MOJOK.COTertawa adalah hal yang menyenangkan, namun memaksakan tawa adalah hal yang menyusahkan. 

Tentu saja ada banyak hal yang saya benci dari hadirnya pandemi corona yang laknatnya ngaudubillah setan ini. Setidaknya, ada banyak hal pada diri saya yang terganggu karenanya.

Saya tak bisa menonton konser yang biasanya selalu sukses men-charge energi saya. Saya tidak bisa menonton film-film ciamik di bioskop yang tentu saja beda sensasinya kalau harus saya tonton di laptop. Saya tidak bisa bebas bepergian ke luar kota tanpa harus ikut rapid test dan tetek bengek lainnya. Dan yang paling penting, saya tidak bisa mengisi kelas atau diskusi offline yang selama ini honornya cukup bisa saya andalkan untuk mengisi kantong saya yang sekarang lebih banyak kempesnya.

Tak cukup di situ, pandemi corona pun memunculkan banyak sekali kepayahan. Yang paling terasa bagi saya tentu saja adalah memakai masker.

Sedari dulu, saya hampir tak pernah punya kebiasaan memakai masker. Semua pekerjaan yang pernah saya jalani tak ada yang mewajibkan memakai masker. Maka, ketika keharusan memakai masker itu datang, tentu saja itu membuat saya harus menyisihkan daya dan upaya yang tidak kecil.

Selain pengap, memakai masker juga menyusahkan saya untuk berbicara. Telinga saya juga sering sakit karena karet pengaitnya kadang terlalu kencang. Susah sekali untuk mendapatkan masker yang tingkat kekencangannya pas. Yang sering saya dapatkan adalah tali karetnya terlalu kencang, atau malah terlalu longgar. Yang pertama membuat telinga sakit, sedangkan yang kedua sering bikin susah sebab masker menjadi sering melorot.

Lebih dari itu, masker juga selalu membuat kaca mata saya berembun. Maklum saja, kaca mata saya adalah kaca mata murah yang tidak anti embun.

Baca juga:  Jurgen Klopp Tak Mau Jawab Soal Virus Corona Adalah Sikap yang Tidak Boleh Ditiru

Dengan segala kepayahan itu, saya kerap setengah hati memakai masker. Kalau bukan karena bayangan ketakutan saya bakal kepergok orang saat nggak pakai masker lalu ada yang iseng motret dan menguploadnya di sosial media, niscaya saya mungkin malas memakai masker.

Boleh dibilang, alasan saya memakai masker itu terdiri dari 30 persen takut kena corona, dan 70 persen takut kena maki netizen karena kepergok nggak pakai masker.

Namun namanya juga hidup, selalu ada hikmah di balik segala kesusahan yang ada.

Kelak, memakai masker pada akhirnya memberikan sesuatu yang baik buat saya. Bukan alasan kesehatan memang, namun karena alasan lain yang menurut saya sangat aneh.

Baru belakangan ini saya sadari kalau memakai masker ternyata sangat membantu saya untuk menyembunyikan ekspresi wajah saya, utamanya untuk menyembunyikan ekspresi tertawa palsu alias tertawa basa-basi.

Sungguh, inilah fungsi terbesar masker (selain mencegah penyebaran corona, tentu saja) bagi diri saya yang sampai saat ini benar-benar saya amini.

Saya adalah orang yang merasa punya selera humor yang baik. Saya mudah tertawa. Namun, tak mudah bagi saya untuk memalsukan tawa.

Tentu saja ini adalah hal yang menyusahkan bagi saya. Dalam lingkungan pergaulan saya, saya kerap sekali bertemu dengan orang-orang yang mau tak mau membuat saya untuk memalsukan tawa saya.

Bayangkan, kalau Anda bertemu seseorang, lalu ia mencoba untuk mencairkan suasana, mencoba membangun kemistri yang baik, lantas mencoba melontarkan guyonan yang sialnya Anda bahkan tak bisa menemukan di mana letak lucunya. Apa yang akan Anda lakukan? Saya yakin, Anda akan melalukan apa yang juga saya lakukan: menghargai niat baiknya dengan cara tertawa basa-basi.

Nah, di posisi inilah manfaat masker benar-benar saya rasakan.

Saya tentu saja tak bisa menghindarkan diri untuk bertemu dengan orang yang bahkan menganggap guyonan “Bersatu kita teguh bercerai kawin lagi” atau “Maju perut pantat mundur” masih sangat lucu.

Baca juga:  Gamis Habib Umar dan Stereotip Nggak Guna yang Juga Dikenakan ke Cadar

Tipikal orang yang kalau memberikan tebak-tebakan maka ia tak punya referensi lain selain tebak-tebakan yang ada di balik tutup botol Fanta seperti “Lele, lele apa yang ada di pinggir jalan? Lelepon umum”.

Atau tipikal orang yang ketika saya memperkenalkan nama saya: Agus, niscaya ia akan membalas dengan jawaban “Agus? Pasti Agak gundul sedikit!”

Bayangkan, bertemu dengan orang seperti itu. Bertemu dengan orang yang guyonan-guyonannya adalah guyonan jaman Jayakatwang. Guyonan yang seharusnya sudah punah sejak jaman kerajaan Mataram Islam.

Kalau bertemu dengan pribadi yang demikian, maka memang tak ada jalan lain yang bisa ditempuh selain mencoba tertawa dengan tawa yang terpaksa dibuat-buat.

Sialnya, sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim riset University of California menunjukkan bahwa sebagian besar orang dibekali dengan kemampuan khusus untuk membedakan tawa asli (natural) dengan tawa basa-basi yang dibuat-dibuat.

Tentu akan sangat menyakitkan jika seseorang mengetahui bahwa lawan bicaranya terpaksa tertawa untuk nglegani guyonan dia yang garing itu. Bagi pelontar guyonan, reaksi tawa palsu itu jauh lebih menyakitkan ketimbang tak ada tawa sama sekali.

Terbayang bukan betapa peliknya masalah ini?

Maka, kini, memakai masker terasa agak ringan bagi saya. Alasannya ya itu tadi: memudahkan saya untuk menyembunyikan ekspresi wajah saya. Bahwa memakai masker itu menyusahkan, itu masih saya akui sampai saat ini. Namun saya juga harus mengakui, bahwa menyembunyikan ekspresi tertawa palsu adalah hal yang jauh lebih menyusahkan.

BACA JUGA Menolak Dagangan yang Dijajakan oleh Anak Kecil Memang Tak Pernah Mudah dan artikel Agus Mulyadi lainnya.