Informasi
ADVERTISEMENT

Work-life balance itu semacam mantra omong kosong karena hidup dan pekerjaan nyatanya nggak bisa seimbang

Work-life balance? Pekerjaan dan hidup seimbang? Omong kosong (Unsplash)

Singkat saja, work-life balance itu mitos atau beneran? Kok rasanya kayak omong kosong aja karena nyatanya hidup dan pekerjaan nggak pernah bisa seimbang.

Jadi, Mojok mengunggah gambar yang menohok di Instagram. Tiga panel, satu perempuan, dan satu kalimat yang menghantui hampir semua pekerja. 

Panel pertama, si perempuan memijat pelipisnya di meja kerja. Kedua, dia membungkuk dan membenamkan wajah ke telapak tangan. Panel ketiga, dia bangkit, menatap layar komputer, mengetik, lalu bergumam, “I love my job” tiga kali. 

Kita semua mengenali adegan itu. Dena Isni Pasha, ilustratornya, secara akurat menggambarkan isi hati para pencari keseimbangan antara hidup dan pekerjaan. Yang pada akhirnya sepakat kalau itu semua omong kosong.

Work-life balance itu beneran nggak sih?

Caption unggahan itu bertanya santai. Sudahkah kalian mencapai work-life balance itu, Kawand? Pertanyaan pendek, efeknya panjang. 

Hati kecil menjawab, “Belum,” tapi mulut malah membalas story HRD dengan emoji api dan kalimat “Siap, aman!” 

Kita hidup di zaman yang menjadikan keseimbangan sebagai slogan poster, bukan sebagai hak. Perusahaan menempelkannya di dinding koridor, memotretnya untuk laporan tahunan, lalu melupakannya.

Mari jujur sebentar soal sejarahnya. Serikat pekerja dulu memperjuangkan jam kerja yang manusiawi. Mereka turun ke jalan, mogok, dan menagih hak. 

Manajemen modern mewarisi istilah itu, menyulapnya menjadi bahasa kerah putih yang lucu, dan para direktur menyukainya. Sejak saat itu, bos boleh mengucapkan “work-life balance” di depan kamera, tetapi tidak ada yang memangkas kerja tambahan dan tidak ada yang merevisi gaji. Kamus kantor kita bertambah satu istilah indah, dan kita memakainya buat mengeluh.

Sindiran yang on point kalau kata saya: pekerjaan dan hidup nggak mungkin seimbang

Pekerjaan bikin pusing, kehidupan juga bikin pusing (Slide 2)

Kerja lelah, kehidupan ikutan melelahkan (Slide 3)

Kerjaan sulit, kehidupan sama saja (Slide 4) 

Pekerjaan berantakan, kehidupan juga berantakan (Slide 5)

Maka, begitulah, jangan merasa aneh kalau saya bilang work-life balance itu omong kosong. Lebih banyak orang yang nggak bisa menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan karena banyak kebutuhan esensial tak terjangkau lagi.

Banyak orang itu nggak punya pilihan. Mereka hanya bisa (dan harus) menambah jumlah pekerjaan, menghabiskan banyak waktu dalam kehidupannya, ya semata supaya “bisa hidup”. 

Kalau cuma satu pemasukan, mereka nggak bisa memenuhi kebutuhan dasar, apalagi nabung. Sudah begitu, “terjebak” dalam konsep sandwich generation lapis 3. Ditambah lagi berstatus WNI. Api neraka aja kalah panas itu.

Pada akhirnya, menurut saya, work-life balance itu sama kayak slow living. Sebuah konsep yang hanya bisa digapai oleh orang kaya. Ya karena sesuatu yang paling mahal itu sekarang adalah waktu. Work-life balance dan slow living itu kan separuhnya adalah usaha membeli waktu.

Jadi, sudahkah kalian mencapai work-life balance itu, Kawand?

Mojok menutup unggahannya dengan pertanyaan dan pilihan itu sudah tepat. Teks Dony Iswara dan gambar Dena mengingatkan satu. Bagi banyak orang, keseimbangan sering hidup di mulut saja. Keseimbangan paling realistis hari ini cuma satu, yaitu keseimbangan antara pura-pura waras dan benar-benar lelah. 

Sisanya? Perusahaan menyerahkannya ke kita. Kita yang memijat pelipis, berusaha tersenyum ke layar, lalu bergumam, “I love my job,” sementara kantor memetik gumaman itu untuk brosur promosinya yang berjudul “Karyawan Bahagia”.

Jadi, sudahkah kalian mencapai work-life balance itu, Kawand? Kalau belum, jangan sedih. Kalian mengejar barang yang memang tidak ada di etalase. Kalau sudah, kalian berbohong, dan itu manusiawi. 

Membohongi diri sendiri, kan, hak asasi paling gratis yang masih ada. Boleh juga kalian menertawakan diri di kolom komentar. Kantor tidak melarang orang tertawa, asal sambil bekerja.

Saya undur diri dulu. Laptop sudah memanggil, deadline sudah menagih, dan saya harus mengulang mantra: I love my job. Kalian juga, kan?

BACA JUGA Standar Orang Have Menurut Gen Z: Pilih Jadi Staf Biasa demi Work-life Balance, Muak dengan Tuntutan Pekerjaan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 September 2026 oleh .

Yamadipati Seno

Kontributor aktif media opini dan satir.

Exit mobile version