• 41
    Shares

MOJOK.COSudah satu tahun lebih PSSI tidak memberi kabar positif terkait kasus kematian Banu Rusman. PSSI jangan hanya tegas kepada Persib dan Arema saja.

Tanggal 11 Oktober 2018 yang lalu adalah satu tahun persis meninggalnya Banu Rusman, suporter Persita Tangerang. Mojok turut berduka cita dan semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di surga, tempat paling enak untuk bisa terus menonton sepak bola tanpa ancaman dan kekerasan.

Mojok bukan hendak membukan luka lama, terutama di hati keluarga yang ditinggalkan. Mojok hanya ingin mengingatkan bahwa yang bersalah harus mendapatkan hukuman. Sampai satu tahun berlalu, kebenaran di balik meninggalnya Banu Rusman masih samar. Para pelaku pemukulan, sampai tulisan ini tayang, belum mendapatkan hukuman yang layak.

Mengapa kita tidak boleh hanya ingat Persib dan Arema saja, sampai melupakan almarhum Banu Rusman? Karena ketika hal serupa terulang kembali, dengan para pelaku “yang spesifik”, kejadian itu akan diperlakukan sama. Dilupakan seiring waktu dan keadilan palsu adalah zona nyaman mereka yang berlindung di balik bayang-bayang kekuasaan.

Ketika keadilan tidak berbicara untuk semua orang, tiada gunanya kita merayakan sesuatu, sebut saja sepak bola. Dunia sepak bola sama seperti dunia kebanyakan. Adil tidak harus sama rata. Namun keadilan harus dirasakan semua orang. Tanpa terkecuali. Tanpa tebang-pilih. Kamu tidak bisa berbuat jahat, lalu hidup tenang-tenang saja dan “mendapatkan perlindungan”.

Setelah almarhum Haringga Sirilla dikeroyok pendukung Persib sampai meninggalkan kita, pihak kepolisan bekerja sangat kilat untuk mengamankan para pelaku. Para pelaku ini masih berkeliaran di sekitar stadion. Polisi, dengan ilmu yang mereka miliki, bisa melacak dan meringkusnya satu per satu. Kasus pengeroyokan Haringga Sirilla oleh pendukung Persib ditutup dengan lekas, tanpa halangan berarti.

Baca juga:  Jenis-Jenis Suporter Sepakbola Indonesia yang Wajib Anda Ketahui

Ketika Aremania masuk ke dalam lapangan di laga Arema FC vs Persebaya, Komisi Disiplin bekerja cepat. Tidak sampai dua minggu, hukuman untuk dirigen Aremania, Yuli Sumpil, langsung dijatuhui sanksi tidak boleh menonton sepak bola di wilayah Republik Indonesia untuk seumur hidup. Arema FC sendiri dihukum tidak bisa ditonton Aremania hingga musim ini berakhir.

Sebuah pertanyaan retorika muncul. Mengapa kecepatan kerja polisi dan Komisi Disiplin PSSI untuk menyelesaikan perkara Persib dan Arema tidak sama ketika mereka dihadapkan dengan kasus kematian Banu Rusman? Karena sifatnya retorika, saya kembalikan jawabannya ke dalam hati kalian masing-masing.

Jika mau jujur, semua alat untuk melacak pelaku pemukulan Banu Rusman sangat mudah didapat pihak kepolisian dan Komisi Disiplin PSSI. Video pemukulan beredar sangat luas. Kesaksian saksi bisa dipetik dengan mudah oleh pihak kepolisian. Toh mereka bisa dan punya kuasa untuk mengumpulkan dan berbicara secara langsung dengan para saksi.

Komisi Disiplin PSSI bisa dengan mudah mempelajari video kekerasan “suporter PSMS itu” untuk merancang sanksi sekreatif mungkin. Tetapi, apa yang kita dapatkan sampai detik ini? Aroma sumir ketidakadilan yang menguar begitu kuat. Apalagi setelah Persib dan Arema mendapatkan hukuman yang cukup berat.

Kalau kepolisian dan Komisi Disiplin butuh bahan lagi, mereka bisa mencarinya lewat situsweb-situsweb terpercaya. Misalnya tirto.id yang pernah melakukan investigasi kematian Banu Rusman. Kronologi kekerasan suporter PSMS itu disajikan secara gamblang, disertai hasil wawancara saksi yang sangat padat dan jelas.

Lewat hasil investigasi tersebut, mata kita kembali dibuka oleh kenyataan bahwa suporter PSMS adalah para tentara, tepatnya Divif 1 Kostrad Cilodong. Mereka adalah para terpilih dan terlatih untuk bertarung di medan perang. Sementara itu, yang dikeroyok adalah para suporter, warga sipil, yang sangat awam dengan teknik-teknik berperang.

Baca juga:  Berkat DPR, (Mungkin) The Jak dan Bobotoh Bisa Rukun di Aksi Suporter Indonesia

Para tentara ini bisa hadir dan mendukung PSMS karena keberadaan Edy Rahmayadi. Beliau adalah pembina PSMS Medan, mantan Panglima Kostrad, Ketum PSSI, sekaligus Gubernur Sumatera Utara. Komplet, jabatan yang tersemat sungguh nggegirsii. Saya tidak bisa membayangkan cara Edy Rahmayadi membagi waktu untuk semua jabatan itu.

Selain sulit membagi konsentrasi, rangkap jabatan juga rentan dengan terjadinya konflik kepentingan. Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar ketika nama PSMS, tentara, dan Edy Rahmayadi dijejerkan. Lalu, coba sempalkan nama almarhum Banu Rusman di tengah-tengah mereka. Apakah ada konflik kepentingan di antara semua “kata” tersebut? Silakan simpulkan sendiri.

Senakal apapun anak dan sekeras apapun hati bapak, rasa saling melindungi pasti ada. Untuk konteks keluarga bahagia, analogi itu sungguh bijak. Namun untuk konteks pencarian keadilan, analogi itu bisa sangat berbahaya.

Setelah Persib mendapatkan sanksi berat, pembunuh Haringga Sirilla tertangkap, Arema dihukum tanpa penonon, Yuli Sumpil tidak bisa masuk ke stadion, kita jangan sampai melupakan Banu Rusman. Jika PSSI dan Komisi Disiplin memang profesional, jika kepolisian memang gesit, dalam beberapa minggu ke depan, seharusnya ada perkembangan kasus Banu Rusman.

Jika tidak, sampai beberapa bulan ke depan tidak ada perkembangan, jangan marah kalau PSSI dituduh tidak bersih. Kotor. Keruh. Bau busuk. Jangan emosi kalau netizen akan selalu cerewet mengingatkan. Konflik kepentingan para pemangku jabatan dan pemegang kekuasaan juga salah satu sumber kisruh sepak bola Indonesia. Jangan hanya enteng menyalahkan suporter.

Kamu bersih tidak, PSSI?