MOJOK.CO Berikut tiga saran untuk Arsenal yang bisa kamu sebut ngawur. Bukan saran yang canggih. Namun, Freddie Ljungberg harus punya nyali untuk mencobanya.

Anggap saja ini saran ngawur. Melihat Arsenal yang juga serba ngawur beberapa bulan ini, saya punya kepercayaan diri saran ini lebih nggak ngawur. Meskipun ngawur, belum tentu bikin Arsenal makin kepyur.

Menghadapi West Ham United, mempertimbangkan performa Arsenal ketika kalah dari Brighton, ada beberapa masalah yang segera perlu dibenahi. Modalnya cuma satu saja, yaitu nyali dari Freddie Ljungberg.

Saran 1: cadangkan Lacazette dan pemain senior lainnya.

Sebelum menghadapi West Ham United, Ljungberg berbicara kepada wartawan. Salah satu ucapan Ljungberg adalah soal memainkan pemain-pemain senior. Ljungberg memandang situasi krisis seperti ini membutuhkan kontribusi para pemain senior Arsenal. Pendapat yang tidak keliru. Asalkan para pemain senior memang bisa berkontribusi.

Nyatanya adalah tidak. Lacazette memang membuat gol ketika kalah dari Brighton. Namun, sepanjang laga, dirinya tidak berkontribusi seperti yang diharapkan. Pun performanya sedang turun. Maka normal apabila pemain yang sedang jelek tempatnya di bangku cadangan.

Sudah saatnya Aubameyang memimpin lini depan Arsenal. Sebagai advance forward atau poacher, bukan lagi inside forward yang bermain dari sisi kiri. Kontribusinya ketika bermain dari sisi kiri memang maksimal. Maka bisa dibayangkan apabila akhirnya Auba memimpin lini depan.

Baca juga:  Cara Arsenal Memotong Sejarah Buruk Melawan Tim Medioker

Pemain lain yang harus dicadangkan adalah David Luiz, Sokratis, dan Kolasinac. Saya paham, mencadangkan pemain influential bukan pekerjaan mudah. Suasana hati mereka adalah suasana hati ruang ganti. Namun, Ljungberg harus punya nyali untuk melakukannya. Pemain tidak boleh lebih besar dari klub.

Saran 2: mainkan Pepe dan Martinelli.

Masuk di babak kedua, Pepe sedikit mengubah aura pertandingan. Arsenal menjadi lebih hidup, terutama dari sisi kanan. Selama ini, Pepe menjadi bahan ledekan kerena price tag yang tinggi. Logikanya, bagaimana pemain mahal berkualitas, bisa bermain bagus jika tidak mendapatkan kesempatan bermain?

Adaptasi tercepat adalah dari menumpuk pengalaman bertanding. Bukan dari menjadi pemain pengganti atau memesona di latihan rutin. Sejak Emery hingga Ljungberg, Pepe belum mendapatkan kepercayaan. Dia akan mengecewakan, membuat kesalahan. Namun, dari kesalahan itulah performa pemain bisa dibangkitkan.

Sementara itu, sudah selayaknya Martinelli mendapatkan kesempatan bermain sejak menit pertama. Apa lagi yang perlu dibuktikkan oleh pemain muda dari Brasil itu? Bermain di Europa League maupun Carabao Cup, Martinelli menjadi pemain terbaik. Pun ketika masuk di babak kedua, Martinelli memberi hasil konkret.

Baik Pepe maupun Martinelli layak mendapatkan keadilan. Mendapatkan kebebasan berekspresi sejak menit awal. Coba saja dulu. Penyesalan cuma bagian dari proses.

Saran 3: cadangkan semua pemain tim utama.

Perlu diakui, ketika bermain di Europa League, anak-anak muda Arsenal justru bermain lebih baik. Bukan cuma soal melihat “cara bermain”. Pemain seperti Martinelli, Bukayo Saka, Joe Willock, Matteo Guendouzi, Emile Smith Rowe, dan Kieran Tierney justru bermain bagus. Bermain dengan pemain seusia dan lama menghabiskan waktu bersama tim akademi membuat komunikasi mereka lebih menyenangkan.

Baca juga:  Aubameyang dan Arsenal Memang Sakti, Sementara Liverpool dan Van Dijk Kembali ke Khitah: Mengecewakan

Toh apa sih yang ingin dikejar dari Arsenal yang sekarang ini. Bisa selamat dari jurang degradasi saja sudah baik. Jika kelak sudah lebih serius mengelola klub, baru manajemen bisa memainkan pemain senior, bergaji tinggi, dan tidak perform itu.

Selamat mencoba Ljungberg. Kalau punya nyali, sih….

BACA JUGA Benang Kusut Arsenal yang Perlu Diurai Freddie Ljungberg atau tulisan YAMADIPATI SENO lainnya.