MOJOK.COArsenal dan Chelsea membeli pemain dengan jitu, pas dengan kebutuhan. Namun, apakah pembelian ini sesuai dengan misi mengejar keseimbangan?

Hari-hari belakangan ini menjadi momen yang menyenangkan untuk fans Chelsea. Bagaimana tidak, sebelum kompetisi berakhir saja, dua pemai bagus sudah resmi bergabung. Di sudut lain kota London, fans Arsenal tengah penasaran setengah mati menantikan perombakan skuat yang dirancang Mikel Arteta dan Edu.

Sebelum kompetisi berakhir, Chelsea sudah meresmikan pembelian Hakim Ziyech dari Ajax. Tidak lama berselang, Timo Werner, striker RB Leipzig merapat. Pembelian yang dianggap sebagai upgrade dari Willian, Pedro, Ruben Loftus-Cheek, dan Callum Hudson-Odoi. Willian dan Pedro sudah resmi hengkang dengan status bebas transfer setelah kontraknya habis.

Setelah kompetisi berakhir, tidak butuh waktu lama, tiga pemain baru akan segera merapat. Mereka adalah Ben Chilwell, bek kiri dari Leicester City, Thiago Silva, bek tengah Paris Saint-Germain, dan Kai Havertz, wonderkid Bayer Leverkusen. Nama terakhir disebut sebagai salah satu wonderkid paling menjanjikan dari Jerman.

Departemen transfer manajemen Chelsea bukan hanya bekerja cepat. Mereka juga bekerja dengan sangat terukur. Jika gagal membeli Chilwell, manajemen sudah menyiapkan Sergio Reguilon, bek kiri Real Madrid yang dipinjamkan ke Sevilla. Sementara itu, jika Thiago Silva tidak jadi hengkang dari PSG, manajemen The Blues sudah siap menyodorkan kontrak untuk Malang Sarr.

Inilah wujud strategi transfer yang terukur. Klub punya rencana B ketika rencana A gagal dikejar. Apalagi, mereka yang masuk ke dalam rencana B bukan pemain sembarangan. Reguilon dan Sarr adalah dua pemain muda dengan potensi sangat besar. Oleh sebab itu, tidak heran jika Chelsea sudah dianggap sebagai pemenang di bursa transfer musim panas kali ini.

Perombakan skuat juga sedang diusahakan Arsenal. Mikel Arteta, sebelum kompetisi musim 2019/2020 paripurna, menegaskan kalau manajemen harus berinvestasi. Apalagi jika manajemen mematok target tinggi untuk tiga musim ke depan. Kita tahu, terutama fans Arsenal sangat paham kalau skuat yang ada sangat tidak seimbang.

Sembari berusaha menjual banyak pemain, manajemen Arsenal, dengan Arteta dan Edu sebagai “juru transfer” mendatangkan pemain yang dibutuhkan. Mulai dari Willian, penyerang sayap Chelsea, sudah resmi berlabuh. Pemain kedua yang sedang tes medis adalah Gabriel Magalhaes, bek tengah berkaki kiri, permintaan langsung dari Arteta.

Baca juga:  Pelecehan di Sepak Bola Putri dan Perlunya Kita Tafakur Kepada Arsene Wenger

Setelah dua pemain ini, Arsenal masih berusaha merampungkan pembelian Thomas Partey dari Atletico Madrid. Jika gagal membeli Partey, The Gunners sudah menyiapkan cadangannya dalam diri Boubakary Soumare, gelandang Lille, rekan satu tim Gabriel. Soumare, dianggap sebagai “versi muda” dari Partey. Bagus di aspek fisik dan kecepatan.

Selain Soumare, Arsenal juga mengagendakan Houssem Aouar dan Thiago Alcantara. Nama terakhir bahkan sudah ditelepon secara langsung oleh Arteta. Meskipun kita tahu, Thiago sangat diinginkan Jurgen Klopp, pelatih Liverpool. Hanya banderol Thiago saja yang menghalangi kepindahannya ke Liverpool.

Arsenal dan Chelsea mengejar keseimbangan

Dua tim ini punya pekerjaan rumah yang hampir sama, yaitu perkara keseimbangan. Lini tengah Arsenal pernah diisi Granit Xhaka, Lucas Torreira, dan Mesut Ozil. Ketika ketiganya bermain di performa terbaik, didukung struktur tim di atas lapangan yang juga terjaga, lini tengah The Gunners bisa sangat dominan.

Namun, di momen-momen tertentu, ketiganya tidak punya kontrol akan situasi. Mudah terekspose oleh serangan balik atau tim lain yang punya lini tengah lebih berkualitas. Oleh sebab itu, buruan utama adalah Partey, lalu disusul Aouar dan Thiago. Kontrol di lapangan tengah adalah mutlak.

Untuk lini belakang, Gabriel, bek tengah berkaki kiri, memberi keseimbangan bagi William Saliba dan semua bek tengah. Arteta lebih suka menggunakan dua bek tengah dengan keragaman kaki dominan. Semuanya for the sake of keseimbangan tim.

Begitu pula dengan Chelsea, di mana musim lalu sangat bergantung kepada Christian Pulisic dan Willian saja. Kini, mereka punya Ziyech, Werner, dan Havertz (setelah resmi bergabung). Tiga pemain yang musim lalu sangat menonjol di Liga Belanda dan Bundesliga Jerman.

Namun, ada satu pekerjaan berat untuk Frank Lampard musim depan. Pemain yang resmi dibeli adalah orang-orang kreatif. Sangat andal dengan bola. Bisa membuat peluang dari situasi nihil. Kesulitan terbesarnya adalah menemukan keseimbangan di lini tengah, apa pun bentuk yang ingin digunakan; baik 4-2-3-1, 4-3-3, atau 3-4-3.

Satu-satunya pemain yang bisa meng-cover area luas di depan bek adalah N’Golo Kante. Demi keseimbangan, Kante harus ditemani oleh salah satu dari Jorginho dan Kovacic. Jika ingin memberi tempat kepada Havertz dan Ziyech, Lampard harus mengorbankan Jorginho dan Kovacic, yang mana artinya mengorbankan keseimbangan tim.

Baca juga:  Apologia Granit Xhaka: Punggung Kapten Arsenal dan Kelam Selebritas

Komposisi Kante-Havertz-Ziyech memang sangat menarik di atas kertas. Namun, ketika melawan tim yang bermain dengan sistem low block dan punya kemampuan serangan balik sangat baik, komposisi tiga pemain ini bisa dibuat “mandi keringat dan darah”. Merotasi para pemain baru mungkin pilihan tepat. Pertanyaannya, sampai kapan pemain baru, yang selalu menjadi first option di tim sebelumnya bisa bersabar?

Fans Chelsea harus ingat bahwa di belakang, duet Thiago Silva dan Kurt Zouma, misalnya, bukan duet yang punya mobilitas tinggi. Keduanya tidak akan bisa meng-cover ruang di belakang gelandang secara konsisten selama 90 menit. Oleh sebab itu, Lampard harus sangat hati-hati. Berhasil menemukan keseimbangan, Chelsea akan jadi kekuatan besar di Liga Inggris musim depan.

Perkara keseimbangan itulah yang membuat Arteta sangat berhati-hati menentukan target pembelian. Selain harus jeli mengatur keuangan, Arteta juga paham bahwa lini tengah Arsenal sangat rentan. Bahkan bisa saya bilang, urusan mengejar keseimbangan tidak akan bisa selesai di satu jendela transfer saja.

Pekerjaan terbesar Arteta adalah menjual pemain. Ada sekitar sembilan pemain yang perlu dijual demi mengumpulkan dana segar. Padahal kita tahu, menjual pemain jauh lebih sulit ketimbang membeli. Terutama ketika pemain yang akan dijual sedang tidak berada di performa terbaik, tidak lagi berada di level tinggi, dan sepi peminat.

Bagaimana bisa mengajar keseimbangan jika tidak punya dana segar untuk membeli pemain baru, sementara skuat yang lama sudah penuh sesak? Titik tugas Arteta berbeda dengan Lampard. Namun, pada sisi yang sama, pekerjaan keduanya sangat berat. Dan jendela transfer musim panas ini akan menentukan segalanya.

Arsenal dan Chelsea, bisa dikatakan sudah bekerja dengan baik di jendela transfer. Namun, usaha mengejar keseimbangan adalah pekerjaan seumur hidup di sepak bola. Pada titik tertentu, keseimbangan adalah hal terberat untuk diraih sebuah tim.

BACA JUGA Bayern, Manusia Super di Liga Champions, dan Mia San Hansi Flick atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.