MOJOK.CO Pengalaman jadi anak magang emang nggak bisa buat bayar tagihan, sih, tapi kerja magang nggak dibayar juga bisa tetep seru, kok.

Sekitar tahun 2014 akhir atau 2015 awal, saya jadi anak magang di bandara, bagian informasi. Iya, mengeluarkan suara halo-halo dan pengumuman panggilan penumpang yang terlambat boarding sampai pengumuman delay pesawat adalah apa yang saya lakukan selama satu bulan penuh, setelah satu bulan sebelumnya saya berkutat di bagian sekretariat dan mengurus urusan administratif yang terkait dengan airport services.

Pengalaman jadi anak magang tadi saya ingat dengan baik di kepala. Tapi, ada satu pertanyaan yang saya ingat saya dapatkan kala itu:

“Kamu dibayar nggak magang di sana?”

Kalau pertanyaan itu diberikan saat saya berada di tengah-tengah masa magang, saya jelas bakal jawab, “Nggak.” Lah gimana, makan siang aja saya beli pakai uang sendiri, kok.

Tapi menyenangkannya, bos saya lumayan royal. Sering kali, kami—para anak magang yang seragamnya cuma jaket almamater kampus—ditraktir makan siang bareng di luar bersama karyawan-karyawan lainnya, bahkan pernah juga diajak karaoke bersama.

Di akhir masa magang, saya baru tahu bahwa hidup ini penuh kejutan: Bos saya tadi memutuskan memberikan kami bonus berupa uang. Nggak banyak, memang, tapi saat itu rasanya cukup puas, apalagi saya pun sudah dapat pengalaman yang banyak, lengkap dengan jejaring baru yang luas.

Tapi, usut punya usut, PerMenakertrans Nomor PER/22/MEN/IX/2009 telah mengatur soal ini. Dalam peraturan tersebut, disebutkan salah satu hak pemagang adalah uang saku dan/atau uang transportasi. Dengan kata lain, apa yang dilakukan oleh bos saya adalah semata-mata memenuhi peraturan tadi.

Baca juga:  Jawaban dari Mahasiswa buat Dosen yang Baper Soal Etika Mahasiswa

Nah, kini, di lini masa media sosial sedang berlangsung debat perihal betapa jadi anak magang semestinya dibayar. Ini bermula dari cuitan akun @AOC yang kemudian ditanggapi banyak orang, termasuk Gustika Jusuf yang merupakan cucu dari Mohammad Hatta.

Kalau @AOC menyebut bahwa magang seharusnya dibayar karena “experience doesn’t pay the bill”, Gustika justru meyakini bahwa anak magang tak dibayar itu sah-sah saja. Dikatakannya, “Sometimes we pursue unpaid internships for the experience exactly, networking, and more. Although if it’s a for-profit organisation or company, they definitely should pay their interns.”

Hmm, jadi sebenarnya lebih makes sense mana: Magang berbayar atau nggak berbayar?

Apa yang Biasa Terjadi saat Magang dan Kenapa Oke-Oke Saja Nggak Dapat Uang

Di Mojok sendiri, anak magang nggak mendapat gaji bulanan. Paling pol, anak magang dapat makan siang gratis dengan bonus lelucon garing yang bakal membuat dia harus terkekeh-kekeh kaku karena takut digaplok kalau nggak ikut ketawa. Wkwk.

Ada anak magang yang langsung jadi idola karena hobi pergi ke Indomaret—membuat karyawan ikut-ikutan titip beli jajan. Ada juga anak magang yang tampaknya rajin bersih-bersih sehingga bisa jadi partner yang baik untuk nguras kolam ikan. Hal yang sama pun terjadi pada saya.

Di tempat magang, beberapa karyawan sering kali “meminta tolong” saya pergi ke fotokopian untuk memperbanyak berkas sampai-sampai mas-mas fotokopiannya hafal sama saya. Saking hafalnya, saya curiga kalau waktu itu kami ketemu di jalan, dia kayaknya bakal nyapa saya dengan kalimat, “Mau difotokopi berapa lembar, Mbak, motornya?”

Baca juga:  Kehidupan Setelah Lulus Kuliah yang Super Duper Mega Menyebalkan

Bekerja tidak sesuai job desc adalah inti penting dari “menjadi anak magang”. Ada banyak ceruk yang sebenarnya bisa diulik oleh anak magang dan ini justru bisa menjadi keuntungan bagi mereka—tidak melulu soal uang. Kawan saya pernah magang di stasiun televisi di bagian grafis, tapi ia justru menemukan passion dan bakatnya di bidang voice over. See?

Pengalaman-pengalaman eksplorasi semacam inilah yang membuat beberapa orang santai-santai saja bekerja magang tanpa bayaran cash—apalagi yang lebih butuh barteran berupa nilai untuk menunjang keperluan mata kuliah.

Ingat-Ingat Ini saat Kamu Magang!

Tapi, ada satu hal yang penting: peserta magang nggak melulu mahasiswa yang butuh nilai. Ada juga orang-orang yang belum benar-benar ingin bekerja dan masih ingin mencari pengalaman. Hal-hal semacam ini masih perlu dipertimbangkan perihal berbayar atau tidak berbayar.

Mengutip pernyataan Gustika, “Having an unpaid internship teaches me to work smart .” Meskipun beberapa orang menyebut ini adalah privilege Gustika yang nggak dimiliki semua orang, kayaknya kita harus menggarisbawahi perihal “work smart”.

Maksud saya, kalau kamu mendaftar jadi anak magang tapi “dikerjai” dengan beban seperti karyawan profesional dan tidak dibayar dengan layak, ya ngapain juga tahan lama-lama di sana? Tolonglah, keperluanmu untuk mencari pengalaman itu jangan sampai disalahgunakan sebagai peluang buat orang lain mencari tenaga kerja profesional yang murah meriah.

Hhhh. Emangnya diskon di Matahari?!