Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Wong Serang Banten Tanpa ‘Geh’ Bagai Dunia Maya Tanpa Terminal Mojok, Nggak Lengkap! Terminal Mulok #09 

Saadatunnisa oleh Saadatunnisa
19 Maret 2021
A A
Wong Serang Tanpa 'Geh' Bagai Dunia Maya Tanpa Terminal Mojok, Nggak Lengkap! Bahasa Serang Terminal Mulok #09 terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Ngomong-ngomong soal bahasa daerah, bagi saya sebagai orang yang lahir di ibu kota Provinsi Banten, Kota Serang, sangatlah absurd. Kenapa? Karena bahasa daerah di kota kecil ini banyak sekali ragamnya. Sebut saja di kampung kelahiran saya, Karangantu.

Saat saya masih duduk di bangku SD, Banten masih menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat yang membuat saya harus bin kudu mempelajari bahasa Sunda sebagai muatan lokalnya. Tapi anehnya, bahasa Sunda yang saya pelajari di sekolah begitu asing dengan bahasa Sunda yang saya gunakan sehari-hari bersama Emak, Abah, Teteh, dan Aa saya. Saya nggak begitu paham apa yang dibicarakan oleh guru saya di kelas. 

Misalnya begini, di rumah saya menggunakan kata “dahar” untuk makan, tapi di sekolah, guru saya menggunakan kata “tuang” yang membuat otak saya mengimajinasikan iklan susu hingga tetes terakhir. Alhasil, nilai bahasa Sunda saya, yang oleh teman-teman dilabeli “orang Sunda”, nggak jauh lebih baik dari teman-teman saya yang bertutur dengan bahasa daerah berbeda. 

Nah, ini juga hal absurd lainnya: saya berbicara dalam bahasa Sunda “ala keluarga” (disclaimer: tidak untuk dibandingkan dengan Sunda Parahyangan (Bandung, Tasik, Majalengka, dan sekitarnya), apalagi untuk diperdebatkan) dengan keluarga saya, tapi saya harus melakukan language switch lebih dahulu saat hendak bermain dengan anak-anak tetangga karena mereka menggunakan bahasa Jawa yang sekarang marak disebut Jawa Serang (Jaseng). 

Saya kecil saat itu benar-benar nggak habis pikir, mengapa di sekolah kami diwajibkan mempelajari bahasa Sunda, sementara bahasa yang digunakan di lingkungan sekitar adalah bahasa Jawa Serang? Sayangnya, alih-alih terjawab, keheranan saya malah bertambah runyam seperti hubungan agama dan negara versi manusia, lantaran begitu heterogennya bahasa daerah yang sampai di telinga saya dalam keseharian di kampung yang nggak luas itu.

Saya tinggal di daerah paling timur Kota Serang yang berbatasan dengan Teluk Banten. Selain para pribumi yang lahir, besar, dan tinggal di sana, yang merupakan penutur bahasa Jawa Serang versi pasar berkonotasi kelas rendah dan kasar, juga masih ada para priayi keturunan Sultan bergelar Tubagus atau Entus (untuk laki-laki) dan Ratu (untuk perempuan) yang menuturkan bahasa Jawa Banten yang dianggap lebih halus dan beretika.  

Selain kedua kelompok berbahasa Jawa ini, ada juga para pendatang di sepanjang pesisir Teluk Banten yang berbahasa Bugis, sehingga perkampungan mereka dinamai kampung Bugis. Kelompok terakhir ini masih menuturkan bahasa mereka sendiri di antara para warga. Namun sebagian sudah dapat bertutur dalam bahasa Jawa Serang, atau setidaknya memahami, meskipun tetap dengan aksen Bugis mereka yang kental seperti bunyi ng pada tiap kata berakhiran -n. Misalnya, saya pergi ke Banten jadi saya pergi ke Banteng.

Dari semua ke-absurd-an tersebut, ada hal yang menarik. Lamat-lamat saya amati bagaimana orang-orang di kota saya bertutur. Entah pribumi, priayi, atau pendatang yang membawa dialek masing-masing, ketika mereka sudah mulai menyerap suara-suara manusia di sekitar mereka, muncul satu kesamaan dalam sebuah partikel kalimat yang kecil namun sangat khas, yaitu partikel “geh”. 

Baca Juga:

Bukan Jakarta, Tempat Paling Cocok untuk Memulai Karier Adalah Cilegon. Ini Alasannya!

3 Tempat Wisata Underrated di Lebak Banten yang Perlu Perhatian Pemerintah Setempat

Partikel “geh” ini sangat umum didengar dalam pembicaraan orang-orang di daerah saya. Berikut beberapa contoh penggunaan partikel “geh”:

Lo jangan gitu geh! (Orang Serang saat berpacaran dengan orang luar Serang)

Ulah kitu geh! (Orang Serang berlatar keluarga berbahasa Sunda yang berasal dari Pandeglang atau Tangerang)

Napik mengkoten geh! (Orang Serang priayi berbicara dengan orang tua mereka)

Aje mengkonon geh! (Orang Serang kebanyakan tersebar di setiap inci kota termasuk saya)

Huruf “e” pada contoh partikel “geh” nomor 1 dan 2 berbunyi seperti e pada kata boleh. Sedangkan “e” pada contoh partikel “geh” nomor 3 dan 4 berbunyi seperti e pada kata mekar. 

Partikel “geh” ini hampir tidak memiliki fungsi dan makna dalam kalimat, dan mungkin dapat dipadankan dengan partikel “sih” atau “dong”. Meski demikian, partikel ini berfungsi luar biasa dalam kebudayaan, yaitu sebagai identitas dan keunikan. Jadi, jika ada orang Serang meng-ghosting partikel “geh” dalam kesehariannya, maka sudah pasti dia belum pernah membaca Terminal Mulok di Mojok dan merayakan keriaan serta bangga bertutur dengan bahasa daerah dengan segala kekhasannya.

*Terminal Mulok adalah segmen khusus yang mengulas tentang bahasa dari berbagai daerah di Indonesia dan dibagikan dalam edisi khusus Bulan Bahasa 2021.

Sumber Gambar: YouTube Vlognya Ipang

BACA JUGA Pantai Gopek, Mutiara yang Tersembunyi di Banten.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 18 Maret 2021 oleh

Tags: bahasa Jawa SerangBantenTerminal Mulok
Saadatunnisa

Saadatunnisa

Seorang Pembelajar Seumur Hidup

ArtikelTerkait

Mengenal Perbedaan Bahasa Mandailing dan Angkola: Mirip tapi Ribet. Terminal Mulok #12 terminal mojok.co

Mengenal Perbedaan Bahasa Mandailing dan Angkola: Mirip tapi Ribet. Terminal Mulok #12

20 Maret 2021
Stasiun Merak Jalan di Tempat padahal Strategis dan Punya Potensi

Stasiun Merak Jalan di Tempat padahal Punya Potensi

9 Agustus 2024
Kabupaten Tangerang Melesat Meninggalkan Kota Tangerang: Kehidupan di Kabupaten Lebih Mewah dan Modern!

Kabupaten Tangerang Melesat Meninggalkan Kota Tangerang: Kehidupan di Kabupaten Lebih Mewah dan Modern!

5 Januari 2024
Pandeglang, Gambaran Nyata Daerah yang Terabaikan dan Tersisihkan

Pandeglang, Gambaran Nyata Daerah yang Terabaikan dan Tersisihkan

5 Oktober 2025
7 Rekomendasi Kuliner Maknyus di Kawasan BSD, Harganya Nggak Lebih dari 30 Ribu

7 Rekomendasi Kuliner Maknyus di Kawasan BSD, Harganya Nggak Lebih dari 30 Ribu

4 November 2023
bahasa betawi terminal mulok terminal mojok

Mau Pakai Dialek Betawi ‘Iye’ atau Betawi ‘Ora’? Ini Panduannya. Terminal Mulok #05

17 Maret 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

UNNES Semarang Rajin Menambah Mahasiswa, tapi Lupa Menyediakan Parkiran yang Cukup

24 Februari 2026
6 Oleh oleh Khas Jogja Paling Red Flag- Cuma Bikin Sakit Hati! (Wikimedia Commons)

6 Oleh oleh Khas Jogja Paling Red Flag, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Sakit Hati

22 Februari 2026
Flyover Kalibanteng: Labirin Aspal yang Lebih Ruwet daripada Alasan Putus Mantan Saya

Flyover Kalibanteng: Labirin Aspal yang Lebih Ruwet daripada Alasan Putus Mantan Saya

25 Februari 2026
Menyelami Makna VUCA Melalui Petualangan Dunia One Piece

Menyelami Makna VUCA Melalui Petualangan Dunia One Piece

24 Februari 2026
3 Olahan Topak yang Jarang Dapat Sorotan padahal Asli Madura dan Sulit Ditemukan di Daerah Lain Mojok.co

3 Olahan Topak yang Jarang Dapat Sorotan padahal Asli Madura dan Sulit Ditemukan di Daerah Lain

21 Februari 2026
4 Rekomendasi Kue Kering Holland Bakery yang Cocok Jadi Suguhan saat Lebaran Mojok.co

4 Rekomendasi Kue Kering Holland Bakery yang Nggak Mengecewakan dan Cocok Jadi Suguhan Lebaran

26 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya
  • Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali
  • Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya
  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur
  • Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman
  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.