Orang-orang masih geger dengan berita seputar Sabdaraja yang memantik intrik ngeri-ngeri sedap. Seorang teman SMP yang sekarang merantau di Kalimantan pun sampai bertanya ke saya, ada apa gerangan di Jogja? Saya jawab, “Biasa, Bro.. drama. Kalau nggak gitu, nggak seru e…”

Saya jadi ingat, beberapa tahun silam, saat saya masih abege, pada hari libur di jam beranjak siang, Indosiar pernah menayangkan drama korea berjudul Princess Hours. Ceritanya tentang seorang gadis biasa-biasa saja yang dijodohkan dengan putra mahkota, dibumbui intrik khas keluarga besar kerajaan. Drama ini benar-benar ngehits dan menjadi salah satu drama korea legendaris selain Endless Love, Full House dan Dae Jang Geum.

Andai saja wahyu yang diterima Ngarso Dalem tidak hanya ganti nama dan pasang nama (yang sejujurnya adalah isu elit keraton, bukan kawula alit), namun juga mbok yo ada isu yang lebih mantap, semisal nguri-nguri budaya.

Akibat wahyu tersebut, seorang mega-seleb facebook yang rumahnya sering dihampiri dhemit-dhemit Jogja sampai-sampai ikut bersuara, seorang filsuf kejawen jadi gelisah “Gusti, sesungguhnya ada apa gerangan?”, hingga budayawan tukang arsip, yang melihat fenomena ontran-ontran ini dari perspektif generasinya, menawarkan pemberontakan alias makar sebagai solusi.

Maka saya, mewakili generasi dedek-dedek kekinian dan ibu-ibu mutakhir, tak mau ketinggalan. Saya merasa perlu untuk turut bersuara dan menyampaikan pendapat terkait silang sengkarut di bumi mataram.  Terkait babakan drama keraton, pertanyaan saya: “Mengapa tidak bikinkan saja GKR Hours? Biar gaduh seantero jagad mayapada.

Namun,  tak elok rasanya jika menduplikasi langsung judul Princess Hours. Sebut saja drama keraton ini sebagai Puteri yang Dimahkotai. Terdengar sangat familiar bukan? Nikita Willy yang menjadi Amira di sinetron Putri yang Ditukar saja pasti akan takjub, “Wow! Kewl!

Dengan diproduksinya Putri yang Dimahkotai, keraton akan semakin melegitimasi fungsinya dalam sistem sosial sebagai lembaga penyokong budaya. Selama ini, keraton Jogja adalah sebuah tujuan wajib wisata bagi turis-turis mancanegara, dengan adanya serial drama keraton, otomatis turis-turis ini tidak hanya pulang membawa kartu pos dan foto dong, tapi juga mengakses internet untuk mengunduh Putri yang Dimahkotai—seperti halnya embaq-embaq ngangkut harddisk ekstrenal ke warnet untuk kopi-kopi drama korea.

Poin saya, ada potensi untuk meng-global-kan budaya lokal dengan opera sabun. Selama ini, sudah adakah sinetron kontemporer Indonesia yang berhasil menjadi pembicaraan masyarakat dunia? Ujung-ujungnya, Indonesia terkenal dengan sinetron-sinetronnya yang full copy-paste dari drama Taiwan, Jepang dan Korea Selatan. (Catatan: drama Princess Hours sempat dikloning, menjadi sinetron yang dibintangi Marshanda dan Baim Wong. Gagal total mengkloning, ketiadasanggupan Sinemart menampilkan setting kerajaan, sinetron itu kandas di tengah jalan).

Sudah saatnya keraton menjadi garda depan menarasikan sekaligus memvisualisasikan drama Jawa yang otentik dan sarat kearifan lokal.

Jika nantinya para sarjana mengeluh mengenai hal-hal semacam komodifikasi atau degradasi budaya adiluhung mataraman atas tayangan Puteri yang Dimahkotai, toh saya tetap optimis, akan lebih banyak yang mendukung daripada yang protes.

Menurut analisis ala riset Mojok.co, berikut daftar pendukungnya:

1. Garda depan K-pop.

Sungguh, mereka adalah fans paling loyal di era kekinian ini. Saya mendengar langsung dari teman-teman sebaya yang menggandrungi K-Pop, bahwasanya mereka tidak hanya mengonsumsi K-drama, reality show, dan lagu-lagu korea. Mereka bahkan belajar budaya asli Korea Selatan, rela belajar otodidak bahasa Korea dengan abjad Hangeul, dan menyisihkan uang jajannya untuk foto mengenakan baju adat Hanbok di festival Korea, plus nyicipin Kimchi dan Bulgogi di restoran mahal.

Dengan loyalitas dan dahaga budaya yang mereka miliki, tembang macapatan bisa ngepop lagi, les hanacaraka dibuka kembali, nonton wayang bisa ngetrend lagi dan Jogja bisa punya jawatan boyband dan girlband (personil dapat diaudisi melalui akun instagram @ugmganteng dan @ugmcantik).

2. Kaum Ibu nuswantara.

Mereka adalah basis penonton yang tangguh, sabar dan kreatif. Meski kiblat sinteron masa kini adalah Ganteng-Ganteng Srigala, kaum Ibu masih sukarela menonton Tukang Bubur Naik Haji hingga ke Surga.

Kalau ditelusuri rekam jejak dunia persinetronan, siapa yang sanggup istiqomah menonton Tersanjung seri ke-embuh kecuali Kaum Ibu? Dan imajinasi Anda jangan terbatas hanya pada hobi rerasan Ibu-Ibu yang biasa mendiskusikan artis A, B dan C, mereka adalah kaum yang peka melihat celah pasar lalu memproduksi jilbab Manohara, jilbab Dewi Sandra, kaftan Syahrini.

Bayangkan jika Puteri yang Dimahkotai jadi tayang, pasti fashion semacam kutubaru GKR dan jarik GKR akan booming di berbagai kota. Perlu diketahui, salah satu pujian internasional untuk Princess Hours yakni drama tersebut mampu menyajikan wadrobe elegan perpaduan barat dan timur.

3. Para pecinta serial drama kerajaan di Indonesia yang nyaris tidak pernah menjadi tuan di rumahnya sendiri.

Mungkin Anda masih ingat, betapa nikmatnya menonton Putri Huan-Zhu, lalu bergeser ke Dae Jang Geum, sekarang ke Jodha Akbar. meski kita sempat punya tayangan bertemakan kerajaan seperti Angling Dharma, Tutur Tinular, Misteri Gunung Merapi, tapi ketahuilah, zaman telah berubah. Zeitgeist mengarah ke alat-alat semacam tongsis. Maka di halaman keraton yang teduh dan ayem, muda-mudi akan sibuk berfoto narsis ketimbang mencoba berkenalan dengan abdi ndalem.

Oleh karena itu, butuh tekad bulat, dana istimewa, dan Sabda Raja (yang terakhir yang paling penting) untuk membuat sinetron bertemakan nguri-nguri budaya. Agar  wajah Jogja di layar kaca tidak berhenti pada FTV-FTV yang medhoknya-segituamat.

  • Rafa N Rafi

    Dmn lucunya?

  • fans baru Inzaghi

    Sepertinya beda angan2mu dg apa yg terjadi di keraton jogja… Derama yg kamu sebutkan itu lebih mirip dg naiknya rakyat jelata menjadi bagian dari aristokrat kerajaan (menjadi bagian kerjaan). Apalagi ada putri huanzu, kl km sudah baca beyond imagination tulisan prof faruk sedikit dia menceritakan kesenian rakyat dg menganalogikan putri huanzu.. Dimana sioyence adalah seorang rakyat jelata, tdk memiliki darah ningrat sekalipun, dan tidak pernah mendapatkan pendidikan kerajaan..nah disitulah letak bedanya. Putri yg dari darah jelata yg menjadi subjek yg menjadi pembeda antara tata krama kerajaan dan kebiasaan sio yence sbg orang biasa. Barulah disitu hasrat soyence memberontak dari keberaturan dan tata krama istana. Nah dimana letak perlawanan putri jelata yg dimahkotai. Kl kasus d keraton jogja bknnya dia anak kandungnya raja dan g pernah dibuang atau dadakan mencuat namanya setelah bertahun2 mencari hamengkubuwono? Tp kak natia sprtinya sangat mendukung pemerintahan kraton penuh 😀

    • amanatia

      Justru di sini letak asiknya kalau yang dimahkotai adl putri yang sudah apa apa, bukan kaum jelata… ingat haji muhidin? Dia antagonis, ngeselin, tapi justru jadi paporit pemirsa, makanya sinetron tukang bubur tinggal nama doang. Tokoh utama malah dimatiin. Bisa jd nanti impropisasi sutradara ke para abdi ndalem atau mahasiswi jomblo yg kerjaannya demo tiap hari di dpn keraton menentang peodalisme. Bisa saja khaaan? 😉

  • fans baru Inzaghi

    Tapi tapi tapi…. Putri2an yg naik tahta krn ayahnya ga punya anak cowo sih Barbie udah mengadopsinya sbg cerita… Princess Sophia kl tdk salah judulnya. Mksdku analoginya tdk masuk akal kalau princess hours, putri huanzu, jang geum, ora cocok… Kecuali kalau drama korea Queen Seondeok… Si putri naik tahta dg diiringi konflik istana, baik dari sepupu2nya, dan ambisi selir bapaknya yg jd pemegang stempel untuk berkuasa. Pertanyaannya, apakah putri jogja dg queen seondeok sama2 didukung rakyatnya serta perangkat istana? Aku sendiri bkn org jogja dan tdk begitu tertarik dg istana sentris yg mendongeng hehehe… Tp yg pasti ontran ontran ya biarlah terjadi yg ditakutkan orang2 istana. Yg ribut jg paling org2 istana. Ga akan ada efek besarnya….

    • Om Pege

      Di kalangan biasa memang tak terjadi keributan, tapi hanya sekedar rasan-rasan di sudut-sudut angkringan, pos ronda dll. Klo masalah efek, saya menanggapi sebagai orang Jogja ya jelas ada walau sulit dijelaskan secara ilmiah

  • Meutia Arianti

    Wah… Unik, keren, menarik banget! Hehehe.
    Kok jadi punya ide abis baca artikel ini!

No more articles