Masih ingat Maruf yang bisa bikin gajah geleng kepala? Setelah memenangkan lomba dan menjadi populer hingga ke pelosok Halmahera, pemerintah memberi beasiswa kepadanya untuk melanjutkan pendidikan.

Maruf pun mendaftarakan diri sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Ternate. Di Ternate, dia tinggal di kos-kosan.

Percaya Siapa?

Sebagaimana biasa tahun ajaran baru, kampus-kampus sibuk dengan mahasiswa baru yang mau ospek. Begitu pula Maruf. Pagi itu, setelah smokol sagu campur teh, Maruf langsung tancap gas menuju kampus untuk ikut ospek.

Di perjalanan, Maruf lupa kase mati lampu sein kanan motor. Di sebuah pertigaan, Maruf yang saat itu hendak belok kiri ditabrak dari belakang oleh seorang tukang ojek.

“Woi setan nih, ngana bawa motor pake mata ka trada?” Maruf mengamuk bangkit dari aspal.

“Cukimai, ngana yang salah baru mangamuk apa e?” tantang si tukang ojek

“Saya salah apa? Ngana yang tabrak pe saya!!!”

“Ceh ngana lampu sein kanan manyala tapi belok kiri tu.”

“Ah, sabarang saja. Saya kan tujuan kiri, pake kiri tadi.”

“Tapi ngana pe lampu sein kanan yang manyala, berarti harus belok kanan.”

Maruf melihat kembali sein motornya, dan ternyata ia sadar tadi lupa kasih sein kiri. Maruf langsung cari argumen untuk berdebat.

“Jadi, sebenarnya kaka ini lebih percaya lampu sein atau percaya saya?!”

Ketupat mentah langsung melayang.

Gombal

Maruf yang baru tiba di kampus langsung ke kantin menenangkan diri akibat ketupat mentah tadi. Di kantin ia bertemu dengan seorang cewek. Dasar mata keranjang, Maruf langsung kenalan dan kasih gombalan ke itu cewek.

“Halo, Ade. Boleh kenalan?”

“Boleh, Kaka. Saya pe nama Habiba. Kalau kaka nyong nama sapa?”

“Aduuu, nama pe cantik. Kalo sa nama Maruf, Ade. Ade jurusan apa kah?”

“Jurusan elektro, Kaka.”

“Aduuu, ade setrum kaka duluuu kaaah!”

Matahari Panas

Prit prit prit!! Seorang mahasiswa senior meniup peluit untuk mengumpulkan para mahasiswa baru. Para maba disuruh berjejer di lapangan terbuka. Maruf termasuk di dalamnya. Sejumlah maba merasa kepanasan tapi enggan protes, takut dihajar senior. Cuaca hari itu memang sangat panas, matahari satu rasa sembilanlah pokoknya.

“Oke, ade-ade maba, sebelum kita mulai materi ospek, ada yang mau bertanya???”

Saking panasnya, anak-anak tidak ada yang mau bertanya karena ingin cepat masuk ruangan. Tiba-tiba Maruf mengacungkan tangan. “Kaka senior, saya mau tanya!”

“Ah, perkenalkan nama dan tanya apa.”

“Saya nama Maruf, mau tanya, ada paracetamol kah?”

“Untuk apa, Maruf?”

“Matahari de talalu panas. Jadi minta paracetamol untuk kase turun panas sedikit.”

Beli Sarden

Setelah ospek selesai, Maruf langsung pulang ke kos. Dia sangat lapar. Tapi, persediaan makanan di kos hanya ada sagu, tidak ada lauk, sedang duitnya sisa dua ribu rupiah saja. Maruf pun menuju kios.

“Halo, Tanta, ada jual ikan kaleng sarden kah?”

“Oh ada, mau beli berapa kaleng?” jawab tanta penjaga kios.

“Itu ikan kaleng sarden dape harga berapa kah?”

“Yang kaleng besar tujuh belas ribu, yang kecil sepuluh ribu.”

“Itu harga so tra bisa kurang kah?”

“Tra bisa, su harga pas itu.”

“Kalo begitu sa beli eceran saja, dua ekor bagitu, barang sa duit cuma dua ribu.”

“Binatang deng, ngana. Kira permen kah?!” kata si penjual sambil tertawa.

Orang Pendatang

Ada dua pemuda lagi mabuk berat di pangkalan ojek. Dorang dua lagi baku malawang (berdebat).

“Ngana lihat di atas itu bulan to ?” tanya si pemuda mabuk pada temannya sambil menunjuk matahari

“Aaah, ngana pe bodok, itu matahari bukan bulan!”

“Astaga eee, itu bulan!”

“Matahari ceeeyyy!”

“Bukan, jelas-jelas itu bulan!”

“Ah, malawang sekali, sudah kalau begitu torang dua tanya orang lain/”

Kebetulan waktu itu Maruf lagi jalan pulang dari warung menuju kos dan lewat depan pangkalan ojek.

“Woi, nyong (sambil menunjuk Maruf), ngana ke sini dulu!”

“Aaa, kaka, bagaimana kaka?” tanya Maruf agak takut.

“Ini saya teman tidak percaya kalau di atas itu bulan.”

“Ooo itu, kaka ….”

Belum selesai bicara, pemuda satunya langsung menimpali.

“Cepat ngana jawab atau torang dua banting ngana di sini. Itu matahari atau bulan, jawab capat,” katanya sambil mengacungkan tinju ke arah Maruf.

“Eh adu, kaka, maaf, saya orang pendatang di sini jadi sa juga tidak terlalu tahu.”

No more articles