Rubrik: Balbalan

Casemiro dan Fede Valverde Seperti Lubang Hitam di Pertahanan Real Madrid

MOJOK.COEl Clasico penuh damai menjadi panggung kelahiran gelandang masa depan Real Madrid, Fede Valverde dan kebangkitan Casemiro, sang tulang punggung.

Malam itu, Fede Valverde sampai di rumah dengan wajah berseri. Senyum semringah menghiasai bibirnya. Sebelum beristirahat setelah melewati hari yang panjang, Fede Valverde mengosongkan saku celananya.

Pertama, dia mengeluarkan kunci rumah dari dalam saku. Kedua, dompet berwarna hitam merek Oakley KW yang dibeli ketika diskonan di Outlet Biru. Ketiga, smartphone Redmi Note 8 pro. Fede Valverde pecinta Xiaomi. Dia followers setia @SobatHAPE dan Koh Herry SW di Twitter. Keempat, sesosok pesepak bola, pemenang Ballon d’Or, Lionel Messi.

Tentu saja paragraf di atas cuma karangan belaka. Mana mungkin Koh Harry SW bisa masuk ke saku Fede Valverde. Namun, satu hal yang pasti, di El Clasico, Fede Valverde memang “mengantongi” Lionel Messi. Bersama Casemiro, pemain asal Uruguay itu membuat lini tengah Real Madrid begitu tebal. Seperti lubang hitam, keduanya menyerap setiap serangan Barcelona secara tuntas.

Selain Marc-Andre Ter Stegen, saya rasa hanya ada dua pemain yang tampil oke di El Clasico yang adem ayem ini. Mereka adalah Casemiro dan Fede Valverde, dua gelandang muda Real Madrid. Keduanya menjadi tembok kokoh dan anjing penjaga. Solid, kokoh.

Kemunculan Fede Valverde dan kebangkitan Casemiro

Satu hari sebelum El Clasico, saya menulis tentang sebuah era yang akan segera paripurna. Era para jagoan dan tetua yang sudah kehabisan waktu. Era perdebatan panjang untuk menentukan apakah Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo sebagai pesepak bola terbaik sejagat raya dan pemain-pemain elite yang mengitari mereka.

Tupac Shakur pernah berkata lewat lagunya kalau, “Wars come and go, but my soldiers stay eternal.” Peperangan datang dan pergi, tetapi para prajuritku abadi. El Clasico adalah peperangan itu. Dan mereka yang pernah mewarnainya akan menjadi abadi. Namun, meski perang akan tetap ada, sebuah masa akan berganti.

Peperangan datang dan pergi silih berganti, prajurit yang mewarnainya dengan darah akan menjadi abadi. Kenangan akan peperangan itu akan diteruskan oleh prajurit baru, yang datang dengan keyakinan akan kejayaan yang juga baru.

Era tridente Luka Modric, Toni Kroos, dan Casemiro sudah akan berakhir. Modric kehilangan sentuhannya, perlahan-lahan. Sementara itu, Kroos menjadi evergreen, seperti tak lekang oleh waktu. Seperti permata, Kroos semakin kuat seiring waktu. Dan Casemiro yang bangkit dari keterpurukan.

Menurut saya, di puncak performa mereka, trio Modric, Kroos, dan Casemiro adalah trio gelandang paling seimbang. Ketiganya, menurut saya, punya posisi yang lebih penting ketimbang Ronaldo ketimbang menjuarai Liga Champions tiga kali berturut-turut. Mereka tidak hanya menyediakan keseimbangan, tetapi memadukan kekuatan bertahan dan kreativitas untuk menyerang.

Kini, ketika Modric tidak lagi sama, zaman berubah, Fede Valverde muncul. Usianya masih 21. Namun, Fede Valverde bermain di El Clasico seperti pemain veteran. Dia seperti sudah puluhan kali jatuh bangun di salah satu laga dengan tekanan mental yang begitu berat ini.

Posturnya sedikit mirip seperti Toni Kroos. Fisiknya ideal untuk lini tengah yang intens, kokoh dan liat sekaligus. Fede Valverde mendasarkan permainanya kepada kecepatan berpikir. Kepalanya selalu terangkat ketika menggiring bola. Dia waspada. Membuatnya jeli melihat posisi lawan dan kawan. Teknik umpannya di atas rata-rata dengan jangkauan yang baik.

Tahukah kamu, kerja bertahan adalah pekerjaan paling berat di sepak bola? Valverde seperti melakukannya dengan mudah. Salah satu cirinya adalah kejelian mengambil bola dari sudut mati lawan. Dia tidak suka melakukan tekel sambil menjatuhkan diri karena membuang waktu saja. Tekelnya bersih, terukur, dan efektif.

Satu kerja bertahan ini menggambarkan kecepatan berpikir, keberanian, dan kombinasi kekuatan tubuh Fede Valverde. Mendesak lawan dari sudut mati membutuhkan bangunan badan yang kokoh. Namun, di saat yang sama, dirinya harus lentur supaya bisa memasukkan kaki dari sudut mati. Jika tidak lentur, yang terjadi malah pelanggaran.

Casemiro, tulang punggung Real Madrid

Fede Valverde melengkapi Casemiro. Memang, dia tidak sekreatif Modric. Namun, saat ini, Fede Valverde memberi rasa aman yang dibutuhkan Real Madrid. Mungkin, kemunculan Fede inilah yang memantik kebangkitan kembali Casemiro.

Elpais.com menaikkan sebuah tulisan tentang Casemiro dengan judul yang menarik. Mereka menulis begini: “Casemiro, Obsesi Kepada Detail”. Gelandang bertahan Real Madrid itu menjadi salah satu gelandang terbaik di dunia bukan hanya karena doyan lari dan punya stamina seperi kuda. Casemiro adalah pesepak bola yang rajin belajar dan punya keinginan kuat untuk terus berkembang.

Ketika Real Madrid dibantai Atletico Madrid dengan skor 3-7, Casemiro langsung menyudahi liburannya. Sepuluh hari kemudian, Casemiro sudah bermain untuk Madrid ketika melawan RB Slazburg. Ketika dia bergabung, Madrid bermain lebih baik. “Mereka seperti baru mengganti tulang punggung,” tulis elpais.com.

Casemiro selalu datang satu jam lebih cepat ketimbang pemain lain untuk latihan dan pulang paling akhir. Dia punya kebiasaan untuk tidur siang di dalam hyperbaric chambers atau sebuah terapi di mana peserta menghirup oksigen murni.

Terapi ini bertujuan meningkatkan kadar oksigen dalam darah, plasma, dan jaringan. Oksigen dalam ruangan bertekanan tinggi akan meningkatkan kelarutan oksigen dalam darah, plasma, dan jaringan. Sel dan jaringan baru pada tubuh akan lebih cepat tumbuh.

Casemiro tidak pernah membuang waktu. Dia punya gim pribadi dengan luas seratus meter. Makanan yang dikonsumsi di rumah disesuaikan dengan menu di Valdebebas. Dietnya sangat ketat. Dulu, Casemiro hobi makan feijoada atau sup kacang hitam dengan salted pork dan nasi putih. Kini, dia mengganti menu super lezat itu dengan ayam, salad, dan jus jeruk.

Rodrygo Goes, pemain baru Real Madrid berterima kasih kepada Casemiro. Berat Casemiro, stigma pesepak bola asal Brasil itu rata-rata pemalas bisa dibantah. Ketika punya waktu luang, Casemiro menghabiskan waktunya dengan membuka Wyscout, sebuah situs analisis dan scouting pemain bikinan Italia.

Casemiro pernah menghabiskan waktu selama beberapa jam untuk mempelajari data-data pergerakan Kylian Mbappe di Wyscout. Di pertandingan, berkat data-data yang dipelajari dari Wyscout, Casemiro berhasil meredam Mbappe. Kemauan untuk berkembang itu yang membuatnya menjadi salah satu gelandang bertahan terbaik di dunia.

Di mata saya, El Clasico penuh kedamaian itu adalah sebuah panggung penegasan, pertama,  kemunculan gelandang masa depan Real Madrid bernama Fede Valverde. Kedua, tulang punggung yang baru diinjeksikan ke punggung Real Madrid. Tulang punggung dengan merek Fede Valverde, Kroos, dan Casemiro.

BACA JUGA El Clasico Bisa Antiklimaks Kalau Real Madrid dan Barcelona Gini Terus atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Leave a Comment