lebih baik dicintai daripada mencintai wejangan cinta perempuan mitos berkeluarga filosofi cinta catwomanizer netizen twitter cinta tak berbalas menyatakan cinta RUU ketahanan keluarga mojok.co
lebih baik dicintai daripada mencintai wejangan cinta perempuan mitos berkeluarga filosofi cinta catwomanizer netizen twitter cinta tak berbalas menyatakan cinta RUU ketahanan keluarga mojok.co

Menimbang Petuah Lama tentang Lebih Baik Dicintai atau Mencintai

MOJOK.CO Perkara cinta, memang kerap membuat orang putus asa hingga memilih langkah mana yang sekiranya bikin bahagia. Lebih baik dicintai atau mencintai ya?

Jika kalian mengira cinta adalah perkara yang receh, kalian salah. Cinta bisa mengubah cowok pendiam jadi posesif, dan cewek manja jadi bucin setengah mati. Bahkan orang terkaya seperti Jeff Bezos yang maha penting saja pernah terlibat intrik cinta yang menguras hati.

Sebuah petuah lama tentang cinta yang sering saya dengar adalah: lebih baik dicintai daripada mencintai. Tentu terdengar agak cringe awalnya. Tapi lambat laun jadi makin populer.

Saya pertama dengar petuah ini dari seorang mbak yang bekerja di rumah saya ketika saya masih SD. Di usia yang begitu belia secara tidak sengaja saya sudah dicekoki filosofi cinta yang begitu dalam.


Singkat cerita, mbak saya ini punya pacar dan sering curhat ke saya tentang betapa bahagianya hubungan mereka. Saya jelas manggut-manggut saja. Pengetahuan cinta saya ketika itu sebatas novel-novel Teenlit dan film India. Namun nggak berapa lama hubungan mbak saya dengan pacarnya renggang, seminggu kemudian dia langsung dilamar orang lain lalu dia terima.

Saya pun protes diam-diam dan mempertanyakan kesetiaannya sendiri terhadap pacarnya. Sambil makan kacang kulit, mbak saya bilang, “Nanti kalau sudah besar kamu mungkin bakal paham kalau sebagai perempuan itu lebih baik dicintai daripada mencintai.”

Baca juga:  Teori Nobita Skizofren dan Doraemon Cuma Teman Khayalan

Tentu saya mudeng maksudnya walau saya masih SD. Intinya kalau mencintai seseorang itu nggak tentu berbalas, belum lagi harus berusaha mati-matian buat membahagiakan pasangan. Sementara dicintai itu terdengar egois tapi effortless, seolah menyerahkan diri buat dibahagiakan. Enak banget! Di titik ini saya memahami, tapi menolaknya.

Seperti banyak bocah ingusan lainnya saya juga pernah punya hubungan yang begitu naif dengan seorang cowok. Suatu saat cowok ini pernah tanya, “Kamu lebih baik aku yang mati duluan atau kamu mati duluan?”

Entah kenapa saya ingin dia mati duluan. Saya bilang alasannya karena saya nggak yakin dia bisa menanggung kesedihan akibat saya tinggalkan. Sementara saya bakal kuat menanggung semua derita akibat ditinggalkan orang yang saya cintai. Jawaban yang begitu ngawur dan penuh kesombongan, sok kuat. Tapi bener sih. Hidup itu tragedi, cintaku, buat apa kamu hidup berlama-lama hanya untuk bersedih. Kecuali itu aku karena aku mampu. Ealah~

Saya akui, saya emang agak nyeleneh dan ngawuran.

Pertimbangan soal lebih baik dicintai daripada mencintai ini saya temukan lagi di lini masa media sosial, hari ini. Unggahan Insta Story dari @catmowanizer dibahas dan jadi topik yang seru di Twitter.

Ternyata banyak ya yang menerima wejangan dari generasi terdahulu kalau lebih baik memang dicintai daripada mencintai. Saya sebenarnya agak bingung kenapa wejangan ini harus diumpankan kepada perempuan semata. Emangnya laki-laki nggak boleh merasa ingin dicintai apa? Banyak lho cowok-cowok yang suka sama orang yang lebih tua demi meresapi indahnya disayangi. Uwu~

Baca juga:  7 Dialog Iklan Ikonik yang Layak Jadi Meme Saking Nyebelinnya

Hingga saat ini sebenarnya saya belum menemukan asyiknya dicintai sama orang yang sebenarnya nggak saya cintai. Alih-alih lebih bahagia, saya justru takut dibayang-bayangi perasaan nggak enakan karena nggak bisa membalas cintanya dengan impas. Petuah lebih baik dicintai daripada mencintai adalah petuah rapuh yang bisa saya patahkan dengan beberapa argumen.

Pertama, mencintai bukan sebuah hal buruk. Bahkan jika cinta itu tidak berbalas, mencintai seseorang dengan tulus bisa jadi sebuah privilese. Saya pernah mencintai orang yang tidak mencintai saya dan saya nggak apa-apa. Saya justru bersyukur kenal dengan manusia yang memberikan banyak inspirasi dan membuat saya percaya orang yang mendekati sempurna itu memang ada. Sempurna di mata saya lho ya.

Kedua, dicintai oleh seseorang itu nggak membuat kita lantas bahagia. Kalau cara orang lain mencinta itu justru membuat kita tersiksa, buat apa? Kalian pernah nggak dikasih coklat ketika Valentine padahal kalian alergi coklat? Ini contoh kecil dicintai tapi nggak menyenangkan. Bukannya bahagia, malah gatel-gatel.

Ketiga, buat apa memilih lebih baik dicintai daripada mencintai ketika kita bisa melakukan dua-duanya? Nyatanya hidup ini memang nggak selamanya sepasti rumus matematika. Selalu ada jalan tengah dari perkara yang kadang kita nggak tahu solusinya. Mencintai seseorang, lalu cintanya berbalas adalah sebuah wujud dicintai dan mencintai di waktu bersamaan. Perkara cinta siapa yang lebih besar, berlomba-lombalah sampai tua, sampai kalian dipisahkan oleh waktu dan nggak bisa lagi saling jumpa.

Baca juga:  Indahnya Pelantikan Jokowi, Lebih Sepi Tertib Dibanding 2014

Tapi tentu saja kalian nggak harus ngikutin saya. Negara ini negara demokrasi, nggak seharusnya ada undang-undang yang mengatur soal cinta. Jika kalian mantap memilih lebih baik dicintai maka ketahuilah syarat pertamanya yakni ada orang yang bersedia mencintaimu. Kalau nggak ada ya udah, ngendog aja.

BACA JUGA Menyatakan Cinta Tidak Mudah dan… Tidak Harus Berbalas atau artikel lainnya di POJOKAN.