Beberapa hari belakangan barangkali kamu membaca kabar soal gerbang tol Salatiga yang konon keindahannya imbang dengan salah satu gerbang tol di Swiss. Keduanya sama-sama berlatar belakang gunung. Gunung-gunung yang seolah sedang menunggu memelukmu seperti kawan lawas yang lama menyimpan rindu.

Namun, di sini, aku tidak akan membandingkan kedua gerbang tol tersebut. Jujur, meski tinggal di Salatiga, aku tidak tertarik menengok gerbang tol yang mengundang orang-orang berswafoto di sana—termasuk Pak Gubernur yang konon bertuankan rakyat itu. Dan kalaupun kelak aku melintasinya lalu ingin menceritakannya kepadamu, aku yakin keherananmu terhadap sesuatu sudah berganti dengan yang baru—entah apa itu. Sedangkan soal yang di Swiss, aduh, boro-boro Swiss, Madiun saja baru kujajaki lewat pecelnya sementara Tuban baru lewat tuaknya.

Lewat tulisan ini aku hanya ingin memberimu sedikit bekal yang, siapa tahu, kelak berguna saat kamu benar-benar mengunjungi kotaku.

Ya, mengunjungi kotaku. Sebab aku yakin, sebagian dari kamu penasaran dengan kotaku. Aku juga yakin, lagi-lagi sebagian dari kamu, memohon petunjuk simbah segala kaum saat ini—gugel tentu saja—di mana dan seperti apa sih Salatiga itu.

Dari petunjuk simbahmu itu, kamu lantas tahu Salatiga terletak di antara kota kelahiran Syarikat Islam, Solo, dan kota kelahiran PKI, Semarang. Tepatnya di lereng utara Gunung Merbabu. Dan yang membuatmu kepengin segera melompat ke sini adalah julukan “kota terindah di Jawa Tengah” lantaran udaranya yang sejuk, penataan kotanya yang apik, jalanan lengangnya yang membuat pelintasnya tak bakal diseruduk apa pun, bahkan oleh kisah cintanya yang muram di masa lalu. Pendek kata, menurut petunjuk simbahmu tadi, Salatiga adalah kota yang mampu membuatmu sentosa lahir batin—persis seperti olahraga.

Dan itu memang benar. Coba kau cermati ceritaku berikut ini.

Kalau boleh disebut titik pusat kota, titik pusat kota ini adalah bundaran air muncrat yang merupakan titik temu empat jalan besar. Yang ke utara arah Beringin. Yang ke timur arah Kalitaman. Yang ke selatan ke Solo. Yang ke barat ke Semarang.

Awalnya jalan-jalan tersebut cuma ada tiga. Lalu, setelah orang-orang Belanda berduyun-duyun ke mari demi mengurus perkebunan-perkebunan yang berada di Banaran, Tlogo, Sembir, Getas, Ampel dan sekujur Merbabu—mungkin biar seperti kota-kota di daerah asalnya sana—mereka mengimbuhi satu jalan lagi. Yakni yang ke arah Kalitaman.

Di sebelah utara bundaran itu dulunya adalah Hotel Kalitaman yang lantas malih nama menjadi Hotel Kaloka. Andai ia masih berfungsi sebagai hotel, kamu bisa menginap di sini. Duh, mestinya di pagi yang cerah sesudah tidur yang sungguh lelap, kamu bisa mengopi di pelatarannya sambil memandang Gunung Merbabu yang berdiri anggun seperti ibu yang selalu terjaga melindungi anaknya. Ah, menurutku, Merbabu memang ibu dari kotaku. Tapi soal ini, kita bicarakan kapan-kapan saja.

Hotel di Kopeng, 1939. Ditautkan ulang dari sini. Kamu bisa melihat foto-foto lama Salatiga di sini.

Atau, andai juga masih sebagai hotel, kamu bisa menginap di Hotel Blommestein yang berada di jalan ke arah Semarang. Kalau kamu bertolak dari bundaran, jangan khawatir, kujamin tak sampai membikin kakimu menjerit-jerit memanggil tukang pijit. Dekat kok. Lagi pula, di sepanjang jalan ini kamu bisa melihat-lihat bangunan-bangunan kuno bekas tempat tinggal orang-orang Belanda dulu.

Omong-omong soal hotel, dulu di Salatiga ada satu lagi yang keren. Namanya Hotel Berg en Dal. Ia berada di jalan arah Solo. Soal keindahan, yang terakhir ini tak kalah ketimbang Hotel Kaloka. Ia memiliki pelataran belakang luas berupa lembah yang konon dulunya merupakan danau. Andai masih ada, dari sini kamu juga bisa leluasa memandang gunung Merbabu, atau bahkan berlari-lari-film-India dengan pacarmu. Kalau punya.

Hotel Berg en Dal ini kemudian musnah dibumihanguskan simbah-simbah kita saat Belanda melakukan agresi militernya yang pertama, 1947. Kelak, di tanah bekas hotel inilah dibangun taman asri tempat kijang-kijang berlari bernama Tamansari—kamu masih bisa berlari-lari-film-India di sini—dan terminal bus yang cantik.

Kupikir jenius betul arsitek yang merancang terminal bus tersebut. Lembah bekas halaman belakang hotel tadi ia pakai sebagai lapangan parkir sekaligus ruang tunggu penumpang. Sementara atap betonnya yang memanjang dan cuma sedikit saja lebih tinggi daripada jalan raya, ia gunakan sebagai toko oleh-oleh dan warung makan. Dari atap ini, kau bisa makan sembari memandang Merbabu di sebelah selatan dan Telomoyo di arah barat. Sementara ketika kau menengok ke utara, kau bisa melihat hewan-hewan berpacaran di taman.

Sampai di sini aku jadi curiga. Orang-orang yang makan terlebih dahulu di atap terminal sebelum masuk ke dalam bus yang bakal mengantarnya ke kota lain pasti banyak yang membatalkan niat. Penduduk asli yang hendak merantau urung. Sementara yang pendatang memutuskan menetap. Hanya orang-orang ndablek yang tetap pergi setelah duduk di sana.

Di salah satu tangga terminal itu pula, kamu bisa bertemu dengan Maryuni, orang gila legendaris yang lebih dahulu tenar ketimbang Roy Marten, Rudi Salam, ataupun Ari Wibowo. Apalagi Bre Redana. Maryuni jauh lebih dulu. Ia akan dengan senang hati bercakap denganmu. Apalagi kalau kamu muda dan tampan.

Eh sebentar. Ada satu lagi orang gila yang legendaris di kota kami. Penduduk kota kami menyebutnya Min Kebo. Ia tinggal di sekitar tanjakan Ngobak yang berada di jalan arah Solo. Ia selalu tampak membawa buntalan-buntalan besar. Mungkin itu berisi kenangan yang tak ingin ia ingat, tapi ia terlalu sayang untuk membuangnya.

Kembali ke di pusat kota, persis di sebelah timur bundaran terdapat tanah lapang. Di atas tanah lapang ini berdiri sebuah tugu yang dulunya dibangun orang-orang Belanda demi menyambut kelahiran Ratu Beatrix, anak Ratu Juliana. Tugu ini adalah salah satu sudut kota kesukaan penduduk kotaku untuk berfoto-ria—mungkin lantaran bentuknya yang unik: berupa tumpukan balok-balok beton dengan tiang bendera pendek di pucuknya. Tentu, kamu juga boleh berswafoto di sini.

Di lapangan itu pulalah Bung Karno dulu pernah berpidato saat mengunjungi kota kami di tahun 1952. Tapi, ssst, bukan di sini ia bertemu dengan Hartini, istri keempatnya. Melainkan di Gedung Papak.

Simbah-simbah kami menyebut gedung yang berada di sebelah timur alun-alun itu  sebagai Gedung Papak pasti lantaran wujudnya yang rata. Kini, bangunan ini dipakai sebagai kantor wali kota. Kalau kamu ingin dibikin jengkel seseorang selain mantan pacarmu itu, bolehlah mengetuk pintu gedung ini. Hehe.

Seperti sudah kusinggung tadi jalan arah Semarang merupakan bekas kawasan hunian orang-orang Belanda. Lalu di manakah kawasan perdagangannya?

Ia berada di jalah ke arah Solo. Di sini pulalah pasar kota kami berada, tempat hasil bumi saudara-saudara kami, para petani di Merbabu dan Telomoyo, bermuara. Kalau kamu membutuhkan sayuran segar, beras, palawija, tembakau, jajanan khas kota kami: ampyang dan enting-enting gepuk, atau sekadar ingin menikmati suasana pasar, sila mampir kemari. Jangan khawatir keracunan bahan makanan yang dijual di sana. Ada petugas yang rutin mengecek kualitasnya. Jangan takut pula terpeleset atau kecemplung comberan. Pasar kami terawat. Bahkan saban sore para petugas menyiram dan mengosek lantainya dengan air bersih. Kau juga tak perlu risau bakal kesasar atau kebingungan mencari barang kebutuhanmu, sebab pasar dibagi menjadi los-los berdasar jenis barang dagangan. Bangunannya pun dirancang sedemikian rupa sehingga pencahayaan dan sirkulasi udara lancar. Di sana kau tak bakal membutuhkan pernafasan buatan dari siapa pun.

Sampai di sini aku yakin kamu kian penasaran dengan kota kami. Baiklah, silakan menengok dulu kalender demi mengatur cutimu. Kutunggu.

Sudah? Eh sebentar, kalendermu itu kalender biasa atau kalender ajaib yang bisa mengantarmu ke masa lalu? Kalau kalendar biasa, percuma. Sebab wujud kota yang kuceritakan tadi ada di masa lalu—setidaknya hingga paruh pertama rezim Orde Baru. Sedangkan kini, sebagian besar telah sirna.

Memang, bangunan utama Hotel Kaloka masih ada. Ia sekarang digunakan sebagai kantor sebuah bank. Tapi sayap kanan dan kirinya telah musnah. Diganti oleh ruko dan perkantoran. Kau juga tak bisa lagi memandang Merbabu dari halaman depannya. Pandanganmu tertutup oleh hotel baru yang tinggi menjulang.

Tapi itu masih mending dibanding yang lain. Lapangan tempat Bung Karno pernah berpidato beserta Tugu Beatrix telah tiada, diganti supermarket terbesar di kota kami beserta lapangan parkirnya. Tamansari telah menjadi terminal angkot yang keruwetannya menandingi mukamu saat patah hati. Terminal bus pun begitu. Sekarang menjadi pasar barang bekas dan, lagi-lagi, ruko dan toko. Dan yang termutakhir, bekas Hotel Blommestein, sebentar lagi bakal menjadi mal. Sementara kalau ke pasar utama, terutama di jam sibuk yakni pagi hari, kusarankan selain membawa uang, kau juga membawa hati yang jembar serta kaki yang tahan serempet mobil dan sepeda motor.

Itu baru beberapa contoh. Belum lagi soal pohon-pohon besar seperti mahoni dan angasana yang diganti dengan pohon palem dan, tentunya, ruko serta toko.

Demikianlah. Kota kami kini sama dengan kota-kota lain. Panas, ruwet, macet, dan di mana-mana penuh dengan ruko dan toko yang pastinya berbentuk seragam: kotak. Bahkan teriakan para pedagang asongan di terminal bus yang kini berada di selatan kota pun sekarang sesuara dengan pedagang asongan di terminal-terminal kota lain: “Akua dingin! Akua dingin! Mison! Mison!” Tak terdengar lagi, “Ampyang! Ampyang! Ampyang!”

Maka kalau kamu ingin merasakan suasana kota kami, kupikir tak usah jauh-jauh, kamu tinggal mengitari kotamu sendiri. Dan kalau kau kepingin panganan khas kota kami, gampang, kau tinggal membeli onlen!

Catatan penulis: tulisan ini bersumber dari buku Salatiga: Sketsa Kota Lama karya Eddy Supangkat dan cerita-cerita lisan orang-orang sepuh.

Komentar
Kirim Artikel
No more articles