Kekerasan Ekonomi dalam Hubungan yang Menjebak Pasangan

MOJOK.CORasa sayang bisa menjebak pasangan. Dapat membuat seseorang tega melakukan kekerasan ekonomi supaya pasangannya bergantung dengannya.

Sebuah hubungan apalagi kalau sudah menyangkut rasa, memang banyak rumitnya. Relasi yang katanya didasarkan pada cinta dan sayang, nyatanya dia dapat berubah menjadi sangat menyakitkan. Dia yang kita kagumi dan sayangi karena kebaikan kasihnya, ternyata bisa melakukan hal jahat yang tidak kita kira. Dia sering melakukan kekerasan verbal dan fisik, mengekang kebebasan kita, dan selalu berhasil memanipulasi pikiran kita bahwa setiap pertengkaran atau masalah yang terjadi adalah salah kita dan dia korbannya.

Tapi meski kita tahu bahwa yang dia lakukan sudah sungguh menyakitkan dan membuat kita tak tahan—bahkan sering muncul keinginan untuk pergi. Dia tetap berhasil membuat kita terjebak dan tidak dapat terlepas darinya begitu saja. Selain rasa sayang yang memang masih berlimpah—karena meski telah disakiti berkali-kali masih berharap dia bisa berubah—terlepas darinya juga tidak semudah yang kita kira karena…

…diam-diam sudah ada ketergantungan secara ekonomi dengan pasangan. Dia telah berhasil menyabotase kebutuhan ekonomi kita dan muncul anggapan bahwa hanya dengan bertahan dengannya lah kita tetap dapat meneruskan hidup.

Saya punya seorang teman perempuan yang bekerja dengan pacarnya. Mereka satu profesi dan bekerja dengan saling mengisi. Mereka sudah pacaran cukup lama, lebih dari 5 tahun. Tampak dari luar, hubungan mereka sungguh adem dan cocok dijadikan relationship goals banget. Ya, jarang-jarang ada pasangan yang dapat bekerja dengan sekompak dan seromantis itu.

Saya amat-amati pekerjaan mereka pun cukup lancar dan berkembang. Sering menerima proyek di sana-sini. Namun, beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan kabar bahwa ternyata di balik keharmonisan hubungan mereka, teman perempuan saya ini sudah sangat tidak tahan berada dalam hubungan tersebut. Memang, pacarnya tidak sampai melakukan kekerasan. Tetapi, banyak lika-liku dalam hubungan tersebut yang sudah membuatnya tak kerasan dan ingin pergi saja. Sayangnya, ia tidak bisa pergi ke mana-mana dan terpaksa bertahan tetap dalam hubungan tersebut. Lantaran, pacarnyalah yang selama ini mencukupi kebutuhan hidupnya. Ia sampai di tahap: tidak tahu bagaimana hidupnya nanti jika tanpa si pacar di sisinya.

Saya sempat bingung dengan pernyataan tersebut. Bukankah mereka adalah tim yang bekerja sama dalam melakukan pekerjaan tersebut? Iya, bersama-sama. Itu artinya, teman saya pun punya sumbangsih dalam suksesnya pekerjaan mereka. Usut punya usut, semua pemasukan hasil kerja mereka hanya masuk ke kantong si pacar. Terus si pacarnya lah yang nantinya bakal memberinya uang saku per hari. Atau terkadang, nggak ada yang namanya uang saku. Sebab untuk makan setiap harinya pun mereka sudah terbiasa (((harus sama-sama))).

Saya terhenyak mendapatkan informasi tersebut. Bahwa orang yang ngakunya sayang sama kita, justru bisa menjebak sedemikian rupa, supaya kita tidak bisa pergi ke mana-mana. Ternyata yang diaku sebagai rasa sayang, bisa menjadi seegois itu.

Hal yang dialami oleh teman saya ini bisa disebut dengan kekerasan ekonomi. Kekerasan yang berupa pengkondisian oleh pasangannya sendiri supaya seseorang tidak dapat mengelola sendiri keuangannya dan terpaksa bergantung. Meski bergantung terlihat seperti tidak memiliki tanggung jawab yang berat. Nyatanya, tidak ada sesuatu yang menyenangkan dari bergantung. Kecuali hanya menyisahkan perasaan sungkan sehingga kita rela melakukan sesuatu sesuai orang yang kita gantungi, atas dasar: balas budi.

Tapi, sampai sejauh apa kita akan menyanggupkan diri hidup dalam lingkupan balas budi???!!!

Lebih jauh lagi, kekerasan ekonomi dalam hubungan ini juga melarang-larang pasangan untuk mendapatkan pekerjaan dan bisa menghidupi dirinya sendiri. Pelarangan ini dilakukan, supaya hanya dia sendiri yang dapat memegang kendali keuangan dalam hubungan tersebut. Ketika kendali sudah dipegang, maka ia merasa jumawa karena bisa melakukan apa yang dia inginkan semau dia. Jelas, dilihat dari mana pun, jika hanya ada satu pihak yang merasa berkuasa dalam sebuah relasi yang harusnya setara, itu tidak sehat adanya.

Melarang pasangan bekerja karena rasa sayang dan demi urusan membagi tugas supaya rumah tangga berjalan damai dan lancar, tentu tidak ada masalah. Tetapi, hal ini harus dilakukan dengan diskusi dan keputusan kedua belah pihak. Yak, diskusi. Bukan dengan paksaan.

Sedihnya, menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), hingga Maret 2017 lalu, sekitar satu dari empat (24,5%) perempuan yang pernah atau sedang dalam hubungan pernikahan, mengalami kekerasan ekonomi dari pasangannya. Kekerasan ekonomi ini mulai dari tidak diperbolehkan bekerja oleh pasangan, pasangan mengambil penghasilan dan tabungan tanpa persetujuan, hingga pasangan menolak memberikan uang belanja padahal sebetulnya memiliki uang.

Sangat disayangkan, banyak yang menganggap bahwa ikatan pernikahan seolah-olah dapat menjadikan hubungan di dalamnya saling menguasai. Padahal tidak semestinya begitu, apalagi jika hal tersebut telah menyangkut kebutuhan untuk berdikari.

Kita memang tidak akan betul-betul tahu, siapa yang nantinya akan menjadi pasangan dan menghabiskan waktu dengan kita. Tapi bagaimanapun juga, kita harus menjadi pribadi yang bakoh: tidak akan rela-rela saja diperlakukan dengan tidak semestinya, meski oleh orang yang kita sayang sekalipun.