Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Pelecehan Mendoan di Tukang Gorengan Harus Dihentikan, Warga Banyumasan Bersatulah!

Alviando Permana oleh Alviando Permana
25 September 2020
A A
Pelecehan Mendoan di Tukang Gorengan Harus Dihentikan, Warga Banyumasan Bersatulah!

Pelecehan Mendoan di Tukang Gorengan Harus Dihentikan, Warga Banyumasan Bersatulah!

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bahwa sesungguhnya kenikmatan mendoan banyumasan yang hakiki adalah hak rakyat di seluruh pelosok Indonesia!

Mendoan itu makanan yang fleksibel. Bisa dimakan buat cemilan maupun lauk pendamping makan berat. Dibandingkan dengan saya, mendoan sudah banyak dikenal masyarakat luas. 

Yah paling tidak, di Google Trends, tren pencarian kata mendoan tertinggi tersebar di Yogyakarta, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Papua Barat, Banten, hingga Kepulauan Riau.

Hal tersebut menunjukkan bahwa mendoan yang pada mulanya merupakan makanan khas Karesidenan Banyumas tidak hanya dikenal masyarakat Jawa, namun sudah melanglang buana ke seluruh penjuru negeri.

Meski berasal dari kata “mendo” yang artinya setengah matang alias masih lembek, mendoan mampu bersaing dengan berbagai gorengan lain, terutama di tukang gorengan berbagai daerah di Indonesia.

Suangar banget kan? Baru setengah matang aja udah kayak gitu, coba kalau matang betulan.

Dari kalangan bawah sampai kalangan atas, mendoan tetap mampu dinikmati oleh lidah dari berbagai kelas sosial. Artinya, hanya dari mendoanlah ide besar masyarakat tanpa kelas itu bisa kesampaian.

Saya bahkan yakin, sekelas Pak Jokowi yang saat ini sedang sibuk fokus ngurus ekonomi, eh, maksudnya fokus ngurus penanganan Covid-19 saja pasti pernah makan mendoan. Paling tidak, sekali dalam hidup beliau pasti pernah makan.

Sayangnya, meski dikenal luas, sebenarnya saya agak kecewa dengan penetrasi mendoan ke seluruh negeri selama ini. Apalagi sebagai anak banyumasan asli, saya merasa mendoan di luar Banyumas itu pelan-pelan sudah mulai kehilangan marwahnya.

Hal itu sudah bisa dibuktikan melalui lidah saya. Lidah seorang anak rantau, yang ketika keluar dari Banyumas Rock City, belum pernah menjumpai mendoan di luar Banyumas yang rasanya benar-benar mendoan sejati.

Bahkan saya cukup yakin, hal semacam ini bukan hanya menjadi keresahan saya seorang, namun juga menjadi kegelisahan pengembara-pengembara dari Banyumas lain yang menyebar ke daerah rantau.

Pada mulanya saya sempat berbaik sangka ketika saya memesan mendoan ke mas-mas tukang gorengan di luar Karesidenan Banyumas. Saat itu, saya mengira mas-mas penjual gorengan ini salah kasih pesanan. Saya pesennya mendoan, tapi isi plastik saya kok tempe tepung yang udah hampir dingin semua?

Merasa ada yang tidak beres, saya pun memanfaatkan fasilitas garansi tukang gorengan yang biasanya masih berlaku sebelum pembeli menstarter motornya. Kata mas-mas tukang gorengan, mendoan itu adalah tempe dikasih tepung. Jadi, menurutnya, tak ada yang salah dengan isi plastik saya.

Jujur, saya kecewa dengan penjelasan itu. Kecewa sekali. Soalnya mendoan dengan tempe tepung itu dua hal yang berbeda. Keduanya adalah spesies yang berbeda meski berada dalam genus yang sama.

Iklan

Berkaca pada pengalaman pahit itu, saya mengajak masyarakat banyumasan lainnya agar mau menggalakkan sebuah gerakan moral untuk mengembalikan marwah mendoan. Pelecehan terhadap mendoan ini sudah tidak bisa dibiarkan. Ini sudah cukup kebablasan.

Konsep olahan fermentasi biji kedelai yang tuwipis, lebar, mendo abis, dan harus disajikan dalam keadaan panas ternyata belum dimengerti betul-betul oleh para tukang gorengan selain di daerah banyumasan.

Padahal, mendoan bukanlah sekadar tempe diberi tepung dan di-kepyuri bumbu. Mendoan sejati dibuat dari tempe yang emang udah punya tingkat ketipisan tertentu dengan sentuhan seni tingkat tinggi. Dari sana tempe itu lantas digoreng pakai tepung yang ada daun bawang dan bumbu-bumbu.

Oke deh, mengenai perkara bumbu, beberapa mendoan di luar daerah Banyumas memang sudah memiliki kesamaan. Saya tak bisa protes karena sudah ada standar rasanya. Mirip-mirip lah kayak standar rasa Indomie Rasa Ayam Bawang. Sama semua.

Selain itu, cara menggoreng dan penyajiannya pun harus presisi banget timing-nya. Sebab, arti dari “mendoan” sendiri adalah menggoreng dengan minyak superpanas dan dilakukan secara cepat. Hal ini supaya menimbulkan efek setengah matang yang mengakibatkan sensasi juicy di mulut.

Sudah begitu, mendoan tidak bisa disimpan lama-lama dan tidak bisa disajikan dengan konsep ready stock. Sebab, salah satu esensi mendoan adalah usai dari wajan penggorengan, harus langsung disajikan. Ketika dibiarkan sampai dingin, itu sudah bukan mendoan lagi. Itu sikap dia ke kamu namanya.

Nah, dengan menimbang, memperhatikan, serta mengingat bahwa mendoan sangat penting sebagai identitas kuliner warga banyumasan, maka saya menyarankan kepada yang terhormat, mas-mas tukang gorengan di luar banyumasan, agar bisa segera melakukan muhasabah pada diri Anda masing-masing. Evaluasi diri.

Apa yang selama ini Anda sajikan ke pelanggan itu namanya adalah tempe tepung… bukan mendoan!

Meski begitu, dengan segala kerendahan hati, saya tetap optimistis teguran secara radikal ini bisa berjalan sukses. Sebab produsen mendoan bukan kayak kaum-kaum open minded di Twitter yang dikit-dikit educate yourself.

Mas-mas tukang gorengan ini, sekalipun punya definisi lain soal mendoan, pada kenyataannya adalah pelestari kebudayaan bangsa paling mempersatukan bapak-bapak di warung kopi yang punya perbedaan pilihan politik.

Di tengah panasnya polarisasi di negeri ini, panasnya mendoan dari minyak yang masih mendidih selalu bisa menetralisir ketegangan. Apalagi jika ditambah cabe rawit hijau yang semakin menambah kenikmatan huh-hah-huh-hah kepanasan.

Dan dengan pemberdayaan secukupnya kepada tukang gorengan di seluruh negeri, plus sedikit penataran P4 soal dunia kuliner permendoan, saya yakin kelak pada 2045, resep mendoan bisa masuk sebagai warisan budaya UNESCO.

Bukan hanya sebagai makanan terlezat di dunia, tapi juga jadi makanan paling menyatukan seluruh rakyat Indonesia. Bineka tunggal ika, berbeda-beda jumlah lomboknya, tapi tetap satu mendoan jua.

BACA JUGA Mementahkan Stereotip Orang Ngapak Emosian dengan Tempe Mendoan dan tulisan soal Banyumasan lainnya.

Terakhir diperbarui pada 29 September 2020 oleh

Tags: banyumasbanyumasangorenganKulinerMendoanUNESCO
Alviando Permana

Alviando Permana

Mahasiswa Undip, tapi asli bocah Banyumasan.

Artikel Terkait

Purwokerto .MOJOK.CO
Urban

Purwokerto Tempat Pensiun Terbaik, tapi Bukan untuk Semua Orang: Kamu Butuh 4 Skill Ini Buat “Survive”

18 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO
Urban

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
5 Kuliner Dekat Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta, Mojok.co
Pojokan

5 Kuliner Sekitar Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta

27 Maret 2026
4 Oleh-Oleh Khas Bantul yang Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Dijadikan Buah Tangan Mojok.co
Pojokan

4 Oleh-Oleh Khas Bantul yang Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Dijadikan Buah Tangan

25 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026
mabar game online.MOJOK.CO

Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar

23 April 2026
UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang.MOJOK.CO

UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang

27 April 2026
YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”, Definisi Rindu Itu Bersifat Universal.MOJOK.CO

YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal

28 April 2026
Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos MOJOK.CO

Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos

24 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.