Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Hak Pemotor Untuk Elus-Elus Dengkul di Jalanan Utama Jakarta

Andreas Rossi oleh Andreas Rossi
23 Agustus 2017
A A
170823 ESAI Hak PEMOTOR Mojok

170823 ESAI Hak PEMOTOR Mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Motor akan dilarang lewat di kawasan Rasuna Said dan Sudirman, Jakarta. Larangan tersebut akan diterapkan mulai 11 Oktober 2017.

Argumen pemerintah, pertumbuhan motor lebih tinggi dibanding pertambahan ruas jalan. Selama 5 tahun terakhir, motor bertambah rata-rata 9,7 – 11 persen, mobil tumbuh lebih sedikit dengan rata-rata 7,9 – 8,75 persen. Sedangkan luas jalan rata-rata 0,01 persen saja.

Membandingkan pertumbuhan saja sebetulnya tidak akurat. Kita tahu mobil memakan lebih banyak tempat dibanding motor. Anggap saja semua mobil adalah Avanza dan semua motor adalah Supra untuk memudahkan. Dimensi motor Supra adalah 1,907 x 0,702 m = 1,33 m2. Sedangkan Avanza adalah 4,140 x 1,660 m = 6,87 m2.

Apa artinya? Artinya 1 mobil setidaknya memakan ruang lima kali lebih banyak dibanding 1 motor.

Mari gabungkan dengan laju pertumbuhan keduanya. Memang, jumlah motor bertambah sekitar 2 persen lebih cepat dibanding mobil setiap tahunnya. Namun, dengan memperhitungkan dimensi kendaraan, sesungguhnya mobil tumbuh 4,1 – 4,2 kali lebih cepat dalam menghabiskan tempat di jalanan.

“Tapi kan mobil bisa muat lebih banyak?” Tidak.

Avanza, dengan dimensi di atas, jika ditumpangi oleh 9 orang pun, 1 orangnya tetap memakan tempat 0,76 m2. Supra, ditumpangi oleh dua orang, memakan 0,66 m2 per orang. Dan kita tahu, sangat jarang 1 mobil diisi oleh 9 orang. Bahkan, menurut sebuah studi, occupancy rate mobil pribadi turun dari rata-rata 1,95 menjadi 1,75 penumpang per mobil.

“Tapi kan jumlah motor di Jakarta lebih banyak? Kepemilikan motor di Jakarta 74 persen, sedang mobil cuma 18 persen.”

Betul, tapi tidak semua motor dan mobil itu berbarengan tumplek blek di jalanan. Bahkan kalau tumplek blek sekalipun (dengan rasio 74 motor dibanding 18 mobil ada di satu ruas jalan secara bersamaan), dengan memperhitungkan dimensinya, mobil tetap memakan tempat 1,25 x lebih banyak dibanding motor. Dan kalau mau akurat, di area metropolitan Jakarta, sebetulnya lebih banyak persentase penduduk yang pakai mobil (31 persen) dibanding pakai motor (14 persen).

Situ juga ndak boleh lupa, motor itu lebih lincah di jalan. Ia lebih cepat sampai ke tujuan di saat mobil-mobil masih ngendon di jalanan. Di kota lain seperti Melbourne, berkendara dengan motor bisa 3 kali lebih cepat dibandingkan mobil. Dengan menggunakan data di Bandung dan hitungan di sini sebagai dasar, setidaknya motor bisa melaju 1,21 kali – 3 kali lebih cepat. Penelitian lain di Brusel pun menunjukkan, kalau 10 persen mobil pribadi diganti sepeda motor, waktu tempuh berkurang sebanyak 40 persen.

Kita belum ngomong bagaimana polutifnya mobil. Studi-studi yang saya sebutkan di atas membuktikan, mobil lebih mengotori udara dibandingkan motor. Survei Susenas pada 2009 juga menunjukkan, mobil rata-rata menghabiskan 4 kali lebih banyak bensin dibanding motor tiap harinya.

Tanpa perlu mikir abot sekalipun, Anda bisa paham motor lebih “bersih” dibandingkan mobil. Motor lebih gesit (tidak menghabiskan banyak waktu di kemacetan dan membakar lebih banyak bensin ketika idling), kapasitas mesinnya juga lebih kecil.

“Tapi kan pengendara motor kelakuannya sering bikin macet, kayak berhenti di bawah fly over kalau hujan?”

Yaelah, Bray. Kalau main salah-salahan, memangnya mobil-mobil yang sering parkir di bahu jalan gak bikin macet? Lagian kalau itu masalahnya, solusinya adalah penertiban, bukan pelarangan. Jangan minum obat diare kalau sakitnya migren.

Iklan

Solusinya Gimana?

Saya bukan gubernur Jakarta, jadi Anda sebetulnya salah tanya. Tapi, sebelum saya ditegur netijen karena tidak memberikan solusi, mari berandai-andai bahwa saya calon gubernur Jakarta yang lagi debat publik. Tentu, seperti politisi lain, pertama-tama saya akan menjawab pembenahan transportasi umum tetap yang paling utama. Tak hanya dari segi keamanan, kenyamanan, dan ketepatan waktu, tetapi juga konektivitas. Artinya, kalau udah turun di stasiun/terminal, kita nggak kesusahan nyari transportasi lanjutan ke kantor.

Kedua, kita perlu adil sejak dalam pikiran. Betul bahwa mobil juga diatur oleh Pemda Jakarta. Dulu dengan 3-in-one, sekarang ganjil genap. Tapi bagaimana dengan Electronic Road Pricing? Itu alat ERP (seperti di depan Setiabudi One) mangkrak begitu saja. Kalau motor dilarang lewat Rasuna Said, mobil pribadi juga harus membayar untuk lewat situ.

Tetapi, mari kita mikir begini: kenapa tidak pernah ada pelarangan total untuk mobil? Motor saja sudah dilarang lewat di Medan Merdeka, Sudirman, dan Thamrin. Belum lagi mobil punya privilese lewat di jalan tol dan beberapa fly over seperti Kasablanka dan Antasari. Masak cuma pemotor yang diharuskan naik transportasi umum? Ini ndak adil.

Kalau mau mengurangi kemacetan sambil tetap adil terhadap pemotor, pemerintah bisa membangun jalur khusus sepeda motor. Bahkan ini pun win-win solution juga bagi pemilik mobil. Waktu tempuh jadi lebih cepat dengan solusi ini.

Ketiga, kita memang harus membenahi pola konsumsi masyarakat. Di Indonesia dan negara Asia lain, banyak orang yang tetap membeli mobil, meskipun naik mobil di jalanan kota lebih lambat dari motor. Bagi rumah tangga yang punya mobil, rata-rata kepemilikannya adalah 1,2 mobil per rumah tangga. Ini kan tidak logis? Sudah lebih lelet, punyanya lebih dari satu pula. Rupanya, studi menunjukkan kalau memang orang beli mobil itu buat gaya-gayaan. Anda tidak perlu heran, pameran mobil di Jakarta kemarin bisa menyedot 400.000 pengunjung, bahkan menjual 17.000 unit dalam 10 hari.

Selama kelas menengah ngehek tidak mengubah pola konsumsinya, percuma saja kita membenahi transportasi umum. Solusinya? Kita bisa menaikkan pajaknya, atau mengenakan cukai pada kendaraan bermotor. Duitnya lalu di-earmark ke transportasi publik. Kalau masih gagal, ya mau tidak mau kita kasih kuota produksi sekalian pabrik-pabrik itu.

Berani tidaknya melawan industri otomotif itu ya urusan pemerintah. Tapi karena saya naik motor, tentu saya punya kepentingan buat membela sesama pemotor.

Kalau yang naik mobil bisa saling menggenggam tangan di atas perseneling sambil nglencer di jalanan Rasuna Said, di mana hak pemotor untuk rangkulan atau mengelus-elus dengkul di jalanan yang sama?

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2021 oleh

Tags: avanzaHak PemotorjakartaSupra
Andreas Rossi

Andreas Rossi

Artikel Terkait

Jogja berbenah saat Jakarta alami kemunduran. MOJOK.CO
Urban

25 Tahun Adu Nasib di Jakarta sebagai Orang Gila Kerja, Ternyata Hidup Lebih Waras Saat Pindah ke Jogja

20 Mei 2026
Anak Jakarta vs Anak Kabupaten.MOJOK.CO
Urban

4 Tahun Merantau di Jakarta Bikin Sadar, “Orang Kabupaten” Jauh Lebih Toksik dari Anak Jaksel: Sialnya, Susah di-Cut Off

19 Mei 2026
Yamaha Jupiter Z, Motor Sakral yang Hadirkan Rasa Takut MOJOK.CO
Otomojok

Yamaha Jupiter Z, Motor Sakral yang Menghadirkan Rasa Takut tapi Ternyata Menjadi Simbol Perjuangan yang Tak Pernah Diceritakan

7 Mei 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi
Urban

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Veda Ega Pratama Buktikan Mental Comeback, Start P20 Finis 8 Besar di Catalunya

Veda Ega Pratama Buktikan Mental Comeback di Moto3, Start P20 Finis 8 Besar di Catalunya

17 Mei 2026
Narasi optimisme pemerintah berjarak lebar dengan kenyataan kondisi tekanan ekonomi di bawah MOJOK.CO

Jarak Lebar Narasi Optimisme Pemerintah dengan Kondisi Riil Masyarakat: Katanya Ekonomi Baik-baik Saja, Padahal Sebaliknya

20 Mei 2026
logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO

Logika Ekonomi Orang Desa yang Bisa Menyelamatkan Anak Muda dari Masalah Finansial, Tapi Kerap Terlupakan

20 Mei 2026
Lewat album "Jalan Kaki" - Hifdzi Khoir ceritakan perjalanan hidup, juga sebagai legacy dari mendiang Gusti Irwan Wibowo MOJOK.CO

Album “Jalan Kaki”: Cara Hifdzi Khoir Bercerita tentang Perjalanan Hidup, Jadi Legacy dari Mendiang Gusti

19 Mei 2026
Sikap atau reaksi pekewuh dan basa-basi ala orang Jawa jadi karakter yang justru merepotkan diri sendiri MOJOK.CO

Sikap Pekewuh dan Basa-basi Ala Orang Jawa bikin Repot Diri Sendiri, Sialnya Tak Gampang buat Terus Terang

21 Mei 2026
Siswa Katolik di Muhammadiyah Pekalongan. MOJOK.CO

Cerita Siswa Katolik Suka Otak-atik Motor hingga Lulus dari SMK Muhammadiyah dan Dapat Beasiswa Magang ke Jepang 

18 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.