MOJOK.COTeam bonding melahirkan kolektivitas. Dari kolektivitas terbangun konsisten. Real Madrid selalu punya cara, yang kini sedang dititi secara perlahan oleh Arsenal.

Saya selalu percaya kalau kebangkitan sebuah tim tidak mungkin dipicu oleh satu pemain saja. Ketika kita bicara soal Real Madrid, ada satu hal yang tidak pernah disentuh oleh analis atau jurnalis. Los Blancos kuat bukan karena satu pemain saja. Bukan karena keberadaan “penentu” yang biasanya menyita satu halaman muka sebuah surat kabar.

Benar adanya kalah dulu Cristiano Ronaldo menjadi protagonista, dengan ratusan gol yang tercatat, dan penampilan heroiknya di babak sistem gugur Liga Champions beberapa tahun yang lalu. Namun, jika kamu melihat lebih dalam, ada proses yang terjadi di baliknya. Ada usaha pelatih dan pemain lain yang memungkinkan Ronaldo menjadi predator kotak penalti yang begitu efisien.

Zinedine Zidane tahu betul kalau Ronaldo dengan kebugaran 100 persen adalah monster. Oleh sebab itu, dia banyak memberi waktu istirahat ketika Real Madrid bermain di La Liga. Alvaro Morata, yang berperan sebagai pelapis Ronaldo tampil stabil. Lini depan yang kehilangan beberapa persen kekuatan ditutup oleh pemain dari lini lain.

Masih segar di dalam ingatan saya tentang kisah kemunculan Marco Asensio. Pemain muda asal Spanyol itu menjadi penyokong Ronaldo di lini depan. Dibantu Isco dan konsistensi Karim Benzema, Ronaldo menjadi lebih mudah untuk bermain sebagai poacher. Kolektivitas inilah yang turut menjadi pemantik kebangkitan Real Madrid musim ini.

Kita tahu kalau musim lalu Thibaut Courtois menjadi salah satu penampil terburuk. Pun Toni Kroos dan Luka Modric yang bermain di bawah standar mereka. Musim ini, musim ketiganya “rejuvenate”, bangkit, terasa lebih segar. Bahkan di Januari 2020, Courtois menjadi penampil terbaik. Sakali lagi, kolektivitas.

Baca juga:  Arsenal dan Freddie Ljungberg: Menyambut Kebijakan “Klub Miskin”

Kolektivitas lahir dari sekumpulan pemain yang punya satu tujuan. Punya satu misi untuk dikejar bersama. Mereka tahu kalau per pemain akan punya andil besar, memberi dampak kepada musim sebuah klub. Ikatan itu disebut team bonding, lahir dari kebersamaan dan rasa saling memahami. Sebuah ikatan yang coba dibangun Mikel Arteta di Arsenal.

Jeda musim dingin Liga Inggris dimanfaatkan Arsenal untuk membantu Arteta dan para pemain mengikat diri di dalam satu konteks. Mereka menuju Dubai, untuk berlatih dan menghabiskan waktu bersama. Jeda musim dingin ini datang di waktu yang tepat, ketika Arteta butuh waktu untuk menginjeksikan ide dan determinasinya ke dalam skuat yang secara mental sudah ambruk.

Saya heran dengan pernyataan Unai Emery baru-baru ini. Dia bilang sudah bekerja dengan baik dan 18 bulan masa kepelatihannya berhasil menghentikan kemunduran Arsenal. Padahal, 18 bulan masa kepelatihan Emery melukai mental pemain Arsenal secara paripurna. No hard feeling, tetapi begitu kenyataannya.

Emery membuat Mesut Ozil kehilangan kepercayaan diri, gagal melindungi Granit Xhaka dari penurunan performa, gagal membangun sistem bertahan, dan gagal memaksimalkan 200 juta euro investasi Arsenal. Satu-satunya hal yang perlu disyukuri dari 18 bulan masa kepelatihan Emery adalah keberaniannya memberi menit kepada banyak pemain muda.

Ambruknya mental pemain Arsenal diwakili oleh suara Bernd Leno, pemain terbaik mereka musim ini. “Mental pemain hilang dari atas lapangan. Saya belum mau menyebutnya sebagai sebuah kekacauan, tetapi semuanya terasa membingungkan. Semua pemain melakukan hal yang berbeda. Kami bukan sebuah tim. Tidak di dalam ruang ganti, tidak juga di atas lapangan, dan Anda bisa melihatnya sendiri,” kata Leno dikutip The Sun.

Leno menambahkan: “Saya rasa, semuanya berbeda dengan Mikel Arteta sebagai pelatih, Anda bisa lihat. Sejak hari pertama, dia justru tidak terlalu banyak bicara soal taktik. Dia bicara soal bagaimana kita harus bersikap di dalam ruang ganti, ketika kamu bermain, kamu harus lebih profesional selayaknya sebuah tim.”

Baca juga:  Dari Neymar Hingga Ronaldo: Jika Bambang Hartono Gila-gilaan Mengumpulkan Pesepakbola Mahal Dunia

Menambal kebocoran mungkin mudah dilakukan. Tetapi memperbaiki bendungan yang jebol, butuh waktu dan usaha ekstra. Masuk akal kalau Arsenal butuh waktu untuk bisa sekadar “bermain baik”. Cedera mental memang lebih sulit disembuhkan ketimbang cedera ankel. Emery sudah mengumbar omong kosong. Dia bukan pelatih yang dewasa, apalagi bijaksana.

Team bonding membuat Real Madrid menjadi tim “yang serius” menatap semua laga. Mereka akan kalah beberapa kali. Wajar. Tetapi di momen penting, mereka bersikap sebagaimana mestinya tim professional, yang diisi oleh para profesional.

Terikat sebagai sebuah tim artinya berjalan bersama-sama menuju tujuan yang juga sama. Tidak ada lagi kebingungan. Semuanya setuju terjun ke dalam misi kolektif. Pun Real Madrid melakukannya secara kolektif. Team bonding tidak hanya harus dicontoh Arsenal, tetapi juga banyak tim besar yang kehilangan tujuan seperti Manchester United, Chelsea, AC Milan, dan lain sebagainya.

Pada titik tertentu, sebuah tim akan sangat kuat meskipun tidak punya pemain bintang. Sebuah tim menjadi sangat kuat ketika kolektivitas terasa nyata. Dari sana, secara perlahan, lahir kesadaran akan kemenangan. Secara pasti, konsistensi akan terbangun. Sebuah proses yang sudah dijalani Real Madrid dan sedang dititi oleh Arsenal.

BACA JUGA Tentang Perbedaan Level: Real Madrid Menunggu, Manchester United Mencari Keseimbangan atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.