi dengerin lagu dengan syahdu-syahdunya. Selain itu, kalau aplikasi ini dibuka menggunakan hape, kita jadi nggak bebas mendengarkan lagu yang kita pengin. Semuanya diputar secara acak. Mirip kalau ndengerin lewat kaset tape. Bedanya, kalau kaset tape bisa dicepet-cepetin dengan memutar pita kasetnya, kalau di Spotify nggak bisa.

Maka dari itu, untuk kenyamanan dan anggapan lebih hemat, maka sebagian pengguna Spotify pun memilih yang premium. Paket yang premium sendiri ada dua, ada yang pribadi dan Family. Untuk paket pribadi dibebankan biaya Rp 49 ribu untuk pemakaian satu bulan. Sementara paket Family, biayanya Rp 79 ribu per bulan dan bisa dipakai untuk 6 akun sekaligus. Bagaimana? Lebih hemat paket yang kedua bukan?

Hadeeeh, malah jadi kayak sales promosinya Spotify~

Nah, karena paket Premium Family ini dihitung pakai rumus apa aja jelas-jelas lebih hemat, tentu saja ini menjadi pilihan terbaik. Sayangnya, yang “dianggap kelewatan” dari para pengguna Spotify ini, paket tersebut tidak dipergunakan sesuai aturan utamanya. Sesuai namanya, paket ini memang diperuntukkan untuk keluarga yang diperkirakan tinggal serumah. Akan tetapi realisasinya, paket ini tidak selalu digunakan oleh anggota keluarga yang tinggal serumah. Dan yang banyak terjadi pula, akun tersebut juga dibagikan ke teman atau orang asing sekalipun.

Baca juga:  Karaoke Bareng Teman adalah Cara Menguak Kepribadian yang Sesungguhnya

Sebetulnya, Spotify sudah memperkirakan bahwa paket yang sungguh hemat ini, akan susah dipergunakan sesuai aturan yang mereka bikin. Oleh karena itu, tahun lalu mereka mulai menindak penyalahgunaan paket Premium Family. Hal ini dilakukan dengan mengirim email kepada beberapa pengguna yang berlangganan dan meminta mereka untuk mengirimkan lokasi GPS untuk mengonfirmasi tempat tinggalnya. Tapi, karena penggunanya ini sudah begitu tergiur dengan kehematannya, tentu saja penindakan mereka tidak cukup untuk membuat jera.

Lantas, entah ini berita menggembirakan atau justru menyedihkan, kabarnya sekarang Spotify telah menemukan cara yang-dianggap-paling-tepat untuk memerangi mereka yang menyalahgunakan paket tersebut. Dengan cara yang sudah kita duga-duga: Melacak posisi para pengguna paket Premium Family secara berkala.

Dilansir dari The Verge, Spotify baru-baru ini memperbarui syarat dan ketentuan untuk pelanggan Premium Family. Dari waktu ke waktu, pengguna bakal diminta untuk memberikan lokasi terkini untuk membuktikan bahwa mereka adalah keluarga harmonis yang tinggal bersama.

Jadi, dalam syarat dan ketentuan yang sudah diperbarui, ketika mengaktifkan akun Premium Family, bakal mengharuskan penggunanya untuk memverifikasi alamat rumah mereka. Jadi, kalau ujug-ujug ditemukan perbedaan lokasi dalam satu paket Premium Family, Spotify berhak membatalkan paket langganan tersebut.

Selain itu, urusan melacak-lacak lokasi ini sering membuat kita kurang nyaman. Rasanya privasi kita jadi terganggu saja. Ya, walaupun mereka bilang bakal menjamin data privasi lokasi yang diberikan, sih. Tulisnya, “Data ini dienkripsi dan dapat diedit oleh pemilik paket sesuai kebutuhan. Data lokasi yang dikumpulkan selama pembuatan akun Premium Family hanya digunakan oleh Spotify untuk tujuan itu.”

Baca juga:  Generasi Micin, Millenial, Spotify, dan Mojok

Meskipun sudah dijamin bahwa data tersebut bakal aman di tangan kita, tapi kita tetap saja merasa tidak nyaman dan was-was dengan perubahan kebijakan baru tersebut. Jadi kalau kita tetap saja merasa tidak nyaman, mereka mengatakan, pengguna akan memiliki waktu hingga 30 hari untuk membatalkan langganan setelah ketentuan baru tersebut mulai berlaku. Alias, kalau kita nggak suka, yaudah nggak usah pakai paketan super hematnya!

Ya, ya, ya, ini tentu saja bikin nggak adil buat anggota keluarga yang sedang pergi merantau. Yang dikhawatirkan, nanti kalau mereka malah merasa sebagai keluarga yang sudah nggak dianggap karena nggak dapat paketan Spotify, gimana? Bahaya loh, ini.

Toh, kalau dirunut dari silsilah Adam dan Hawa, bukankah kita semua ini keluarga? Apalagi, orang yang rasanya kayak keluarga itu, bukan hanya yang sedarah, loh. Bahkan yang cuma kenal dari media sosial aja, bisa jadi lebih akrab dan dirasa lebih memahami. Terus lama-lama menjadi salah satu keluarga virtual kita.

Sebuah rasa kekeluargaan ini bakal terasa semakin dekat karena berada dalam satu akun paket Premium Family. Lha kok tiba-tiba Spotify bikin aturan paket Premium Family yang baru. Ini kan jadi malah “memutus” rasa kekeluargaan yang telah dibangun dan dirawat~

BACA JUGA Di Sebuah Kafe yang Belum Premium Akun Spotify-nya atau artikel Audian Laili lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles