MOJOK.COSeorang lelaki bercerita tentang perasaannya yang merasa sendiri dengan berbagai problema, hingga membuatnya ingin bunuh diri saja.

TANYA

Halo, punten Mas Mul, perkenalkan saya mahasiswa semester akhir di universitas negeri cukup ternama. Ini pertama kalinya saya curhat di Mojok.co karena saya juga bingung musti curhat ke siapa lagi. Curhat ke teman hasilnya nihil, mereka terlalu sibuk. Curhat ke psikolog sudah jelas pasti bayar (duit lagi krisis). Curhat ke ortu hasilnya nihil, mereka malah terpaku pada masalahnya masing-masing yang ujung-ujungnya berkaitan dengan ekonomi serta melemparkan segala permasalahan ini pada saya.

Sebelumnya, saya mau cerita, kalau saya anak sulung dari 3 bersaudara. Sebagai sulung, ada anggapan, “Anak sulung harus menjadi contoh dan teladan bagi saudara-saudaranya”, maka dari itu sedari kecil saya merasakan aturan yang lebih ketat dari ortu saya, melebihi adik-adik saya. Apalagi dengan keadaan ekonomi yang seadanya (kaya nggak miskin juga nggak), saya dituntut untuk menjadi batu penjuru perubahan ekonomi keluarga.

Tak cukup di situ, tekanan berlanjut dari jenjang SMP. Saat kelas 7 badan saya yang agak montok ini dihina habis-habisan oleh hampir semua siswa lelaki sekelas saya (bahkan menyentuh dan meremas pantat saya) setiap hari sampai waktu sebelum saya naik kelas. Dari sini saya tumbuh menjadi anak yang sulit menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar dan menjadi sosok yang penuh dengan pemikiran negatif terhadap orang dan dendam tak beralasan kepada orang lain.

Agaknya sifat pertama ini terbawa hingga jenjang SMA dan kuliah, sehingga saya benar-benar tidak memiliki sosok sahabat yang dapat menjadi sandaran. Kebanyakan orang akan menjelek-jelekkan saya (terutama urusan fisik dan muka). Atau hanya sekadar mengingat kesalahan saya dengan melupakan kebaikan yang sudah saya lakukan.

Bahkan sahabat baik saya sewaktu SMA berkata dengan entengnya, “Dengan muka jelek seperti itu tidak akan pernah ada jodoh yang datang padamu”. Sungguh hal yang menyakitkan dan juga menjadi pedoman hidup saya bahwa, “Saya adalah ‘failed breeding human’ dan tidak layak berkembang biak”. Ini dibuktikan dengan perjuangan saya dalam mencari cinta, di mana mantan saya satu-satunya minta putus setelah baru 2 minggu jadian dengan alasan fokus ujian. Namun tak lama, dia mendapatkan pacar baru.

Serta, usaha saya dalam menjalin hubungan pacaran dengan 3 perempuan yang semuanya berakhir dengan penolakan dan alasan klasik lainnya. Seperti, “masih sayang dengan orang tua”, “masih mau fokus kuliah”, dan bahkan dengan jawaban straight, “karena aku nggak suka sama kamu”.

Lanjut di gereja tempat saya beribadah. Ada seorang yang saya benci (dan saya dendam), memiliki pengaruh cukup besar di sana, sehingga (mungkin) dia memengaruhi orang-orang gereja yang pernah dekat dengan saya. Sampai akhirnya, mereka perlahan menjauhi saya. Bahkan sekadar menyapa saat berpapasan pun enggan.

Tak cukup di situ, ketika saya menjabat sebagai ketua legislatif di himpunan prodi dan kordinator di desa KKN, masih ada orang yang menjatuhkan nama baik saya. Mereka menilai saya tidak bekerja sama sekali, dan bahkan menuduh saya, “mencari ketenaran lewat jabatan”. Sungguh, hal ini membuat saya semakin benci mereka. Hingga, saya merasa tidak cocok menjadi pemimpin dan tidak akan pernah mencoba lagi.

Baca juga:  Tentang Lingkaran Setan Toxic Parents yang Semestinya Dihentikan

Sekarang, di usia saya yang hampir 24 tahun, saya benar-benar baru merasakan kehampaan hati yang luar biasa. Setelah semua kenalan saya sudah wisuda—bahkan adik kelas saya juga, saya semakin merasa sendiri. Orang-orang tersebut seperti melupakan saya. Bahkan, sekadar menyapa atau mengucapkan selamat ulang tahun—yang biasanya mereka lakukan.

Saya merasa seperti ditinggal sendiri, tanpa arah dan tujuan. Dendam lama yang menyeruak lambat laun makin melebar, hingga saya mengklaim untuk membenci seluruh teman seangkatan prodi dan sesama mahasiswa desa KKN saya.

Hari ini, rasa benci, dendam, amarah, iri hati, insecure, distrust sudah terpatri di dalam hati. Saya tidak bisa menerima mereka yang telah meninggalkan saya. Walau mereka menyapa atau membalas komentar di instastory. Menurut saya, mereka hanyalah pengganggu. Ada udang di balik batu.

Sapaan telat mereka itu sudah tak bisa saya terima. Rasa sakit sudah memuncak, hati sudah tertutup. Keseharian saya penuh dengan negative thinking. Mempunyai teman itu bullshit, pada akhirnya mereka semua akan meninggalkan saya cepat atau lambat. Dari sini saya mengklaim diri saya sebagai Lone Wolf.

Namun di tengah ini semua, saya menjadi kehilangan arah, tujuan, motivasi, dan cita-cita saya. Permasalahannya banyak, mulai dari skripsi yang tak kunjung selesai, permasalahan ekonomi yang menghimpit, tak ada sandaran hati untuk menepi, bahkan saya tak punya gambaran setelah lulus saya mau jadi apa.

Perlu diketahui juga, bahwa prodi yang saya dapat di kampus ini bukanlah prodi yg saya inginkan dari awal alias salah masuk jurusan. Di titik ini saya merasa stuck. Di tengah situasi ini, saya terbuai dengan candu internet (entah youtube, film, komik, dsb).

Apalagi semenjak tak gereja berbulan-bulan, saya semakin kehilangan kerohanian saya sebagai mahkluk ciptaan Tuhan. Bagi saya, pergi ke gereja yang berisi orang yang saya benci, jauh lebih buruk. Dari semua ini, pernah ada bisikan dalam hati untuk bunuh diri, tapi saya juga masih ingin hidup.

Pertanyaan saya hanya satu, Mas, apa yang harus saya lakukan untuk melewati ini semua? Dan juga terima kasih sudah mau menerima curhatan saya.

JAWAB

Hai, Mas….

Sebelumnya saya minta maaf, kalau yang menjawab curhat ini bukan Gus Mul. Jadi, karena kesibukan Gus Mul yang dibutuhkan di sana-sini, beliau tidak lagi mengasuh rubrik curhat. Lantas, digantikan oleh saya sudah sejak beberapa bulan yang lalu—meski nggak banyak yang ngeh dan masih banyak yang menyapa “Gus Mul” di setiap curhatannya. Hadeeeh, malah jadi saya yang curhat.

Mas, sebetulnya di sini, kami juga nggak bisa membantu apa-apa. Tapi yang pasti, perasaan benci itu adalah sesuatu yang wajar dengan melihat dinamika cerita sampeyan yang begitu menyakitkan. Ehm, meski sebetulnya, rasa sakit itu akan semakin sakit kalau masih dipelihara di dalam diri sampeyan.

Adalah sesuatu yang manusiawi, jika perkataan-perkataan buruk dari mereka tersebut, memengaruhi cara sampeyan dalam memandang diri sendiri. Hal-hal yang menyakitkan dan negatif biasanya memang lebih mudah melekat. Lebih mudah untuk diingat-ingat. Namun, sampai kapan sampeyan akan terus menerus merekam hal yang sungguh tidak mengenakkan itu? Apa ya, sampeyan nggak kasihan sama diri sampeyan sendiri? Fyi, itu semakin menyiksa, loh. Beneran, deh.

Baca juga:  Bunuh Diri dan Kita yang Terlalu Asyik Dengan Diri Sendiri

Betul, mereka sungguh teman-teman yang jahat. Tapi, bisa jadi, jahatnya mereka-mereka ini sebetulnya dikarenakan ketidakpercayaannya pada dirinya sendiri. Ada perasaan rendah diri yang terlalu dalam. Lantas, cara mereka untuk mengelola rasa percaya dirinya tersebut, mereka memilih untuk merendahkan orang lain. Mereka menganggap, ketika berhasil merendahkan orang lain, maka mereka merasa lebih baik, lebih sempurna, dan lebih bahagia. Padahal, mah? Ya, nggak juga.

Percaya, deh, bukannya kepuasaan yang bakal mereka rasakan setelah memperlakukan orang lain seperti itu. Justru sebuah perasaan kosong atau bahkan rasa bersalah diam-diam. Jadi, buat apa sampeyan terus menerus memelihara dendam untuk orang yang sudah jelas tidak merasakan kenyamanan dalam hidup?

Mas, ini hidup sampeyan. Orang lain sama sekali nggak bertanggung jawab untuk kebahagiaan sampeyan. Kebahagiaan itu adalah tanggung jawab sampeyan sendiri. Jika sampeyan memilih terjebak dalam dendam dan kemarahan, justru itu akan menghambat jalan sampeyan sendiri. Misalnya, untuk menunjukkan kepada mereka, bahwa sampeyan bukanlah orang yang semudah itu diremehkan. Bukan sosok yang gampang diolok-olok dan seolah nggak punya harga diri.

Inilah kesempatan sampeyan untuk menunjukkan. Bahwa sampeyan adalah pribadi yang kuat, yang kokoh, dan bakoh. Jagalah harapan-harapan masa kecil itu tetap ada dan terus menyala. Sampeyan sudah berjalan sejauh ini. Ya kali, kalau malah memilih untuk berhenti. Sedikit lagi. Percayalah, sedikit lagi. Tolong, jangan menyerah dulu. Apalagi memilih untuk bunuh diri.

Sampeyan nggak perlu merasa sendiri, Mas. Bisa jadi orang-orang yang terlambat mengucapkan ulang tahun itu, mereka juga sedang mengalami hal serupa. Sedang ribet dan sibuk dengan pergolakan yang ada di dalam dirinya. Jadi, ya, mereka nggak sengaja melewatkan hari bersejarah dan penting bagi sampeyan itu.

Mas, orang-orang yang kita kira baik-baik saja. Kita tidak dapat menjamin, mereka betul-betul baik-baik saja. Bisa jadi, dalam raut yang baik-baik saja itu, menyimpan banyak pergulatan dan banyak kesulitan untuk tetap bertahan dan merawat harapan dalam hidup mereka.

Tanya ke diri sampeyan sendiri, apa yang sebetulnya sampeyan mau? Selamat berjuang, Mas. Jangan berhenti begitu saja.



Loading...



No more articles