Curiosity, atau rasa penasaran adalah hal yang manusiawi, masuk akal, logis. Hal ini merupakan sesuatu yang natural, karena demikianlah datangnya pengetahuan: berawal dari rasa penasaran. Tapi bagaimana bila curiosity tersebut menyasar kehidupan privat seseorang (baca: target atau mantan)?

Para pengidap curiosity di stadium tersebut menurut Felix Guattari–psikiatris revolusioner asal Prancis–hanya bisa ditemukan pada individu-individu yang “lemah lembut (namun bukan lelembut), sensitif (dan bukan hiper aktif), hampir patah arang (hampir loh! bukan sudah patah), namun memiliki optimisme” yang hampir tidak masuk akal. Saya sudah lupa kutipan ini dari buku yang mana. Anggap saja peristiwa ini sudah digariskan oleh yang Maha Kuasa. Tapi harap percaya dan ambil hikmahnya.

Singkatnya, curiosity hanya eksis di kalangan jomblo yang militansinya teruji oleh peristiwa-peristiwa tragis yang menimpa mereka.

Saya pernah mengalami momen-momen dijangkiti curiosity bertahun-tahun silam sebelum akhirnya berhasil sembuh total dengan rajin memasak, rajin hang out dengan berbagai jenis kelompok sosial, dan rajin menabung. (Bagian yang terakhir ini justru maha penting. Sebab jika tak ada cadangan devisa, hadirin jomblo sekalian akan sangat susah melakukan poin pertama dan kedua. Seberapapun terhormatnya kalian di mata target.)

Kepada massa jomblo di luar sana yang sedang memimpikan tibanya saat-sat penuh tawa berdua, bergandengan tangan saat jalan, berbagi payung saat hujan, berbagi kartu ATM saat kere, melakukan aktivitas stalking adalah taktik paling logis yang dapat ditempuh ketika (menurut Lenin) situasi masih tak kondusif dan represif.

Menjadi stalker, berarti menjadi seseorang yang mengikuti seseorang yang lain dengan hati-hati, diam-diam, dan malu-maluin (jika sampai ketahuan geng tongkrongan atau keluarga besar). Penting untuk diingat bahwa stalking adalah kerja-kerja terukur yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang memiliki jiwa revolusioner.

Sebagai bentuk solidaritas langsung, saya akan membagikan tips singkat kepada pembaca jomblo sekalian terkait web browser pilihan yang dapat digunakan dalam aktivitas memata-matai mantan ataupun target gebetan.

Tips ini merupakan pertanggungjawaban intelektuil setelah melakukan riset mendalam dengan menggunakan metode participatory action research selama empat bulan penuh. (Bundel laporan dapat diminta langsung dengan mendatangi Mojok Institute).

5. Comodo Dragon

Nama web browser ini diadopsi dari hewan karnivora dengan liur mematikan yang hidup di pulau Komodo. Ia menawarkan pilihan bagi stalkers untuk menggunakan DNS milik Comodo ketimbang yang disediakan oleh penyedia jasa internet (internet service provider). Comodo Dragon baik digunakan untuk mereka yang baru memulai pengintaian atau masih ragu-ragu dengan profil sang target. Keunggulan utamanya dikarenakan ia tidak menggunakan Google user tracking sehingga para stalkers mendapat garansi bebas jejak daring jika kemudian ingin berpindah sasaran.

Kelemahannya: web browser ini tidak memiliki akses otomatis ke hati sang target atau mantan (baca: Google Search) dan juga tidak memiliki bug tracking system yang dapat menjelaskan mengapa terjadi kesalahan sehingga jomblowan-jomblowati tetap single hingga saat ini.

4. Opera

Diluncurkan perdana tahun 1996. Opera adalah yang pertama dalam soal keramahan terhadap CSS dan merupakan web browser paling populer ke lima di dunia. Memiliki kemudahan menggunakan keyboard shortcut untuk beberapa hal serta menyediakan kemungkinan untuk memperbesar atau mengecilkan halaman yang sedang dikunjungi. Cocok digunakan untuk para jomblo yang ramah namun senang jalan pintas dan mengalami rabun mata (dan hati).

Kelemahan: jalan pintas tidak selamanya berarti kesuksesan. Keramahan juga dapat sering disalahartikan yang membuat para jomblo akan terus menerus terjebak dalam friendzone.

3. Safari

Web browser paten-nya Apple. Di tahun 2007, (alm) Steve Jobs mengklaim bahwa Safari adalah yang paling cepat di antara jenisnya. Versi mobilenya dianggap memiliki nilai keren lebih karena digunakan oleh iPhone dan iPad. Memiliki Smart Reader yang menghalangi iklan-iklan mengganggu saat sedang mengunjungi sebuah halaman web. Safari juga punya parental controls yang lebih masuk akal dibading sensor ala Kementerian Komunikasi dan Informatika, baik era Tifatul Sembiring maupun setelahnya.

Kelemahan: sempat mengeluarkan versi yang ramah untuk Windows, namun sejak 2012 tidak lagi pernah diperbaharui. Para stalkers Indonesia yang mayoritas menggunakan Windows (bajakan), tentu tidak ingin dianggap kudet (kurang update) oleh sang target atau mantan yang ingin diajak balikan.

2. Mozilla Firefox

Sering disapa Firefox, atau rubah api. Nama keren yang compatible dengan Windows, Linux dan punya versi mobile untuk Android. Masuk lima besar di dunia, tapi paling populer digunakan di Indonesia dengan 55% dari total user menurut StatCounter. Menggunakan Sandbox Security Model dan menjamin keamanan komunikasi Anda dengan penggunaan kriptografi protokol HTTPS. Yayasan Mozilla bahkan mengadakan sayembara hingga 3.000 dolar jika anda menemukan hole (masalah) terkait garansi sekuritas.

Kelemahan: tingginya popularitas Firefox (baca: target) membuatnya rentan, klaim InfoWorld. Para stalkers JKT48, misalnya, mesti realistis dan awas sejak awal terkait persentase sukses mereka. Sikap ini misal dapat dipelajari dari Puthut EA ketika diundang Dian Sastro untuk berjumpa.

1. Google Chrome

Tentu saja dikembangkan oleh Google dan merupakan web browser paling stabil dan populer di dunia (51% pengguna). Menawarkan fitur Incognito bagi stalkers yang terpaksa menggunakan PC atau laptop orang lain ketika menjalankan misi pengintaian. Secara berkala mengupdate informasi soal pishing dan malware. Juga memberi peringatan dini soal kemungkinan situs-situs berbahaya yang dapat merugikan stalkers.

Kelemahan:  menyimpan data pengguna yang kemudian dipergunakan Google untuk melakukan profiling. Para stalkers sangat beresiko terungkap atau bahkan tertangkap basah saat melakukan pengintaian. BIN, BAIS, CIA, FBI dan KPK(?) dapat menggunakan data profil yang dikumpulkan Google untuk mengungkap kelemahan anda di hadapan target atau mantan.

No more articles