• 32
    Shares

MOJOK.COJika Pak Prabowo tidak bisa menjadi imam salat, Indonesia bakal punah. Ujung-ujungnya kita menjadi penduduk asing dan aseng. Duh, gawat!

“Maka kita angkat pemimpin yang bisa soooo?” Tanya Ustaz Abdul Somad di sebuah ceramah memancing respons jamaah. Tak sampai satu detik, jamaah menyahut bersama-sama: “Soooolaaaat!!!1!!!1”

“Solat! Bukan Somad!” Ustaz Abdul Somad menimpali sambil bercanda. “Angkat pemimpin yang bisa jadi imam solat! “Tak bisa solat Maghrib, Pak Ustaz” Tak apa, solat Dzuhur saja dulu.”

Petikan ceramah Ustaz Abdul Somad di atas bikin saya cemas. Bahkan sudah pada tahap khawatir. Mengapa? Karena baru-baru ini Pak Prabowo, capres yang didampingi oleh Sandiaga Uno sebagai cawapres, mengaku bahwa dirinya tak pantas menjadi imam salat. Ini bahaya. Semoga Pak Prabs hanya sedang merendah, bukan karena memang tidak bisa salat.

Lho, kamu tidak percaya Pak Prabowo mengakui bahwa dirinya tidak pantas menjadi imam salat dan bakal terancam gagal menang Pilpres 2019 karena Ustaz Abdul Somad menyarankan kita memilih pemimpin yang bisa menjadi imam salat?

Tanggal 17 Desember 2018 yang lalu, Pak Prabowo sudah mengakuinya secara terbuka. Bahkan direkam, ditulis, dan diunggah oleh banyak wartawan dan media seperti permintaan Ketum Gerindra bahwa media-media di Indonesia harus adil memberitakan.

“Saya gak bisa jadi imam salat katanya. Ya saya merasa tahu diri, yang jadi imam ya harus orang yang lebih tinggi ilmunya. Betul? Saya tidak takut mengakui saya merasa tidak pantas saya menjadi imam salat, lebih baik saya ikuti orang yang lebih tinggi ilmunya dari saya,” aku Pak Prabs seperti dilansir oleh Tribun, yang seperti punya cabang dari Sabang sampai Merauke itu.

Baca juga:  5 Pengganti Knalpot Blombongan untuk Kampanye yang Tak Kalah Ramai

Ini lho yang saya khawatirkan. Begini, Pak Prabowo. Anda kan tahu kalau di Indonesia ini “beragama dan punya iman sundul langit” itu kelasnya sangat tinggi di kontestasi politik. Sensitifitas terkait masalah rakyat, paham masalah ekonomi-sosial, budaya, masalah internasional itu kan urusan remeh. Yang penting adalah agamis. Titik. Lha kalau Pak Prabs mencoba merendah, nanti malah diserang banyak orang.

Nanti Anda dibilang memang tidak bisa salat, apalagi menjadi imam ketika menjalankan rukun Islam yang kedua tapi sok-sokan merendah biar terhindar dari disuruh-suruh. Eeh tapi, Pak Prabs bisa salat dan menjadi imam, kan? Nanti saya sudah capek membela Pak Prabs ternyata memang tak bisa salat apalagi menjadi imam.

Apalagi ketika Ustaz Abdul Somad, salah satu calon wakil presiden pilihan Ijtima Ulama itu bilang bahwa:

“Aslinya yang menjadi imam itu adalah pemimpin. Makanya selama Nabi Muhammad SAW masih hidup tidak ada yang maju ke depan (memimpin), kecuali atas titah Baginda (Nabi Muhammad), maka majulah Sayyidina Abu Bakar Ash Siddiq Radiallahu Anh,” kata Ustaz Abdul Somad, yang kembali dicatat oleh Tribun, yang cabangnya nauzubillah banyak banget itu. Itu kalau di Planet Mars boleh buka kantor berita, Tribun pasti udah pesan kaveling sejak lama.

Nah, kalau pemimpin harus bisa menjadi imam salat, sedangkan Pak Prabowo mengaku tidak pantas (tidak mampu?), lalu kita harus memilih siapa? Masak milih Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin.

Baca juga:  Tanda-Tandanya Semakin Jelas, Partai Demokrat Semakin Dekat Dengan Koalisi Jokowi

Ya sebetulnya sih tidak masalah kalah kudu memilih Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin. Jokowi sudah beberapa kali menjadi imam salat. Soal bacaan yang salah, itu urusan lain. Yang sedang dipermasalahkan itu kan keberanian dulu untuk maju memimpin salat, menjadi imam. Berani dulu, baru dibenahi kemudian kalau salah. Ingat, seperti kata iklan Rinso, “Berani kotor itu baik!”

Tapi, Pak Prabowo, ada satu masalah besar kalau kami kudu memilih Jokowo dan Kiai Ma’ruf Amin. Masalahnya cuma satu sih, yaitu Indonesia bakal punah karena Bapak kalah.

Seperti kata Pak Prabowo sendiri, kalah kalah di Pilpres 2019, Indonesia ini bakal punah.

“…Kita tidak boleh kalah. Kalau kita kalah, negara ini bisa punah. Karena elite Indonesia selalu mengecewakan, selalu gagal menjalankan amanah dri rakyat Indonesia. Sudah terlalu lama elite yang berkuasa puluhan tahun, sudah terlalu lama mereka memberi arah keliru, sistem yang salah.”

Ketika pemilih memilih Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin karena bisa menjadi imam salat, artinya Pak Prabowo akan kalah. Indonesia lalu punah. Takut, Pak. Saya takut tidak bisa julid dan ghibah lagi di medsos.

Apalagi ketika nanti Indonesia punah dan kita pindah kewarganegaraan. Masak kita kudu gabung ke Cina dan Amerika Serikat. Masyaallah, Pak. Anda kan menyerukan kalau kita kudu anti-aseng dan anti-asing. Masak malah mengingkari nasihat Bapak.

Jadi, Pak. Ayo jadi imam salat. Biar Indonesia tidak punah dan kita jadi penduduk asing dan aseng. Nanti biar dibantu Ahmad Khadafi, redaktur Mojok yang lulusan pesantren Al Muayyad di Surakarta.