MOJOK.COSeorang perempuan bercerita soal kekesalan dan rasa bencinya pada mantannya pacar yang masih suka menganggu hubungannya.

TANYA

Dear Redaksi Mojok yang kusayang….

Perkenalkan namaku Mae. Aku tinggal di salah satu kota di Jawa. Lebih tepatnya aku sedang merantau sekolah. Sementara, aku sendiri berasal dari Sumatera.

Jadi begini, awal tahun lalu aku memutuskan untuk menjalin hubungan dengan seseorang yang belum lama kukenal. Kebetulan orang itu satu kampus denganku. Seiring berjalannya waktu hubungan kami banyak diuji dengan semua hal yang baru aku ketahui terkait dirinya bahkan hingga masa lalunya. Tentunya hal itu sangat mengganggu hati dan perasaanku yang rapuh ini.

Sebelumnya aku tidak pernah mempermasalahkan masa lalu orang-orang yang pernah menjadi pacarku. Hanya saja kali ini beda. Ternyata sebelum menyatakan cinta denganku, pacarku ini baru dua bulan putus dengan mantannya. Alhasil, aku yang baru mengetahui hal itu langsung dari mantannya merasa terganggu. Karena aku dianggap penyebab dari perpisahan mereka dan juga hanya dianggap sebagai pelarian semata.

Sayangnya aku tak bisa berbuat banyak. Karena prinsip hidupku tak akan mengusik hidup orang lain meski mereka mencoba mengusik kehidupanku. Namun, semakin hari aku merasa semakin risih dengan ulah mantannya pacar. Melalui postingan di medsos seolah dia menjelek-jelekan hubungan mantannya yang jelas sekarang telah menjadi pacarku.

Terkadang aku juga sedih jika melihat foto-foto atau mendengar perjalanan cinta mereka yang terjalin cukup lama. Kadang aku berpikir mungkinkah dulu pacarku lebih romantis dari dia yang sekarang dan wajar saja mantannya itu tidak rela jika harus berpisah. Sedangkan saat bersamaku, aku merasa pacarku ini biasa saja. Tapi aku akui dia meamng pria yang baik dan bertanggung jawab.

Baca juga:  5 Kebiasaan yang Dilakukan Cewek Saat Sedang Sendirian

Aku orangnya tidak bisa menutupi kalau ada sesuatu yang membuat gelisah. Pernah suatu hari aku kesal dan menyuruh pacarku itu untuk balikan saja dengan mantannya namun syukurnya pacarku tidak mau dengan alasan dia tidak menyayangi mantannya lagi dan karena dia menyayangiku. Bahkan pernah juga tanpa sepengetahuan pacarku, aku menghubungi mantannya yang menyebalkan itu dan mengungkapkan segala bentuk keluh kesah yang aku rasakan. Dan hasilnyaaaaaaa… dia seolah biasa-biasa saja menanggapi omanganku. Lebih tepatnya seakan tidak peduli padahal aku tahu dia cuma gengsi.

Jadi, aku harus gimana ya? Untuk mengatasi rasa benci terhadap mantannya pacar ini? Aku nggak bisa diginiin.

Salam sayang kecup manja,

Mae

JAWAB

Hai Mae yang sedang dirundung kegelisahan dengan masa lalu Mas Pacar. Membayangkan perihal hubungan pacar dan kisah-kasihnya dengan mantannya, memang sering kali bikin kita khawatir yang keterlaluan. Menerka-nerka soal ini saja sudah bisa bikin kita was-was. Apalagi kalau kondisinya justru si mantannya pacar itu datang di kehidupan sampeyan dan menceritakan suatu hal yang sungguh drama. Bagaimana pikiran sampeyan nggak makin kalang kabut?

Begini, Mae. Sebetulnya membenci seseorang yang nggak kita kenal itu memang nggak penting. Tapi, saya cukup bisa memahami posisi sampeyan. Masalahnya, si mantannya pacar itu justru yang tiba-tiba datang dan mengusik hubungan kalian, kan? Kalau gini, mah, gimana nggak bikin gemes?

Baca juga:  Terlalu Banyak Cinta Bisa Membunuhmu

Jadi, kalau sampeyan sebal dan rasanya pengin membencinya, ya boleh-boleh saja. Lha wong, benci itu salah satu emosi. Tapi, nggak perlulah sampeyan memilih untuk menyakiti diri sendiri dengan ngepoin media sosialnya.

Bodo amat dia mau ngomongin dan jelek-jelekin hubungan kalian. Aksinya yang datang dan ngerecokin itu, sudah jelas sedang membuat hubungan kalian hancur. Dan harusnya, omongan dan komentar-komentar nggak enak dari dia, nggak mempan untuk keberlangsungan hubungan kalian, kan? Jadi, nggak perlu kepo. Kalau perlu, block aja sekalian media sosialnya. Biar sampeyan tidak lagi terpapar hawa-hawa penuh prasangka.

Mae, setiap orang kan punya masa lalunya masing-masing. Segigih apa pun sampeyan berusaha memilikinya, sebetulnya sampeyan tetap tidak mungkin memiliki jalan hidupnya. Jadi, daripada sampeyan sibuk-sibuk ngurusin mantannya pacar—yang kayaknya masih belum ikhlas itu, bukankah lebih baik sampeyan sibuk yang-yangan aja?

Oh ya, Mae. Btw, nggak perlu lagi nelpon-nelpon mantannya pacar, ya. Anu, malu. Gengsi, ah. Yang ada malah dia tertawa-tawa di sana karena berhasil mancing-mancing hidup sampeyan biar nggak lagi merasa tenang dan nyaman.



Tirto.ID
Loading...

No more articles