MOJOK.CO – Sebagai seorang individu dewasa, pernahkah kamu berpikir bahwa quarter life crisis bisa dihadapi dengan ramalan zaman SD?

Kalau dulu hari Minggu bisa kita habiskan dengan maraton acara kartun, mulaidari Chibi Maruko-Chan, Let’s and Go, Hamtaro, Doraemon, hingga Detective Conan, sekarang yang bisa kita lakukan sebagai orang dewasa hanyalah memijat-mijat kepala karena bangun kesiangan setelah 6 hari sebelumnya lembur mengejar target dari kantor sebagai budak korporat.

Ah, lupakan dulu masalah pekerjaan. Sebagai manusia yang sudah berusia lebih dari 20 tahun—dan tengah terserang quarter life crisis serta anxiety dengan cukup tajam membara—hidup bahkan terasa lebih pelik dari tahun-tahun sebelumnya di banyak bidang. Perkara jodoh, masa lalu, kesepian, mimpi, dan masih banyak yang lainnya—segalanya terasa mengganggu dan mengancam di masa depan.

Maka, tak heran jika kemudian pertanyaan-pertanyaan galau klangsung beterbangan di kepala, dari otak kiri sampai otak tengah, bahkan mengalir lewat pembuluh darah:

Apakah 5 tahun lagi hidupku akan gini-gini aja, ya Allah??? Apakah kalau habis putus cinta, aku bakal ketemu seseorang yang baru??? Apakah aku benar-benar bahkan akan menikah suatu hari nanti, padahal teman-temanku aja sekarang anaknya udah tiga??? Apakah sebaiknya aku daftar CPNS atau usaha ternak lele aja dan jadi pengusaha di balik kecipak-kecipuk air di tambak???

Kegelisahan ini mendorong kamu-kamu semua—manusia-manusia 20 tahunan yang sedang gundah gulana—untuk curhat dan nemplok ke sana-sini, sembari bertanya-tanya siapa jodohmu, bakal berapa banyak anakmu kelak, bahkan bagaimana kariermu di masa depan. Padahal, kalau kamu mau berpikir dengan lebih jernih dan santai (tentu saja tanpa air mata, Sayangku), bisa saja kamu kembali mengingat sebuah titik besar di masa lalu yang konon telah memiliki jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan tadi.

“Haaaah, seriusan???” tanyamu.

Iya, gaes-gaesku, tentu saja ini serius. Masa-masa ini adalah masa-masa…

…ramalan zaman SD berjaya!!!

*JENG JENG JENG*

Saya nggak tahu anak-anak zaman SD sekarang masih main ramal-ramalan atau nggak, tapi kalau kamu ingat baik-baik, di zamanmu dulu berseragam putih-merah, setidaknya ada tiga jenis ramalan populer untuk menentukan masa depan yang ternyata rumit banget ya Allah nggak kuat lagi:

1. Ramalan Jodoh

Baca juga:  Sejatine, Dadi Bocah Cilik Kuwi Kudu Pinter apa Kudu Bahagia?

Dasar anak yang sedang mengalami cinta monyet, ramalan jodoh zaman SD pun laris manis ibarat kacang rebus dijual di alun-alun. Setidaknya, ada tiga tipe ramalan untuk mengetahui siapa jodohmu, yaitu ramalan dengan pola cap tangan dan ramalan True Love.

Ramalan dengan pola cap tangan di zaman dulu itu hanya memerlukan kamu menjiplak pola telapak tanganmu, lalu temanmu bakal membagi setiap ruas jari untuk meramal poin-poin sendiri, termasuk nama-nama calon suami/istri, kendaraan yang dipakai untuk bulan madu, tempat berbulan madu (ini anak-anak SD emang udah tahu bulan madu itu apaan???!!!), hingga status ekonomi (miskin, kaya, atau sederhana). Ngakak, ya? Nggak papa.

Dari jenis ramalan ini, kesimpulan yang didapatkan adalah berupa pernyataan, misalnya: Aprilia akan menikah dengan Harry Potter, bulan madu ke Thailand, naik mobil Audi, status ekonomi kaya. Wkwkwk.

Jenis ramalan kedua adalah ramalan True Love, atau disebut juga sebagai kalkulator cinta. Hasil ramalan ini adalah berupa angka persentase kecocokanmu dengan orang yang kamu harapkan sebagai jodoh. Langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Tulis namamu dan gebetanmu, misal: Aprilia dan Harry Potter
  2. Perhatikan tulisan ‘True Love’, lalu identifikasi ada berapa banyak huruf t, r, u, e, l, o, v, dan e pada namamu dan gebetan, misalnya: 24011101
  3. Lakukan penghitungan dari deret angka yang dihasilkan dengan menjumlahkan angka yang bersebelahan, lalu lakukan terus sampai tersisa 2 angka. Jika hasil penjumlahan adalah bilangan dua angka, kamu hanya perlu menulis angka belakangnya, misalnya:

2 – 4 – 0 – 1 – 1 – 1 – 0 – 1

6 – 4 – 1 – 2 – 2 – 1 – 1

0 – 5 – 3 – 4 – 3 – 2

5 – 8 – 7 – 7 – 5

3 – 5 – 4 – 2

8 – 9 – 6

7 – 5

Dari contoh di atas, hasilnya adalah Aprilia dan Harry Potter memiliki tingkat kecocokan 75%. HAHAHA, MAMAM.

2. Ramalan Anak (Jumlah, Jenis Kelamin, Jenis Rambut)

Kalau kamu sekarang galau sendiri karena temanmu sudah punya anak, sedangkan kamu belum, cobalah untuk bahagia sejenak. Tenang saja, saat kamu SD, kamu toh sudah pernah diramal bakal punya anak, jadi tunggu saja, mylov~

Ramalan anak di zaman SD ini beraneka ragam, mulai dari ramalan jumlah anak, jenis kelamin, dan jenis rambut. Ramalan jumlah anak umumnya dimulai dengan keharusan kita mengepalkan tangan kuat-kuat, lalu teman kita bakal menekan sedikit pergelangan kita sampai ada yang tampak menonjol. Konon, itulah simbol jumlah anak kita di masa depan.

Baca juga:  Media Sosial dan Dunia Nyata Sama-Sama Membuat Kita Merasa Tidak Lebih Baik Dibandingkan Orang Lain

[!!!!!!!!!!111!!!!!]

Kalah sudah, teknologi kedokteran internasional.

Bukan cuma jumlah, jenis kelamin anak pun bisa diramalkan. Caranya? Lagi-lagi lewat tangan, Sayangku. Pembuluh nadi yang tampak di pergelangan tangan itulah kuncinya: kalau kelihatan warna biru, anakmu laki-laki, tapi kalau warnanya hijau, anakmu perempuan.

[!!!!!!!!!!111!!!!!]

Kalah sudah, USG-USG buat ibu hamil itu.

Yang tak kalah menghebohkan, kita-kita di zaman SD pun bisa juga meramal jenis rambut anak kita. Caranya? Cabut sehelai rambut, lalu kempit di lengan, pukpuk lengan beberapa kali, lalu amati rambut tadi. Kalau lurus, ya anakmu rambutnya lurus; kalau keriting, ya rambutnya keriting; kalau rambutnya jatuh, ya anakmu gundul.

Hehe.

3. Ramalan Cita-Cita

Ramalan zaman SD berikutnya adalah ramalah kesuksesanmu mengejar cita-cita dan pekerjaan impian. Ya gimana ya, nyatanya, karier dan cita-cita inilah yang kemudian mengambil porsi cukup besar bertahun-tahun kemudian :(((

Metode ramalan yang satu ini pun mudah-mudah saja: kamu hanya disuruh meluruskan lengan, sementara temanmu akan menggerakkan dua jarinya bergantian, mulai dari ujung jarimu sampai lipatan lenganmu di dekat siku. Jenis pertanyaannya dimulai dari yang ringan (nanyain nama doang), lalu diakhiri dengan pertanyaan cita-cita (“Cita-citamu apa?”).

Selepas kamu menjawab pertanyaan tersebut (“Lolos CPNS.”), temanmu akan menggerakkan jarinya sambil bergumam, “Jadi, nggak, jadi, nggak, jadi, nggak…” dan menuju lipatan lengan. Kalau di titik terakhir nanti ‘mantra’-nya berhenti di kata ‘Jadi’, ya cita-citamu terkabul. Mudah banget, kan~

Iya, iya, segampang itu melihat masa depan, nggak perlu upload dokumen lama-lama, ya Allah!!!!1!!11!!!