Ranking Satu yang Dimanfaatkan dan Membuatku Takut Melakukan Kesalahan

Ranking Satu yang Dimanfaatkan dan Membuatku Takut Melakukan Kesalahan MOJOK.CO

Ilustrasi Ranking Satu yang Dimanfaatkan dan Membuatku Takut Melakukan Kesalahan. (Mojok.co)

Sejak masuk SMP aku selalu menjadi ranking satu dari kelas 7-9. Aku bahkan menjadi andalan beberapa guru. Dan tentu saja temanku, sebagai bandar jawaban. Aku terbiasa membuat ringkasan dalam kertas kecil untuk mengahadapi ujian, sesuai dengan kisi-kisi yang diberikan. 

Saat ujian itu berlangsung, kertas itu selalu teman-teman ku ambil untuk contekan. Aku tidak kebertan memang, karena ini adalah satu-satunya cara agar mereka menganggapku ada di kelas.

Aku sering sekali sakit dan hal itu membuatku absen dari sekolah, tapi beruntungnya aku masih menjadi ranking pertama. Nilaiku tidak pernah turun, tetap jadi ranking satu, selalu jadi yang terbaik satu angkatan. Apa yang kalian pikirkan tentang si rangking satu? Tentu saja selalu ada puja puji untuk mereka bukan? Tapi hal itu tidak berlaku untukku.

Mereka semua membutuhkanku, tapi mereka juga tidak segan menghajarku dengan hebat. Bahkan ketika aku melakukan kesalahan yang kecil, mereka mengkritik dengan bahasa yang kasar. 

Aku seperti tidak boleh melakukan kesalahan, tidak boleh berada di luar kendali mereka. Aku dijadikan otak oleh teman-teman ku. Namun, dengan bodohnya aku selalu menerima semua itu, tanpa protes. 

Gara-gara ranking satu, aku kehilangan kepercayaan diri saat dewasa

Entahlah, biasanya kalau yang jadi andalan kelas dalam hal pelajaran tuh selalu dapat pujian, tapi aku selalu dapat kritik dengan bahasa yang menyakitkan. Nggak pernah ada yang peduli tentang perasaan aku. Saat aku mengungkapkan kekesalanku, mereka semua tidak terima.

Mereka menghakimi ku, tidak peduli seberapa keras aku membela diri. Aku si rangking satu, dituntut buat menjadi otak mereka tanpa protes, aku menjadi tumbal dalam berbagai hal. Jadi ketua kelas, jadi sekretaris, semua mereka menunjukku. 

Namun, saat aku membutuhkan, mereka tidak ada yang mau memandang ku sama sekali. Sulit memang, tapi apalah daya aku yang tidak bisa berbuat apa-apa waktu itu. Karena sekalinya aku melakukan kesalahan, mereka melakukan penghakiman habis-habisan, berhari-hari, sampai aku kehilangan kepercayaan diri. Gara-gara ranking satu dan penghakiman dari teman-temanku, aku yang sudah dewasa saat ini selalu takut saat melakukan kesalahan.

Niken Midesia Sumedang Jawa Barat nikenmidesia@gmail.com

BACA JUGA Gen Z yang Terbebani karena Selalu Dituntut Sukses di Usia Muda dan keluh kesah lain dari pembaca Mojok di UNEG-UNEG

Keluh kesah dan tanggapan Uneg-uneg  bisa dikirim di sini

Exit mobile version