MOJOK.CO – Pernyataan almarhum Sutopo Purwo Nugroho jadi bahan kampanye aktivis antirokok. Meski beliau tidak merokok, yang salah tetap rokok atau minimal perokok.

Memainkan duka demi kepentingan saya pikir merupakan keahilan aktivis antirokok sejak dulu. Kalau kamu ingat, dulu ketika istri Pakde Indro Warkop meninggal dunia karena kanker paru-paru, kelompok ini selalu memainkan propaganda bahwa perokok adalah pihak yang patut dipersalahkan.

Tidak secara langsung memang, tapi propaganda tersebut memainkan isu jika si istri adalah perokok pasif sedangkan suami adalah perokok. Maka dengan rumus sederhana propaganda tersebut jelas: perokok pasif adalah korban, perokok adalah pelaku.

Gila memang. Sudah ditimpa duka, masih harus dipermainkan pula oleh logika model begini. Maka wajar saja jika Pakde Indro sempat meradang dengan kerjaan aktivis antirokok. Tak perlu waktu lama, Pakde Indro segera membuat sebuah video pernyataan: jangan seolah-olah kanker paru-paru yang menyerang istrinya tiba-tiba diarahkan seolah karena dirinya merokok.

Ketidaksenangan Indro ini memang menjadi wajar, mengingat di hampir semua kejadian meninggalnya seseorang karena kanker atau penyakit mematikan lainnya, aktivis antirokok hampir selalu mengaitkannya dengan rokok dan perokok.

Kalau tidak karena si penderita merokok, maka yang dimainkan adalah narasi kalau dirinya perokok pasif.

Tak jauh-jauh dari model begini:

Anda pasti sakit karena rokok. Ketika diketahui Anda tidak merokok, maka tetap saja terus dikejar. Apalagi kalau penyakit ini berhubungan dengan paru-paru.

Dilacak keluarga Anda. Kalau keluarga Anda tidak merokok, dicari lagi ke keluarga besar. Masih tidak ketemu juga? Dicari ke tetangga-tetangga, ada yang merokok tidak. Masih tidak ketemu juga? Dicari lagi di tempat kerja. Dicari terus sampai ketemu.

Seperti yang terjadi di kasus almarhum Pak Sutopo Purwo Nugroho belakangan ini. Hampir semua platform menyatakan jika dirinya adalah korban dari rokok—minimal dari rokok pasif. Padahal jelas-jelas yang bersangkutan tidak merokok, tapi arahnya tetap saja salah rokok karena di BNPB banyak orang merokok. Dari narasi itu, maka wajar muncul kampanye kalau rokok harus segera dibasmi.

Baca juga:  Cuma Sule yang Bilang Harga Rokok di Indonesia Terlalu Murah

Mungkin ada baiknya, di masa depan syarat diterimanya pegawai BNPB harus orang yang tidak merokok. Eh nggak ding, belum sampai segitunya juga.

Rumus di atas agaknya sudah menjadi hukum mutlak yang tak bisa diganggu-gugat. Apapun penyakitnya, pasti rokok penyebabnya. Mau merokok atau tidak merokok, tetap rokok yang jadi solusinya alasannya. Mau sakit atau mati, tersangka utamanya ya rokok. Muter-muter aja di situ. Sudah harga mati yang tidak bisa diganggu gugat.

Meski kalau dipikir-pikir lagi, bukannya kalau orang tidak merokok itu cenderung tidak ingin mendekat ke orang-orang yang merokok karena tidak tahan sama baunya ya?

Lagian gedung kantor sekelas BNPB tentu saja punya smoking area. Artinya, orang juga tidak bisa sembarangan merokok di dalam kantor. Jadi kecil sekali saya kira kemungkinan almarhum Pak Sutopo mendatangi smoking area lalu ikut nongkrong di sana dengan teman-temannya yang merokok.

Oh, iya ding, saya lupa. Beberapa penelitan dan riset memang sudah banyak menjelaskan kalau rokok itu faktor tunggal penyebab segala penyakit dan kematian. Mulai dari WHO sampai riset-riset yang ada sudah menunjukkannya demikian. Polusi udara atau kecelakaan tentu tidak masuk hitungan.

Asap knalpot dan polusi yang diciptakan itu kan tidak seberapa merusak dan baik-baik saja untuk kesehatan. Toh kita masih perlu mendayagunakan kendaraan. Kalau rokok kan, tidak ada gunanya. Paling-paling ya cuma ngasih pendapatan negara ratusan triliun setiap tahunnya. Buat apaaan itu? Nggak guna juga.

Lagian sudah tertulis juga sebenarnya kalau rokok itu menyebabkan penyakit berbahaya. Jantung, kanker, stroke, hingga diabetes ya karena rokok. Loh, serius ini, diabetes itu penyebabnya rokok.

Coba aja kamu googling, pasti bakal nemu kalau penyebab diabetes itu ya rokok. Jadi jangan bilang nggak ada hubungannya ya. Makan nasi banyak-banyak, minum yang manis-manis setiap hari, atau bahkan faktor keturunan itu bukan persoalan utamanya. Masalah utamanya ya ada pada rokok.

Baca juga:  Rokok Susi Pudjiastuti dan Cerutu Winston Churchill

Jantung kanker dan stroke nggak usah ditanya lah ya, kan itu sudah pasti. Toh makanan dengan lemak jenuh dan kolesterol itu enak buat banyak orang, jadi jangan disalah-salahin. Yang salah ya rokok aja. Biar gampang konklusinya.

Masih kurang takut sama rokok? Tenang saja, masih ada penyakit-penyakit lain yang juga menakutkan dan disebabkan rokok. Misalnya, kulit keriput atau cantengan.

Saya tidak tahu penjelasan ilmiah kenapa kulit keriput ini disebabkan rokok, tapi ya Google dan aktivis antirokok udah bilang begitu ya mau bagaimana lagi? Jadi saya harus percaya.

Kalau cantengan, anak kecil juga bisa menjelaskan. Coba aja kamu sundut kaki kamu dengan bara rokok, pasti bakal cantengan kan? Iya kan? Nggak percaya sih.

Sudahlah, semua penyakit itu penyebabnya rokok. Mau gaya hidupmu buruk, makananmu penuh dengan lemak jenuh dan kolesterol, jarang olahraga, terpapar polusi dan lain-lain itu tidak akan membunuhmu. Tidak menyebabkan penyakit.

Sebab, hanya rokok saja yang mampu melakukan itu. Jadi walau kamu makan Indomie dengan porsi dobel 3 kali setiap hari, selama kamu tidak merokok, kamu pasti tidak akan kena kanker. Kalau pun akhirnya sakit yang berhubungan dengan pernapasan kamu akan ditanya-tanya.

  • “Mas, sampeyan merokok tidak?”

+ “Tidak, saya tidak merokok.”

  • “Keluarga ada yang merokok?”

+ “Tidak itu.”

  • “Yakin, Mas?”

+ “Iya yakin.”

  • “Di keluarga besar? Paman? Pakde? Simbah? Ada yang merokok?”

+ “Hm, keluarga besar saya nggak ada yang merokok, Mas.”

  • “Kalau begitu di tempat kerja. Teman-teman sampeyan?”

+ “Teman-teman saya nggak ada yang merokok.”

  • “Kalau tetangga? Ada yang merokok?”

+ “Ada, Mas. Tetangga desa.”

  • “Nah, ketemu. Jadi gini, Mas. Sampeyan kena penyakit ini karena jadi perokok pasif dari tetangga sampeyan itu.”


Tirto.ID
Loading...

No more articles