MOJOK.CO Pro dan kontra pemisahan area laki-laki dan perempuan di tempat parkir ini sebenarnya lucu juga. Kenapa nggak kita maksimalkan aja sekalian, sih?

Netizen heboh. Pemisahan tempat parkir area laki-laki dan perempuan mendadak jadi sorotan saat mulai tersebar di media sosial. Dari RSUD Depok, foto pemisahan area parkir ini beredar. Tanggapannya pun beragam, baik pro maupun kontra.

Padahal, kalau dipikir-pikir, pemisahan area laki-laki dan perempuan ini sah-sah aja, kok. Coba deh pergi ke Matahari Mall dan cari baju buat perempuan—lantainya pasti dipisah dengan lantai tempat berjualan pakaian laki-laki. Terus, kenapa Matahari Mall nggak menerima pro dan kontra juga??? Hmm???

Apa pun alasannya, baik karena agama atau faktor pemudahan, pemisahan area laki-laki dan perempuan kayaknya seru juga kalau diterapkan di banyak tempat. Biar apa? Ya nggak biar apa-apa—biar seru aja dunia ini~

1. ATM

Asal kamu tahu, selain memiliki kepanjangan “Automatic Teller Machine” dan “Anjungan Tunai Mandiri”, ATM kemungkinan bermakna “Ambil Tunai, Mas” atau “Ambil Tunai, Mbak”. Atas dasar itulah, ATM perlu dipisah antara laki-laki dan perempuan.

Lagi pula, dengan kebijakan ini, kaum perempuan jelas bisa menunjukkan “taringnya” dalam kesetaraan gender. Artinya, kaum perempuan juga bisa bekerja mandiri dan punya gaji untuk diambil setiap bulan di ATM—nggak melulu nunggu dikasih uang sama suami atau pacar.

Baca juga:  Dihack, Di Hack, atau Di-hack: Mana Penulisan yang Benar?

Eh bentar, bentar—hari gini memangnya masih ada perempuan yang minta-minta uang sama pacar, ya??? Hadeh~

2. Lampu Merah

Beberapa kali di lampu merah, mas-mas di sebelah saya siul-siul kayak orang lagi manggil burung dara, sampai-sampai saya jadi terganggu. Untuk itu, saya menyarankan bahwa lampu merah, atau bahasa resminya adalah lampu lalu lintas alias traffic light, juga perlu diberi perhatian dan area terpisah laki-laki dan perempuan.

Kalau hal ini terwujud, saya rasa jadinya bakal menyenangkan. Mungkin saja, lampu merah di area perempuan nanti warnanya akan jadi merah muda, sedangkan di area laki-laki warnanya bakal jadi biru—seperti kebiasaan kita semua memisahkan warna pink untuk perempuan, biru untuk laki-laki. Mamam~

3. Mal

Sebagai pusat perbelanjaan dan pusat hangout, mal juga tak luput dari rencana pemisahan area laki-laki dan perempuan. Yah, kalau di parkiran mal dan rumah sakit aja ada pemisahan area, kenapa nggak sekalian bangunannya terbagi jadi dua bagian, biar nggak nanggung???

Dengan pemisahan area laki-laki dan perempuan di mal ini, setidaknya ada beberapa keuntungan; salah satunya: pihak Matahari Mall nggak perlu mengadakan lantai tambahan untuk jualan baju laki-laki di mal khusus perempuan, begitu juga sebaliknya.

4. Jalan Raya

Sering kali, ibu-ibu yang mengendarai sepeda motor di jalan raya dianggap “mengganggu”. Pasalnya, saat mau belok kiri, lampu sen mereka malah menyala ke sebelah kanan, membuat pengendara lainnya jadi kecele. Padahal, hal yang sama pun bisa terjadi pada bapak-bapak, dan ini serius.

Baca juga:  Penulisan Di dan Pun: Harusnya Dipisah atau Digabung, Sih?

Tapi, baiklah—nggak apa-apa. Sebagai bentuk dukungan sesama perempuan, pemisahan wilayah laki-laki dan perempuan di jalan raya pun rasanya oke-oke aja. Setiap kali ada ibu-ibu yang salah menyalakan sen, pihak yang berwenang (yang tentu saja juga perempuan) akan memberikan semangat dan motivasi sampai lampu sen yang benar bisa dinyalakan.

Ah, perempuan yang membantu perempuan lain itu memang so sweet banget, Gaes~

5. Kompleks Perumahan

Bukan apa-apa, tapi—sekali lagi—kenapa nggak sekalian saja kita menggunakan semangat pemisahan laki-laki dan perempuan ini tanpa nanggung, termasuk di area tempat tinggal agar lebih aman dan nyaman?

Apa? Kamu tanya, tujuannya apa?

Loh, kok pakai ditanya lagi? Pemisahan ini jelas bertujuan satu, yaitu agar ada rasa rindu yang membara.

Ha gimana lagi, kadang memang ada orang yang harus dijauhi sejauh-jauhnya dulu hanya untuk kemudian menyadari bahwa dirinya kangen setengah mati, je.



Loading...



No more articles