Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Belum Sarjana Kok Banyak Pesta?

Anik Setyaningrum oleh Anik Setyaningrum
21 November 2018
A A
belum sarjana
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Teruntuk sobat-sobat kampusku yang senang berpesta dan berhura-hura padahal belum resmi jadi sarjana~

Menjadi sarjana tentu saja menjadi tujuan utama para mahasiswa. Untuk mencapainya, banyak hal yang harus dilalui mulai dari berangkat kuliah, menempuh ujian-ujian pada setiap semesternya, melaksanakan magang, sampai akhirnya bertemu dengan tantangan menyusun proposal skripsi.

Iklan

Setelah skripsi selesai, jangan harap penderitaan berakhir sampai di situ, masih ada satu tantangan terakhir yaitu  sidang skripsi tempat skripsimu dikoyak-koyak dosen penguji. Jika tidak ada revisi, baru deh bisa langsung wisuda dan menjadi sarjana.

Kelihatannya runtut dan simpel ya? Tetapi, sesungguhnya tidak semudah itu, Ferguso.

Apalagi jika kamu adalah mahasiswa yang dikelilingi oleh mereka yang gila perayaan… Eh gimana, gimana?

Bukan bermaksud menakut-nakuti tapi bagi kamu yang calon sarjana, tidak ada salahnya periksa tipe orang-orang di sekitarmu sekarang juga. Itung-itung, nanti jika harus menempuh prosesi yang begitu rempong, kamu sudah menyiapkannya.

Tentu saja menjadi sarjana itu butuh disiapkan. Tetapi, yang saya maksud di sini adalah persiapan di luar bimbingan, teori-teori, dan pasang kuda-kuda untuk masa depan sebagai sarjana. Siapa tahu, gara-gara orang-orang di sekelilingmu, kamu terpaksa menjadi calon sarjana yang banyak gaya.

Tipe calon sarjana jenis ini bisa ditandai sejak ia menempuh seminar proposal atau saat mempresentasikan skripsinya di hadapan dosen dan teman-temannya. Jika setelah presentasi kemudian ada sekelompok orang yang menghampiri, memasangkan mahkota dan selempang bertuliskan Calon Sarjana, kemungkinan besar setelah keluar dari kelas ia harus mentraktir teman-temannya.

Mengapa harus begitu? Karena ia dikelilingi orang-orang yang suka perayaan. Tidak afdol rasanya jika sebagai orang yang berselempang Calon Sarjana tidak menampakkan citra diri sebagai orang sukses yang suka mentraktir kawan-kawannya.

Padahal, ia masih harus menghidupi dirinya sendiri. Ia butuh ongkos bolak-balik untuk bimbingan. Juga, buku-buku referensi yang biar afdol juga, harus dimiliki, harus dibeli dengan harga yang tidak bisa dikatakan murah. Belum lagi jika stres melanda di tengah pengerjaan, ia masih butuh biaya untuk sekadar rekreasi atau paling tidak pergi ke warung kopi.

Belum lagi jika stres (dan malas) berkepanjangan. Sudah terlanjur traktir-traktir atas pencapaian bakal skripsi eh skripsinya nggak jadi-jadi.

Begitu skripsi selesai, dengan segala perjuangan yang (dikira) simpel itu, si calon sarjana akhirnya sidang juga. Satu tangga menuju sarjana berhasil dilewati. Sebuah pencapaian yang membanggakan. Sudah bisa ditebak seperti ketika presentasi bakal skripsi berbulan-bulan (atau bersemester-semester)  yang lalu, rombongan penyambut di luar ruangan menyiapkan mahkota baru dan selempang baru bertuliskan Sarjana: siap melamar/dilamar. Dengan menarik napas dalam-dalam, si calon sarjana pasrah badannya ditempeli atribut-atribut kesarjanaan versi teman-temannya.

Si calon sarjana membaca tulisan di selempangnya lagi sambil mengingat revisi-revisi dari penguji serta merenungkan makna dari siap melamar/dilamar. Saat perasaan dan perenungan mulai campur aduk, akan ada celetukan

“Traktir dong! Kan udah sidang”

Iklan

Celetukan tersebut tidak bisa dianggap hanya celetukan belaka. Sebab celetukan tersebut pasti akan diikuti oleh celetukan-celetukan yang lain, bernada sama. Akhirnya si sarjana yang belum sah karena masih harus revisi tersebut, menanggung biaya makan teman-temannya. Teman-teman yang selalu setia memberikan beban lewat selempang-selempangnya.

Belum sampai wisuda, ia sudah merasa lelah dengan segala beban calon sarjana yang banyak pesta. Perayaan itu boleh, asal tidak ada pihak yang merasa dibebani. Perayaan kan tujuannya bersyukur dengan perasaan senang atas suatu pencapaian.

Jangan sampai perayaan sejak dini, misal, sejak seminar proposal, malah menjadi beban baru. Iya kalau skripsinya berhasil diselesaikan, seminar proposal kan baru permulaan, mengapa perlu dirayakan sedemikan rupa? Untuk menyemangati? Menyemangati kan tidak perlu seboros itu wahai para calon sarjana.

Ingat kebutuhanmu itu, lho. Masih banyak.

Bagaimana nasib para mahasiswa yang kurang mampu? Buat hidup saja susah kok harus traktrir teman-temannya, kok harus pesta-pesta. Uang pas-pasan yang seharusnya untuk biaya pendidikan maka terpaksa dipakai untuk hura-hura.

Tidak semua calon sarjana itu kaya raya sehingga bisa menanggung biaya makan teman-temannya setelah satu pencapaian terlewati. Jika tiga tahapan harus dilewati untuk menjadi sarjana berarti paling tidak ada tiga pesta yang harus digelar. Padahal, sebenarnya pesta itu bisa dirapel sampai di akhir perjuangannya, setelah benar-benar sah menjadi sarjana.

Perlu diingat, menjadi sarjana tidak hanya selesai sampai wisuda dan pesta-pesta saja. Masih ada banyak hal yang harus dicapai. Masih ada banyak hal yang menuntut untuk dirayakan.

Wahai para calon sarjana, yakin masih tetap ingin banyak pesta?

 

Terakhir diperbarui pada 21 November 2018 oleh

Tags: kuliahMahasiswasarjana
Anik Setyaningrum

Anik Setyaningrum

Artikel Terkait

sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO
Sehari-hari

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO
Urban

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan MOJOK.CO
Tajuk

Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan

6 Juli 2026
Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri? MOJOK.CO
Tajuk

Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri?

29 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri? MOJOK.CO

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri?

20 Juli 2026
Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia MOJOK.CO

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia

15 Juli 2026
sarjana, ijazah s1, pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan

20 Juli 2026
Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum.MOJOK.CO

Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.