MOJOK.CO – Lelaki setengah baya bertampang ceria di depan saya ini mungkin tak akan pernah menyangka, kelak toko cat yang ia bangun akan punya maskot yang sangat-sangat ikonik: boneka angin wawawa.

Namanya Pak Bowo. Saya tak tahu berapa umurnya, saya tak terlalu punya keberanian untuk menanyakannya. Dari perawakannya dan kulitnya yang sudah nggak kenceng-kenceng amat, saya taksir usianya lima puluhan.

Dia adalah bos dari toko cat Warna Abadi atau yang lebih populer dengan nama Wawawa, salah satu toko cat paling progresif dan prospektif di era post-truth seperti sekarang ini. Jumlah gerainya sekarang sudah lebih dari 80 toko, dari yang sebelumnya tak sampai belasan pada sepuluh tahun lalu. Semuanya tersebar di wilayah Jogja, Jawa Tengah, Jakarta, dan sebagian Jawa Timur.

Saya bertemu dengannya pertama kali sekitar lima bulan yang lalu. Saat itu ia meminta saya untuk membantunya menulis semacam buku panduan kepemimpinan yang sudah ia susun. Ia ingin agar buku panduan tersebut saya rombak sehingga menjadi lebih ringan dan mudah dipahami oleh seluruh manajer toko miliknya.

Beberapa waktu yang lewat, kami kembali berjumpa. Kali ini ia meminta saya untuk mengajarinya menulis.

Alih-alih saya mengajarinya menulis, saya justru tertarik untuk merampok cerita tentang bagaimana ia membangun bisnis toko catnya yang spektakuler itu.

“Sekarang gerainya sudah 80,” ujarnya pada saya. “Target saya sih 170. Pokoknya selama saya masih hidup, saya ingin Wawawa ini setidaknya gerainya sudah 170. Kalau Indomaret atau Alfamart kan ribuan, kalau Wawawa ini cukup 170 saja, Mas Agus.”

Saya berbincang banyak dengan Pak Bowo dan juga Nana, kawan sekaligus mitra bisnis Pak Bowo yang saat itu juga ikut kelas menulis.

Nana inilah yang punya ide kreatif menjadikan nama Wawawa lebih terkenal ketimbang Warna Abadi.

Sembari merenges mengenang masa lalu, perempuan yang tampak selalu enerjik ini menceritakan kisah bagaimana Warna Abadi bisa menjadi Wawawa.

“Dulu, aslinya kan Warna Abadi, disingkat WA. Trus, tulisan WA itu dipasang pada gambar kuas cat dan kita pasang. Trus, setelah aku lihat-lihat, kalau kuasnya cuma satu, kelihatannya nggak oke, akhirnya ditambah jadi tiga, sehingga jadinya WA WA WA. Nah, akhirnya orang-orang bacanya jadi Wawawa,” terangnya seraya tertawa.

toko cat warna abadi toko cat wawawa boneka toko cat wawawa menari

Tampilan depan toko cat Warna Abadi alias Wawawa memang dibikin template di semua gerainya.

Nana pula yang menjadikan warna kuning sebagai warna khas Wawawa. Kata dia, kalau mau buka toko cat, semakin ngejreng, semakin norak, malah semakin bagus.

Baca juga:  Kalis Mardiasih: Aku Tahunya Islam Sehari-hari, Jadi Itulah yang Aku Tulis

Ada banyak rahasia-rahasia kesuksesan baik yang disengaja maupun tidak yang ikut mendongkrak pamor toko cat Wawawa.

Kebakaran gerai tokonya yang ada di ujung Jalan Gejayan, Yogyakarta, misalnya. Gerai toko Wawawa terbesar di Jogja itu memang pernah terbakar sekitar tahun 2009 silam. Saya masih ingat dengan kebakaran yang sangat menghebohkan itu, sebab saat insiden itu terjadi, saya masih bekerja sebagai penjaga warnet di warnet tak jauh dari lokasi toko. Dari warnet saya, asap hitam kebakarannya terlihat sangat jelas. Kebetulan lokasinya juga persis berada di persimpangan jalan raya sehingga orang-orang langsung berebut mengabadikannya dan meng-upload-nya di sosial media.

“Ada berkah di balik musibah. Kebakaran itu rupanya ikut mengerek nama toko cat Wawawa,” terang Nana. “Orang-orang jadi punya semacam jujugan (referensi) baru kalau mau beli cat, semacam sudah ngeh sama Wawawa. Setelah direnov pasca kebakaran, penjualannya jadi naik ya, Pak?” Kata Nana sembari melirik ke Pak Bowo. Lelaki itu mengangguk.

Nah, jika insiden kebakaran dan nama “Wawawa” adalah faktor yang tak disengaja, salah satu faktor disengaja yang menurut saya sangat brilian dan jenius dalam membesarkan toko cat Wawawa tentu saja adalah si balon angin Wawawa.

“Kami menyebutnya Lord Wawawa,” kata Nana.

Ide menggunakan boneka angin dengan gaya orang yang meliuk-liuk gemulai dan pasrah atau sedang melambaikan tangan (beda gerai, beda gerakannya) itu ternyata tidak datang begitu saja. Ia terbentuk dari pengalaman empiris Pak Bowo selama menjelajahi beberapa negara.

Kata Pak Bowo, penggunaan boneka angin (nama populernya air dancer atau sky dancer) ini sebetulnya bukan tren baru dalam dunia promosi produk. Ia bahkan mengatakan bahwa penggunaan boneka angin ini boleh jadi sudah sangat kuno di Amerika.

“Saya lihat boneka angin ini sejak lama, sejak saya kuliah di Amerika, itu tren yang sudah lama sekali. Namun, di Asia tampaknya belum banyak yang menggunakannya.”

Awal mula Pak Bowo tertarik menggunakan boneka angin untuk dipajang di gerai toko cat miliknya adalah saat ia melihat boneka angin yang terpajang di salah satu gerai Petronas di Malaysia.

Baca juga:  7 Tipe Teman dalam Geng Pertemanan, Termasuk Geng Kru Mojok

“Waktu itu lewat di salah satu jalan, mau isi bensin, di salah satu gerai Petronas, dia pasang boneka angin, lucu sekali. Akhirnya pas saya pulang ke Indonesia, saya coba pasang juga.”

“Gerai Wawawa yang pertama kali sampeyan pasangi Lord Wawawa itu gerai yang mana?” tanya saya.

“Gerai yang di Jakarta.”

“Trus, apakah itu mendongkrak penjualan?”

“Enggak juga. Gerai yang di Jakarta itu ya sepi-sepi aja.”

“Kalau begitu, kenapa masih diteruskan dan malah pasang lebih banyak di gerai yang lain?”

“Ya biar lucu aja.”

Biar lucu aja. Bedebah. Jawaban yang sungguh kemaki.

Pada kenyataannya, seiring berjalannya waktu, tuah boneka angin itu toh akhirnya manjur juga.

“Saat saya pasang di gerai Jogja, barulah saya sadar betapa boneka angin ini punya dampak yang signifikan,” terangnya. “Gerai di Gejayan itu yang saya pasang pertama.”

Lord Wawawa di gerai wawawa Gejayan boleh jadi adalah yang paling ikonik. Selain gerakannya yang aneh, ia juga berada di posisi yang strategis untuk menjadi sebuah pusat perhatian.

Ini boneka angin yang ada di toko cat Wawawa di Jalan Gejayan (sekarang Jalan Affandi), Yogyakarta.

Kelak, selain mampu meningkatkan brand awareness orang terhadap toko cat Wawawa, boneka angin Wawawa di Jalan Gejayan ini terbukti mampu membikin banyak orang yang sedang menunggu di lampu merah persimpangan Jalan Solo dan Jalan Urip Simoharjo jadi punya bahan pembicaraan saat menunggu.

Tak cukup di situ, boneka angin tersebut kelak juga mampu memberikan likes dan retweet bagi banyak selebtwit yang selo dan iseng memvideokan si boneka angin Wawawa dan menambahkannya dengan musik latar lagu Didi Kempot atau band Guyon Waton.

Panjang umur, boneka angin Wawawa. Pendek umur, boneka istana.

BACA JUGA Penjual Makanan Keliling: Kadang Ketemu Demit, Kadang Dikira Demit atau artikel Agus Mulyadi lainnya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles