Saya pertama kali berkenalan dengan sepak bola melalui serial kartun Kapten Tsubasa. Ya, idola sekaligus kapten favorit kita semua itulah yang membuat aing dan rekan-rekan sepermainan bermimpi jadi pemain bola. Bukan karena gocekan maut Ronaldo botak atau ketampanan David Beckham yang nikah muda. Tapi karena menonton kapten tsubatsa setiap harilah aing pernah berangan jadi pemain bola profesional.

Nggak usah ngece saya dulu. Itu impian aing waktu kecil. Toh gini-gini aing dulu pernah jadi pemaen bola di kompetisi tarkam. Walo berbadan tambun, tetep dipake kok sama pelatih. Meski baru dimainin pas tim pasti kalah dan tensi udah tinggi. Tapi ya karir tarkam aing nggak berlangsung lama. Apalagi ibu aing sering ngomel-ngomel saban pulang maen bola ada aja anggota badan saya yang cedera. Entah keseleo, berdarah, atau kecengklak.

Tapi jangan salah, bukan karena cedera aing pensiun. Badan aing terlatih untuk tahan terhadap segala sakit, termasuk sakit akibat hati yang patah. Ini cuma karena rekor penampilan aing yang brilian untuk anak seumur jagung. 1 kali main, dua kartu kuning, dan satu kartu merah. Satu pukulan ke perut (dengan sengaja, tentu saja) membuat aing terusir dari lapangan. Sejak saat itu tamatlah karir aing sebagai pemain amatir.

Walau gagal jadi pemain, kecintaan aing pada bola sepak tak pernah pudar. Agak mirip kayak perasaan aing yang susah dihilangkan walau udah tahu ditolak #jleb. Kegagalan merintis karir jadi pemain, membuat aing beralih profesi jadi pendukung klub bola lokal. Dan sejak saat itulah hidup aing berubah.

Klub pertama yang aing dukung adalah Persita Tangerang. Bahkan jauh sebelum gol sundulan Steven Gerrard yang membangkitkan asa hingga Liverpool jadi juara liga champions, aing udah jatuh hati pada klub berjuluk pendekar cisadane ini. Dari awalnya yang iseng-iseng ikut nonton sembari latihan kickboxing sama suporter lawan hingga akhirnya jatuh hati beneran sama tawuran klub ini.

BACA JUGA:  Rumah Tangga Terancam Bubar karena Nama Anak

Maklum lah, di zaman-zaman getolnya anak-anak generasi aing sama piala dunia 2002, Persita menggebrak liga Indonesia dengan masuk final. Walau akhirnya kalah, tapi ya setidaknya tim ini pernah masuk final. Nggak kayak tetangga sebelah yang warnanya kayak t*i itu.

Dari kegemaran nonton bola di stadion benteng yang sekarang mirip kayak kandang kambing itu, aing menemukan idola baru yang menggantikan keberadaan Tsubatsa yang mulai hilang di layar kaca. Seorang penyerang legendaris pujaan warga Tangerang bernama Ilham Jaya Kesuma.

Di zaman Ronaldo yang asli jadi pencetak gol terbanyak piala dunia dan bawa Brazil juara dunia, Ilham JK (bukan Jusuf Kalla) juga menggebrak belantara liga Indonesia dengan membawa Persita ke final dan menjadi pencetak gol sekaligus pemain terbaik liga tahun itu. Aing nggak tahu mulai kapan, tapi kayaknya sejak saat itu spanduk pendekar cisadane yang gigit pisau itu dibuat mirip sama Ilham dah.

Buat aing dan pendukung Persita, Ilham itu pemain yang setara kayak Fransesco Totti di AS Roma atau Maradona bareng Argentina. Pemain bagus yang belum tentu ada lagi untuk beberapa dekade ke depan. Duet belio sama Zaenal Arief mirip-mirip kayak duet Pamela Safitri dan Ovi Sovianti di Duo Serigala. Goyangannya maut dan memuaskan.

Apalagi sehabis tampil trengginas di Persita, Ilham juga membawa tuah buat Tim Nasional di Piala Tiger 2004. Jadi pencetak gol terbanyak di gelaran itu, Ilham lagi-lagi membawa rekan setimnya maju ke final. Meski (sekali lagi) cuma bisa bawa timnya ke peringkat dua, tapi prestasi itu belum bisa dilampaui siapapun pemain yang bela Timnas. Lah kan Timnas kagak pernah juara. Ya belum ada yang bisa lampauin capaian Ilham lah.

Bagi kami, prestasi Ilham adalah kebanggan buat Persita. Kan tadi aing dah bilang, Ilham itu Persita dan Persita itu Ilham. Layaknya pinang dibelah kapak, seperti dua sejoli yang dimabuk cinta. Tidak bisa dipisahkan. Atau setidaknya, seperti itulah keinginan kami para pendukung Persita.

BACA JUGA:  Rumah Tangga Terancam Bubar karena Nama Anak

Setelah kembali meraih posisi pertama dalam urusan cetak gol di liga tahun 2006, setelah diangkat jadi PNS oleh Bupati Tangerang, dan setelah namanya semakin dikenal juga dielu-elukan oleh publik sepak bola nasional, lah tega-teganya belio tetiba menerima pinangan sultan di raja klub Malaysia. Patahlah hati aing. Rasanya bahkan lebih pedih dari apa yang dirasakan pendukung Barca saat ditinggal Neymar ke PSG.

Kebahagiaan memanglah fana, derita abadi. Setelah perpisahan itu Ilham mengalami cedera parah. Kariernya memburuk seperti nasib Alexandre Pato yang terpuruk setelah cedera parah. Persita pun harus turun kasta nggak lama setelah ditinggal Ilham.

Prestasi paling bagus yang diraih Persita ya cuma bisa numpang lewat setelah promosi aja. Habis itu ya cuma bisa jadi penghibur di liga 2. Ilham sami mawon. Gagal jadi TKI di negeri jiran, balik kampung cuma jadi pemain angin-anginan di Liga Super. Balik ke Persita, cuma bisa cetak gol sebiji. Itu pun balik kayaknya lebih ke niat fokus jadi PNS ketimbang pemain bola.

Tapi ya tetep, Ilham adalah pemain kebanggan warga Tengerang. Setidaknya pernah jadi kebanggaan. Malah jalan sepak bola Ilham banyak diikuti pemain bola di Indonesia. Kerja keras jadi pemain hebat agar nantinya diangkat pemerintah daerah jadi PNS.

Mungkin inilah alasan sebenarnya banyak anak muda Indonesia pengin jadi pemain bola profesional. Bukan soal biar bisa jadi legenda kayak Bambang Pamungkas, tapi biar bisa hidup nyaman jadi PNS. Daripada main bola latihan tiap hari dan panas-panasan, atuh mending kerja santai hidup dijamin pemerintah. Panteslah Okto Maniani yang penah dijuluki Messi dari Indonesia itu lebih milih fokus berkarier jadi PNS ketimbang maen bola.

Selamat, Ilham. Walau kamu gagal jadi TKI di Malaysia, tapi kisah suksesmu jadi PNS banyak diikuti pemain bola Indonesia.

Komentar
Add Friend
No more articles