Di hari nan fitri, ketika tangan tak mampu menjabat, kaki tak mampu melangkah, dan mulut tak mampu berucap, saya kaget bukan main. Di Twitter, ramai orang membicarakan khotbah ustadz idola saya, Bachtiar Nasir, yang isinya: “Islam toleran adalah Islam setan”. Hampir copot jantung saya.

Mana mungkin?

Adalah hil yang mustahal Ustadz Bachtiar, Ketua Umum Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), salah satu korlap Aksi Bela Islam yang legendaris, mengucapkan sesuatu yang bertolak-belakang dengan semangat keislaman yang damai, toleran, rahmatan lil alamin.

Untung ada Youtube. (Youtube, Youtube, Youtube lebih dari TV. Boom!).

Saya putar berulang-ulang khotbah beliau di Masjid Al-Azhar Jakarta itu 212 kali. Alhamdulillah, tidak ada ucapan seperti yang dituduhkan kepadanya di atas. Dan sekali lagi alhamdulillah, si penyebar pertama konten palsu itu segera menghapus twitnya mengoreksi dan meminta maaf.

Ustadz Bachtiar hanya menekankan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh utama umat manusia yang paling nyata. Beliau menceritakan peristiwa Adam yang tergoda bisikan setan untuk memakan buah khuldi. Adam lupa bahwa setan adalah musuhnya. Adam lengah. Karena, firman Allah, ditirukan Ustadz Bachtiar, “Tidak kudapati kesungguhan pada Adam untuk menjadikan setan sebagai musuhnya, sehingga dia toleran kepada setan.

“Jadi kalau ada yang mengatakan umat Islam adalah umat intoleran, pasti itu kelompok setan.”

Baca juga:  Sekali Lagi, Reaksi atas Pertemuan Jokowi dengan Orang Rimba

Apa hubungan antara Adam yang toleran dengan setan dan umat Islam yang dianggap intoleran? Tidak ada. Enak didengar saja. Jauh lebih enak ketimbang beat Young Lex. Semacam vickynisasi yang mengkudeta hati. O aza ya kan~

Ustadz idola saya tak pernah salah.

Kalau beliau salah, tidak mungkin Presiden Jokowi mau menerima beliau di Istana Negara. Hubungannya? Kok masih cari hubungan sih, memangnya situ jomblo? O aza ya kan~

Yang paling memukau dari khotbah Idul Fitri tersebut adalah ketika beliau bilang, “Walau ada yang menuduh Pilkada Jakarta adalah pilkada yang berbau SARA, tapi itu hanyalah orang-orang munafik yang gagal memahami.” Mantap soul.

Inilah dia. Tak cukup diumbar di mimbar Jumatan, perkara ini wajib pula disinggung di mimbar Idul Fitri.

Sebetulnya ini topik perdebatan basi dan membosankan yang sulit ditemukan ujungnya. Masing-masing pihak punya pembenaran yang sukar dipertemukan. Tapi karena junjungan saya Ustadz Bachtiar membahasnya lagi, mari kita bicarakan pelan-pelan. Lagi pula memang penting, kok. Betul-betul penting.

Pascapilgub DKI, banyak pihak yang menyebut kontestasi yang dimenangkan pasangan Anies-Sandi itu sebagai Pilkada yang kental dengan isu SARA. Selain kencangnya peringatan untuk memilih pemimpin Islam dan santernya penolakan memandikan jenazah pemilih pemimpin kafir, menurut exit poll SMRC dan beberapa lembaga lain: faktor agama memang berperan besar bagi kekalahan inkamben Ahok-Djarot.

Baca juga:  5 Sikap Konyol Pendukung Tokoh dan Partai Politik yang Tidak Patut Ditiru

Kemenangan Anies-Sandi itu, dan sentralnya isu agama dalam pilgub, dianggap beberapa pihak sebagai kemenangan kelompok Islam konservatif, atau bahkan radikal, dan kemenangan prasangka atas pluralisme. Agak lebay, sih. Hanya karena segerombolan muslim radikal ada di kubu pemenang bukan berarti itu adalah kemenangan kelompok radikal.

Tapi harus diakui, kampanye dalam Pilgub DKI tempo hari sangat brutal dalam mengeksploitasi isu keagamaan. Di media sosial, hampir setiap hari kita menyaksikan perdebatan agama. Ujaran kebencian kepada etnis tertentu terus-menerus direproduksi, seruan “halal darahnya”, diikuti cap “kafir” dan “munafik” seperti yang disebut lagi oleh Ustadz Bachtiar.

Setuju saya dengan Ustadz Bachtiar, 411 persen setuju: itu bukan pilkada berbau SARA, melainkan pilkada dengan politisasi agama secara membabi-buta. Meski saya tidak tahu siapa yang Ustadz Bachtiar maksud dengan “orang-orang munafik yang gagal memahami”. Sumpah, saya nggak tahu.

Sekarang baiknya kita lupakan pilkada, mari berwiraswasta.

Karena sudah sangat sering diulang-ulang, “kafir” dan “munafik” sepertinya bagus dijadikan brand. Di beberapa kota yang saya kunjungi beberapa bulan belakangan, sudah banyak kedai 212 atau 411. Kedai Munafik, kedengarannya boleh juga.

Atau, yang jangkauan pemasarannya bisa lebih luas, usaha pakaian dengan merk Anti-Munafik Munafik Club. Kalau Ustadz Bachtiar Nasir mau bergabung, pasti akan laris manis tanjung kimpul.

Omong-omong, kemarin Ustadz Bachtiar dapat sepeda dari Jokowi?

Komentar
Add Friend
No more articles