MOJOK.COMikel Arteta dianggap sangat kejam ketika menepikan beberapa pemain potensial Arsenal. Kekejaman yang justru melahirkan Emile Smith Rowe.

Akhir musim 2019/2020, Mikel Arteta melontarkan pujian sekaligus ancaman untuk Mesut Ozil. Saat itu, performa Ozil tengah menanjak dan bermain baik di beberapa pertandingan. Arteta memandang Ozil sebagai pemain terbaik, sekaligus mengingatkan bahwa level tinggi itu harus dipertahankan.

Beberapa bulan berlalu dan Ozil terasing dari skuat Arsenal. Banyak yang menyangka pengasingan mantan pemain Real Madrid itu terkait pembelaan Ozil kepada masyarakat Uighur. Arsenal memang berusaha “netral” dalam tragedi kemanusiaan itu karena punya kepentingan bisnis dengan Cina.

Mikel Arteta dianggap “sangat kejam”. Ozil, sudah dianggap sebagai salah satu legenda di Emirates Stadium. Dia sudah berhasil memenangkan hati para fans. Setidaknya, di tengah keterpurukan yang dialami Arsenal, Ozil layak mendapat kesempatan bermain.

Seiring waktu, “kekejaman” yang ditunjukkan Arsenal dan Arteta menjadi bahan bakar kelahiran kembali pemain muda dengan potensi besar, Emile Smith Rowe. Kalimat tersebut memang terdengar agak aneh. Bagaimana bisa kekejaman sebuah “rezim” malah menjadi pemantik kelahiran kembali calon pemain terbaik Arsenal di masa depan?

Mungkin… jawabannya ada di lapangan latihan dan kisah yang dituturkan Rob Holding.

Jika kita mengesampingkan perkara Uighur, kenapa Arteta menepikan Ozil? Jawaban yang paling mudah untuk diterima adalah penurunan level dan ketidakkonsistenan Ozil. Penurunan level itu, mungkin, terlihat sangat jelas di lapangan latihan Lalu, kenapa Willian, yang juga mengalami penurunan performa tetap mendapat kesempatan?

Jawabannya ada kisah yang dituturkan Rob Holding. Ketika bek tengah itu mengalami cedera panjang, dua hal yang ditekankan manajemen adalah fokus dan bekerja keras. Fokus bukan hanya soal bekerja memperbaiki fisik, tetapi juga pikiran. Arteta ingin pemainnya fokus dengan tim dan tidak merusak suasana ruang ganti.

Tuntutan ini menemukan semacam kebenaran jika kamu melihat beberapa pemain yang dilepas Arsenal sejak musim panas lalu. Mulai dari Matteo Guendouzi, Lucas Torreira, William Saliba, dan yang akan menyusul, Folarin Balogun dan Ozil. Semuanya terlalu “cerewet” di media sosial. Jenis “cerewet” yang berpotensi merusak nama klub.

Mungkin situasi ini terlihat “tidak adil” untuk sebagian fans. Saya bisa memahami perasaan itu lantaran saya juga sempat sangat berharap Saliba dan Balogun mendapat kesempatan. Setidaknya untuk bermain di Liga Europa, Piala Liga, atau FA Cup. Namun, Arteta bergeming.

Setelah memikirkannya dengan hati yang lebih tenang, ada bagian yang terasa sangat masuk akal di situasi pelik ini. Nama baik klub memang harus dijaga oleh siapa saja tanpa terkecuali, terlepas dari kontribusi, kualitas, dan potensi pemain Arsenal. Tidak bisa ditawar.

Sebuah perusahaan tidak akan berpikir dua kali untuk memecat karyawan yang berpotensi (atau malah sudah) merusak nama baik. Terlepas dari kualitas dan pengabdian yang diberikan si karyawan.

Apa jadinya sebuah perusahaan jika membiarkan si karyawan tetap bekerja? Ketika nama baik rusak, yang susah bukan cuma perusahaan, tetapi karyawan lain yang sudah bekerja sama kerasnya. Masa depan mereka yang dipertaruhkan. Mengorbankan satu orang akan lebih mudah dilakukan ketimbang bumi hangus satu entitas.

Mungkin saya terdengar berlebihan. Namun, ingat, integritas dan komitmen itu unsur yang mahal harganya. Dua hal itu yang akan membantu perusahaan keluar dari krisis. Para insan dengan integritas dan komitmen yang akan menjadi saka guru perusahaan ketika “badai” menerjang.

Oleh sebab itu, Arsenal akan lebih mengutamakan mereka yang mampu menunjukkan integritas dan komitmen di situasi sulit ini. Fokus dan kerja keras yang ditunjukkan Rob Holding itu yang akan lebih dihargai. Sesuatu yang juga sedang ditunjukkan Emile Smith Rowe.

Sebelum Arteta menjadi pelatih Arsenal, Emile Smith Rowe sudah dua kali menjalani masa peminjaman; ke RB leipzig dan Huddersfield. Dua masa peminjaman itu tidak bisa dibilang berhasil meski Emile Smith Rowe mendapat banyak menit bermain ketika memperkuat Huddersfield.

Salah satu alasan kegagalannya bersama RB Leipzig adalah cedera. Emile Smith Rowe datang ke Jerman dalam kondisi cedera. Saat itu, dia sudah diperingatkan Reiss Nelson (sedang dipinjam Hoffenheim) bahwa Bundesliga itu sangat berat.

Semua pemain berlatih dan bermain dengan determinasi tinggi. Tidak ada yang mau mengalah. Tekel dilakukan dengan keras. Para pemain di Bundesliga seperti sudah meresapi bahwa pressing itu bagian dari gaya hidup. Sebuah liga yang terbukti sangat keras untuk anak muda dengan cedera di kakinya.

Emile Smith Rowe gagal di Jerman dan “pindah sekolah” ke Huddersfield. Bersama Huddersfield, Smith Rowe bermain 19 kali dengan catatan dua gol dan tiga asis. Tidak cukup impresif untuk pemain muda dengan potensi yang dianggap melebihi Bukayo Saka dan Gabriel Martinelli.

Setelah masa peminjaman itu, Emile Smith Rowe menghabiskan banyak waktu dengan bermain untuk Arsenal U-18 dan U-23. Di titik ini, sikap Emile Smith Rowe menyikapi keadaan terlihat sangat berbeda jika dibandingkan Balogun.

Emile Smith Rowe sadar bahwa kompetisi di tim utama sangat ketat ditambah pelatih pasti punya preferensi sendiri. Dia menutup mulut, membuka hati, dan fokus dengan perkembangannya sebagai pemain maupun insan. Dia tidak merajuk, memohon, dan “mengancam”.

Pemain yang kini berusia 20 tahun itu mengalami perkembangan pesat justru ketika bermain di tim Arsenal U-18 dan U-23. Meski “hanya bermain” untuk tim akademi, dia memberi bukti bahwa lingkungan itu pun bisa menjadi lahan pendewasaan. Sangat kontras dengan Balogun dan agennya yang “mengancam”: mainkan aku atau aku akan pergi.

Di titik ini, kita bisa melihat hasilnya. Dia yang menutup mulut dan fokus dengan perkembangannya dianggap lebih layak mendapat kesempatan dibandingkan dia yang cerewet di media sosial. Dia yang bekerja dalam senyap adalah aset luar biasa ketika “perusahaan” diterpa badai.

Dan bukan kebetulan, kebangkitan Arsenal di tiga pertandingan terakhir, berhubungan dengan kelahiran kembali Emile Smith Rowe. Dia sudah sangat dewasa secara insan, berbembang sangat pesat sebagai penerus #10. Krisis dan kekejaman Arteta melahirkan sosok yang bisa mendorong Arsenal untuk berjalan ke depan.

Kehidupan ini sungguh aneh. Terkadang, kehidupan tidak akan memihak kepada kamu yang cuma punya potensi. Kehidupan akan lebih berbaik hati kepada kamu yang bersedia diam dan bekerja keras. Ketika krisis datang, kamu yang akan mendorong sebuah entitas untuk terus maju dan bertahan dari kepunahan.

Saat ini, mensyukuri kelahiran kembali Emile Smith Rowe seperti usaha untuk berlutut di depan sifat rendah hati, yang dibalut dengan fokus, integritas, komitmen, dan tentu saja: kerja keras dalam senyap.

BACA JUGA Kieran Tierney ‘Menampar’ Arsenal dan Kita Semua yang Mudah Menyerah dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Saka dan Ansu Fati: Menjadi Garam dan Terang Dunia Arsenal dan Barcelona