MOJOK.COBahwa sesungguhnya kenikmatan mendoan banyumasan yang hakiki adalah hak rakyat di seluruh pelosok Indonesia!

Mendoan itu makanan yang fleksibel. Bisa dimakan buat cemilan maupun lauk pendamping makan berat. Dibandingkan dengan saya, mendoan sudah banyak dikenal masyarakat luas. 

Yah paling tidak, di Google Trends, tren pencarian kata mendoan tertinggi tersebar di Yogyakarta, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Papua Barat, Banten, hingga Kepulauan Riau.

Hal tersebut menunjukkan bahwa mendoan yang pada mulanya merupakan makanan khas Karesidenan Banyumas tidak hanya dikenal masyarakat Jawa, namun sudah melanglang buana ke seluruh penjuru negeri.

Meski berasal dari kata “mendo” yang artinya setengah matang alias masih lembek, mendoan mampu bersaing dengan berbagai gorengan lain, terutama di tukang gorengan berbagai daerah di Indonesia.

Suangar banget kan? Baru setengah matang aja udah kayak gitu, coba kalau matang betulan.

Dari kalangan bawah sampai kalangan atas, mendoan tetap mampu dinikmati oleh lidah dari berbagai kelas sosial. Artinya, hanya dari mendoanlah ide besar masyarakat tanpa kelas itu bisa kesampaian.

Saya bahkan yakin, sekelas Pak Jokowi yang saat ini sedang sibuk fokus ngurus ekonomi, eh, maksudnya fokus ngurus penanganan Covid-19 saja pasti pernah makan mendoan. Paling tidak, sekali dalam hidup beliau pasti pernah makan.

Sayangnya, meski dikenal luas, sebenarnya saya agak kecewa dengan penetrasi mendoan ke seluruh negeri selama ini. Apalagi sebagai anak banyumasan asli, saya merasa mendoan di luar Banyumas itu pelan-pelan sudah mulai kehilangan marwahnya.

Hal itu sudah bisa dibuktikan melalui lidah saya. Lidah seorang anak rantau, yang ketika keluar dari Banyumas Rock City, belum pernah menjumpai mendoan di luar Banyumas yang rasanya benar-benar mendoan sejati.

Bahkan saya cukup yakin, hal semacam ini bukan hanya menjadi keresahan saya seorang, namun juga menjadi kegelisahan pengembara-pengembara dari Banyumas lain yang menyebar ke daerah rantau.

Pada mulanya saya sempat berbaik sangka ketika saya memesan mendoan ke mas-mas tukang gorengan di luar Karesidenan Banyumas. Saat itu, saya mengira mas-mas penjual gorengan ini salah kasih pesanan. Saya pesennya mendoan, tapi isi plastik saya kok tempe tepung yang udah hampir dingin semua?

Merasa ada yang tidak beres, saya pun memanfaatkan fasilitas garansi tukang gorengan yang biasanya masih berlaku sebelum pembeli menstarter motornya. Kata mas-mas tukang gorengan, mendoan itu adalah tempe dikasih tepung. Jadi, menurutnya, tak ada yang salah dengan isi plastik saya.

Jujur, saya kecewa dengan penjelasan itu. Kecewa sekali. Soalnya mendoan dengan tempe tepung itu dua hal yang berbeda. Keduanya adalah spesies yang berbeda meski berada dalam genus yang sama.

Berkaca pada pengalaman pahit itu, saya mengajak masyarakat banyumasan lainnya agar mau menggalakkan sebuah gerakan moral untuk mengembalikan marwah mendoan. Pelecehan terhadap mendoan ini sudah tidak bisa dibiarkan. Ini sudah cukup kebablasan.

Konsep olahan fermentasi biji kedelai yang tuwipis, lebar, mendo abis, dan harus disajikan dalam keadaan panas ternyata belum dimengerti betul-betul oleh para tukang gorengan selain di daerah banyumasan.

Padahal, mendoan bukanlah sekadar tempe diberi tepung dan di-kepyuri bumbu. Mendoan sejati dibuat dari tempe yang emang udah punya tingkat ketipisan tertentu dengan sentuhan seni tingkat tinggi. Dari sana tempe itu lantas digoreng pakai tepung yang ada daun bawang dan bumbu-bumbu.

Oke deh, mengenai perkara bumbu, beberapa mendoan di luar daerah Banyumas memang sudah memiliki kesamaan. Saya tak bisa protes karena sudah ada standar rasanya. Mirip-mirip lah kayak standar rasa Indomie Rasa Ayam Bawang. Sama semua.

Selain itu, cara menggoreng dan penyajiannya pun harus presisi banget timing-nya. Sebab, arti dari “mendoan” sendiri adalah menggoreng dengan minyak superpanas dan dilakukan secara cepat. Hal ini supaya menimbulkan efek setengah matang yang mengakibatkan sensasi juicy di mulut.

Sudah begitu, mendoan tidak bisa disimpan lama-lama dan tidak bisa disajikan dengan konsep ready stock. Sebab, salah satu esensi mendoan adalah usai dari wajan penggorengan, harus langsung disajikan. Ketika dibiarkan sampai dingin, itu sudah bukan mendoan lagi. Itu sikap dia ke kamu namanya.

Nah, dengan menimbang, memperhatikan, serta mengingat bahwa mendoan sangat penting sebagai identitas kuliner warga banyumasan, maka saya menyarankan kepada yang terhormat, mas-mas tukang gorengan di luar banyumasan, agar bisa segera melakukan muhasabah pada diri Anda masing-masing. Evaluasi diri.

Apa yang selama ini Anda sajikan ke pelanggan itu namanya adalah tempe tepung… bukan mendoan!

Meski begitu, dengan segala kerendahan hati, saya tetap optimistis teguran secara radikal ini bisa berjalan sukses. Sebab produsen mendoan bukan kayak kaum-kaum open minded di Twitter yang dikit-dikit educate yourself.

Mas-mas tukang gorengan ini, sekalipun punya definisi lain soal mendoan, pada kenyataannya adalah pelestari kebudayaan bangsa paling mempersatukan bapak-bapak di warung kopi yang punya perbedaan pilihan politik.

Di tengah panasnya polarisasi di negeri ini, panasnya mendoan dari minyak yang masih mendidih selalu bisa menetralisir ketegangan. Apalagi jika ditambah cabe rawit hijau yang semakin menambah kenikmatan huh-hah-huh-hah kepanasan.

Dan dengan pemberdayaan secukupnya kepada tukang gorengan di seluruh negeri, plus sedikit penataran P4 soal dunia kuliner permendoan, saya yakin kelak pada 2045, resep mendoan bisa masuk sebagai warisan budaya UNESCO.

Bukan hanya sebagai makanan terlezat di dunia, tapi juga jadi makanan paling menyatukan seluruh rakyat Indonesia. Bineka tunggal ika, berbeda-beda jumlah lomboknya, tapi tetap satu mendoan jua.

BACA JUGA Mementahkan Stereotip Orang Ngapak Emosian dengan Tempe Mendoan dan tulisan soal Banyumasan lainnya.

Baca juga:  Liner Note Serius