Beberapa hari lalu seorang gadis cilik bernama Angeline ditemukan membusuk di halaman rumahnya. Sebulan terakhir ia dikabarkan menghilang.

Ini tragedi, sebuah wajah muram yang semestinya tidak terjadi. Angeline menjadi korban kekerasan orang tua angkatnya sendiri. Kematian Angeline melahirkan duka. Kita mendoakannya, berharap hal serupa tidak pernah terjadi. Tapi benarkah demikian?

Jauh sebelum kematian Angeline, kita berduka hebat ketika RI, seorang bocah perempuan berusia 11 tahun, koma karena menjadi korban perkosaan secara brutal. Setelah beberapa hari berusaha memperjuangkan hidup, RI meregang nyawa. Kasusnya diusut, lantas kita tahu pembunuh dan pemerkosa bocah malang itu adalah ayahnya sendiri. Pernahkah kita belajar dari kasus RI? Nyatanya tidak, kasus RI terlupakan, korban baru berjatuhan dan kini kita menemukan tragedi baru.

Satu hal yang mengerikan dalam kasus kematian Angeline adalah bagaimana media dan masyarakat kita melabeli tragedi ini. “Aduh padahal cantik gitu,” “Angeline manis begitu kok dibunuh,” label-label cantik dan manis seolah bisa mencegah seseorang untuk melakukan kekerasan. lalu bagaimana jika Angeline adalah anak jalanan yang buruk rupa? Apakah kepedulian kita akan berkurang?

Anak-anak masih menjadi kelompok paling rentan mengalami kekerasan dan kejahatan seksual di negeri ini. Komnas Anak pada 2013 mencatat ada 3.023 pengaduan kasus kekerasan terhadap anak. Angka ini meningkat 60 persen dibandingkan tahun 2012, yang hanya 1.383 kasus. Dari jumlah tersebut, 58 persennya atau 1.620 merupakan kasus kejahatan seksual terhadap anak. Jadi, jika dikalkulasi, setiap hari Komnas menerima pengaduan sekitar 275 kasus. Sudahkah kita belajar? Belum, tentu saja.

Kematian Angeline membuka borok yang demikian bacin. Kebebalan manusia satu dan yang lainnya. Kita menyalahkan ibu angkat Angeline, setelah itu menyalahkan ibu kandungnya. Ibu kandungnya dihujat, dihina, seolah ia sama bertanggung jawabnya dengan si pembunuh. Adakah ibu waras yang menyerahkan anaknya dirawat orang lain jika tidak sedang dalam keterpaksaan? Kapan kita bisa menyalahkan diri sendiri yang tidak melakukan apapun ketika gejala kekerasan itu tengah dan sedang terjadi?

Ketika kekerasan domestik terjadi, banyak orang cenderung diam. Bukan urusan kita, itu urusan rumah tangga orang lain. Lantas ketika korban telah jatuh, seseorang telah meninggal, maka kita menyesal, lantas berkata “Ah sudah kuduga!”. Dugaan tidak menyelamatkan seseorang dari kematian. Tindakan yang bisa melakukan itu.

Kita lantas mulai berduka, menyatakan solidaritas, berdoa, peduli tapi kemudian berhenti. Tragedi selalu menemukan tragedi lain sehingga ia berhenti menjadi penting.

Anda punya pilihan melaporkan kekerasan dalam rumah tangga orang lain, ini bisa menyelamatkan nyawa orang lain. Tapi kadang pilihan ini terlalu berat, bukan? Kita akan dianggap rempong, kepo, sok peduli urusan orang, hingga segalanya terlambat—seseorang meninggal dan kita hanya bisa mengutuk.

Siklus ini berulang dan berulang dan berulang sampai kita kemudian percaya bahwa kekerasan itu adalah hal yang wajar, bukan sesuatu yang perlu dicegah dan dilawan.

Pada 2014, Komnas Anak menyatakan bahwa tahun itu adalah tahun darurat kekerasan Anak. Dari tahun 2014, laporan soal kekerasan anak yang masuk dari Januari-September mencapai 2.726 kasus. Tapi apakah ini penting? Maksud saya, ini hanya statistik, sama dengan jumlah 2.856 anak pengungsi korban bencana Alam Sinabung, atau 69 anak pengungsi Syiah Sampang. Yang pertama adalah bagian dari statistik besar bernama bencana, kedua sisanya adalah korban kekerasan terhadap keyakinan.

Kita bersedih Angeline terbunuh karena kekerasan, tapi bisakah kita peduli kepada anak-anak yang lain?

Oh saya tidak sedang mengajak Anda untuk memperbandingkan tragedi. Masing-masing tragedi punya lukanya sendiri. Saya hanya ingin Anda mengerti bahwa, apa yang dialami Angeline bisa terjadi pula pada banyak anak lainnya. Ini tentu tidak adil, tidak apple to apple, tapi saya tidak sedang ingin adil. Saya sedang tidak ingin jadi dewasa. Dewasa terlalu melelahkan, kita diminta kompromi pada banyak hal yang lantas membuat kepedulian kita terbatasi pada hal-hal yang pragmatis.

Saya ingin peduli pada Angeline seperti saya peduli kepada anak-anak di Sinabung dan anak pengungsi Syiah Sampang.

Kekerasan tentu saja memiliki banyak rupa, tapi pernahkah Anda mengalami teror mental dan verbal? Dikatakan anak seorang kafir, dilempari batu, diludahi, diancam dibunuh karena darahnya halal?  Segala teror ini barangkali pernah dirasakan pada usia yang demikian muda oleh anak-anak pengungsi Syiah Sampang atau bahkan pengungsi Ahmadiyah Lombok. Anda boleh tidak percaya saya dan untuk itu saya menyarankan Anda untuk turun langsung menemui anak-anak itu.

Angeline telah berpulang, saya hanya bisa berdoa dan berharap akan ada keadilan baginya. Tapi anak-anak yang lain masih hidup. Semoga kita punya tenaga untuk melindungi mereka. Semoga kematian Angeline tidak sekadar tragedi di atas statistik.

  • Sebagian dari kita lebih senang menjadi hakim yang memutuskan si anu salah si itu harus dihukum, sebagian lagi memilih menjadi jaksa, ada juga sebagian yang jadi penyidik, sisanya jadi pemirsa “dleweran” airmata simpati untuk kemudian menjadi “lali”.
    Ya, kebanyakan dari kita tidak “open” pada sekitar dan terlupa bahwa kita bisa mengambil peran untuk mencegah sebelum menjadi tragedi.

  • Enggak usah belagu bila kejadian RI, Angeline, Syiah Sampang, hingga Ahmadiyyah Lombok disebut ‘tragedi’. Percuma kalau tidak ada pembelajaran dan perubahan bagi kita sebagai bangsa. Alih-alih tragedi, yang ada hanyalah ‘drama’. Drama yang menghibur, yang beberapa waktu kemudian hilang tertelan masa dan terlupakan. Dari tragedi mestinya menjadi sarana perbaikan. Ini malah menjadi penglupaan.

  • Ahmad Shilahuddin

    keep calm and wait ’till we forget, and this shit will be repeated over and over again

  • Erwan Kow

    Kebetulan saya lagi di Gorontalo. Di sini, sepertinya persalinan itu gratis. “… Program SMART City yang juga dikenal dengan “program lahir hingga mati itu, terdiri dari pertama gratis biaya persalinan…”. http://gorontalo.antaranews.com/berita/12802/delapan-program-unggulan-kota-gorontalo-akan-dipaparkan-di-kaa?utm_source=related_news&utm_medium=related&utm_campaign=news. Tapi ga tau gratisnya seluruhnya atau hanya komponen tertentu dari perawatan. Sepertinya ada bbrapa kab/kota yg mungkin jg punya program2 seperti itu. Regards, Erwan

  • kabut mimpi

    speechless pak bu….sementara qta ga bisa berbuat apa apa sama aja kita juga membunuh…jadi inget : sering liat ibu2 penyapu jalan bersama anaknya sedang istirahat pada jam sekolah. tampaknya anak dari ibu tersebut tidak bersekolah, entah nggak punya biaya or else….sempet ingin ngasi uang bagi mereka (sombong mode on, belagak jd org kaya), tapi uang di dompet lebih dianggarkan buat beli pulsa..

  • Yasfi Maziya Bin Salim

    Widih kasian tuh anak-anak syiah sampang dan ahmadiyah lombok 🙁
    diusir paksa.
    apalagi anak Palestine,Suriah dan Rohingya, ya 🙁 mereka tidak hanya diusir..
    Seandainya anak-anak Palestina, Suriah dan Rohingya bernama ANGELINE 🙁 Sayangnya tidak andai :'(
    Rabun..

  • Lib Flow

    Bagus opininya. Sederhana dan jujur, perlu banyak tulisan seperti ini. Langsung kena ke hati 🙂

  • putuebo

    “Aduh padahal cantik gitu”.. memang ini cetusan spontan yang juga sering saya dengar/baca dari orang-orang yang menanggapi tragedi Angeline saat pertama. Saya memahaminya sebagai.. “Mengapa Angeline mesti ditelantarkan? mengapa mesti dibunuh? Bila keluarganya menolak kehadiran Angeline, berikan saja anak tersebut pada orang lain. Pasti sangat banyak yang bersedia membuka ruang kasih sayang untuk anak tersebut untuk dirawat”. Tentu saja… anak cantik dan mungil, daya pikat utama ketersediaan tersebut ada…

No more articles