Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Membedah Alasan Album ‘Folklore’ Taylor Swift Layak Memenangkan Grammy Awards 2021

Sarah Zhafira oleh Sarah Zhafira
19 Maret 2021
A A
Membedah Alasan Album Folklore Taylor Swift Layak Memenangkan Grammy Awards 2021 terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Dilansir dari Wikipedia, Grammy Awards merupakan acara penghargaan pertama dan terbesar di antara tiga acara penghargaan musik yang digelar secara tahunan. Bagi para musisi, tentunya Grammy Awards merupakan acara penghargaan yang bergengsi karena pemenang dari tahun ke tahun merupakan musisi-musisi yang dikenal akan talentanya dalam industri musik. Sebut saja Beyonce dan Georg Solti, dua musisi yang mendapatkan penghargaan Grammys terbanyak sepanjang sejarah. Dengan banyaknya kategori serta ketatnya persaingan antara para nominasi, memenangkan satu kategori pada Grammys merupakan sebuah kehormatan bagi musisi.

Pada Grammy Awards 2021, Taylor Swift kembali mengantongi salah satu penghargaan yang sangat diantisipasi oleh masyarakat, yaitu Album of the Year. Dengan kemenangan ini, Taylor Swift memecahkan rekor sebagai musisi perempuan pertama yang memenangkan Album of the Year terbanyak dalam sejarah, setara dengan Frank Sinatra, Stevie Wonder, dan Paul Simon. Setelah dua dekade, ia berhasil mengukir sejarah dengan album kedelapannya, Folklore, yang ditulis hanya dalam waktu empat bulan. Saya tegaskan lagi, empat bulan saja saudara-saudara!

Taylor Swift sendiri merilis Folklore tanpa pemberitahuan sebelumnya. Ia sukses membuat geger dunia melalui kejutan yang diberikannya pada tanggal 23 Juli 2020. Orang biasa mah ngasih surprise kue ketika ulang tahun, ini doi ngasih surprise-nya album, legend banget nggak, tuh? Dalam pesan pertamanya, blio mengaku bahwa karantina membuat imajinasinya liar dan Folklore merupakan buah dari imajinasi tersebut. Hal inilah yang menurut saya merupakan kunci yang membuat Folklore berbeda dari album-album sebelumnya. Dan kalau ditanya, apakah Taylor Swift pantas memenangkan Album of the Year untuk ketiga kalinya melalui Folklore, saya tanpa ragu akan menjawab “YA”. Berikut alasannya.

#1 Folklore merupakan perpaduan yang pas antara fiksi dan realita

Sebagian besar masyarakat mungkin sudah khatam dengan gaya penulisan lagu Taylor Swift. Yak, blio mendasari lirik dalam setiap lagu dari kisah pribadinya. Kemampuan storytelling Swift merupakan daya tarik terbesarnya karena dapat membuat pendengar terhanyut, tidak hanya dalam melodi yang indah, namun juga dalam situasi yang digambarkan melalui setiap liriknya.

Melalui Folklore, Swift mengalami peningkatan yang cukup drastis dalam menulis lagu. Dibanding menjadikan kisah pribadinya sebagai landasan setiap karyanya, ia kini mengambil rute berbeda dan menciptakan karakter-karakter fiksi melalui imajinasinya sendiri. Di dalam sebuah wawancara mengenai Folklore, Swift menyatakan bahwa ia menciptakan sebuah kisah antara tiga orang karakter yang terjebak dalam sebuah perselingkuhan, di mana ia menggambarkan sudut pandang dari setiap karakter dalam ketiga lagunya, yaitu “Cardigan”, “Betty”, dan “August”. Meski demikian, album ini tetap memiliki sentuhan personal yang menjadi ciri khas Taylor, menjadikan Folklore sebuah perpaduan antara dongeng dan sejarah pribadinya.

#2 Penggunaan referensi dari berbagai literatur klasik dalam liriknya

Seperti yang telah saya sampaikan, kemampuan storytelling Taylor Swift merupakan daya tarik utamanya, di mana lagu-lagunya penuh dengan metafora. Di dalam Folklore, Swift mencapai tingkatan yang baru dalam penulisan liriknya. Tidak hanya menggunakan metafora serta pengandaian, ia juga menggunakan referensi dari literatur-literatur klasik, sebut saja Jane Eyre, Peter Pan, hingga Emily Dickinson. Bahkan dalam salah satu lagunya, Swift secara eksplisit menceritakan kisah perjalanan seorang penulis bernama Rebekah Harkness, serta bagaimana Rebekah dan dirinya memiliki kemiripan satu sama lain. Sebagai penikmat sastra klasik, saya akui Taylor Swift berhasil memadukan literatur, kondisi modern, serta kisah pribadinya secara apik.

#3 Kaya akan detail, namun tetap easy listening

Menurut saya, Folklore merupakan karya terbaik Taylor Swift hingga saat ini. Meskipun memiliki lirik yang cukup dalam dan tidak dapat diartikan secara harfiah alias bikin mikir, Swift menyeimbangkannya dengan melodi yang laid-back. Ia kembali memberikan sentuhan country dalam sebagian besar lagunya, namun terkesan lebih samar karena dilebur dengan aksen pop dan folk. Hal ini membuat pendengar dapat menikmati melodi serta menerima pesan dari setiap liriknya secara bersamaan.

Kalau saya boleh berpendapat, Folklore memiliki lagu-lagu yang timeless. Saya tidak akan heran kalau dalam sepuluh hingga puluhan tahun ke depan lagu-lagu yang ditulis oleh Taylor Swift akan diteruskan ke generasi demi generasi.

Baca Juga:

7 Lagu Bahasa Inggris yang Mewakili Jeritan Hati Dosen di Indonesia

10 Lagu Taylor Swift untuk Menemani Momen Nangis Brutal

Taylor Swift, the legend that you are today.

Sumber Gambar: YouTube Taylor Swift

BACA JUGA ‘Bintang di Surga’ Milik Peterpan Adalah Album Indonesia Paling Fenomenal dan Sulit Dilupakan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 19 Maret 2021 oleh

Tags: folkloreGrammy Awardstaylor swift
Sarah Zhafira

Sarah Zhafira

Seorang mahasiswa akhir yang tidak begitu banyak bicara, namun banyak berkata-kata melalui frasa. Suka musik dan membaca buku.

ArtikelTerkait

Taylor Swift narasi usang misoginis mojok

Taylor Swift dan Narasi yang Usang

3 Maret 2021
7 Lagu Bahasa Inggris Mewakili Jeritan Hati Dosen di Indonesia (Unsplash)

7 Lagu Bahasa Inggris yang Mewakili Jeritan Hati Dosen di Indonesia

16 Januari 2026
10 Lagu Taylor Swift untuk Menemani Momen Nangis Brutal

10 Lagu Taylor Swift untuk Menemani Momen Nangis Brutal

31 Mei 2022
All too well taylor swift kandas ambyar

All Too Well: Merayakan Kesedihan dengan Elegan ala Taylor Swift

14 November 2021
Menggoreng Isu Pelakor Lewat Album Baru Taylor Swift, Folklore cardigan august james country music terminal mojok.co

Menggoreng Isu Pelakor Lewat Album Baru Taylor Swift, ‘Folklore’

12 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Kelebihan Kos LV yang Jarang Disadari, Nyatanya Nggak Seburuk yang Diceritakan Orang kos campur

Pengalaman Hidup di Kos Campur: Sebenarnya Tidak Seburuk Itu, tapi Sebaiknya Memang Jangan Pernah Coba-coba Tinggal

13 Mei 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Organisasi Mahasiswa Itu Candu, dan Jabatan di Kampus Itu Jebakan yang Pelan-pelan Mematikan

18 Mei 2026
Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan Terminal

Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan

15 Mei 2026
Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

15 Mei 2026
Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

17 Mei 2026
Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

15 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.