Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Warmindo akan selalu menjadi ruang pengaman sosial terakhir bagi kita yang dompetnya sedang sekarat

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
14 Agustus 2026
A A
Warmindo ruang pengaman sosial terakhir buat kamu yang miskin (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Warmindo ruang pengaman sosial terakhir buat kamu yang miskin (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Share on FacebookShare on Twitter

Suatu kali ketika masih miskin semiskin-miskinnya, malam itu saya duduk tiga jam di sebuah warmindo dekat rumah. Saya memesan satu Indomie goreng telor dan segelas es teh, lalu pura-pura sibuk menatap ponsel yang kuotanya sudah lama habis. Tidak ada satu pun yang mengusir saya. Justru di situlah inti tulisan ini lahir.

Pukul 11 malam, perut saya keroncongan, sementara isi dompet hanya menyisakan selembar 20 ribuan yang sudutnya sudah lecek seperti wajah saya setelah seharian membaca lowongan kerja. Pilihan saya jelas. bukan kafe, bukan restoran, melainkan warmindo dengan taplak plastik bening yang menggantung miring.

Abangnya menyambut saya dengan kalimat yang lebih hangat daripada sapaan resepsionis hotel bintang lima: “Mie rebus telor, Mas? Telornya dua?”

Saya mengangguk. Tiga menit kemudian, mie datang bersama segelas es teh manis yang dinding gelasnya basah oleh embun. Total Rp13.000. Selesai. Tidak ada pajak, tidak ada service charge, tidak ada tatapan menyelidik.

Di sebelah, lampu kedai kopi menyalakan seperti memamerkan dosa

Dari bangku kayu warmindo, saya melihat kedai kopi yang baru buka di seberang. Malam itu Jogja lagi panas banget dan si barista memakai beanie. Papannya menjual “Manual Brew Single Origin Gayo” seharga Rp40.000. Empat puluh ribu rupiah untuk segelas air panas dan kalimat-kalimat yang bikin minder.

Di tempat seperti itu, saya harus menyusun pesanan sepanjang satu paragraf memakai bahasa yang bukan bahasa saya. Di warmindo, saya cukup bilang “mie rebus telor”, lalu abangnya menjawab “siap” dengan nada seolah saya baru saja melakukan hal penting. 

Perbedaan itu terdengar sepele. Tapi bagi orang yang seharian merasa tidak penting, sapaan “siap” itu bekerja seperti pengakuan kemanusiaan.

Warmindo adalah salah satu institusi di negeri ini yang benar-benar buka 24 jam tanpa drama

Sebagai orang yang sering melek memikirkan masa depan, saya berutang banyak pada warmindo. Jam dua pagi, tiga pagi, menjelang subuh, lampunya tetap menyala. 

Baca Juga:

Kenapa Ya, Makan Mie Instan Menjelang Tengah Malam Terasa Lebih Nikmat?

5 Keanehan Lokal Jogja yang Nggak Pernah Saya Temukan di Semarang tapi Malah Bikin Bahagia

Yang jaga, mas-mas dari Jawa Barat, sibuk memasak mie. Televisi menayangkan bola dengan volume rendah.

Di seberang saya, duduk tukang ojek menunggu order, mahasiswa tua yang skripsinya berjalan di tempat, pekerja shift malam, dan saya, pengangguran yang sedang memoles CV. 

Kami tidak saling kenal, tapi kami saling menjaga kursi. Kalau satu orang ke toilet, yang lain otomatis menahan mejanya. Solidaritas macam ini tidak akan saya temukan di kafe. Di sana, laptop adalah tembok. Di warmindo, laptop kami menumpuk dengan charger yang menjuntai kemana-mana.

Yang paling sering datang justru orang-orang yang seluruh harinya berantakan. Buruh yang jam kerjanya tidak masuk akal, driver ojol yang boncengan rezekinya, sampai pedagang yang menunggu dagangannya laku atau basi. Warmindo menerima mereka semua tanpa syarat minimal pembelian.

Warmindo nggak cuma jualan mie, tapi izin berlama-lama menjadi bukan siapa-siapa

Orang pintar menyebut tempat semacam ini third place: ruang ketiga di luar rumah dan kantor, tempat manusia merasa aman. Saya tidak sepintar itu. Saya hanya menyebutnya “tempat saya tidak dianggap sampah”.

Kita ini, jujur saja, anak-anak yang gagal menjadi apa-apa, yah, untuk sementara. Dan warmindo adalah salah satu ruang yang tidak pernah menagih penjelasan. 

Tidak ada yang bertanya soal pekerjaan, tidak ada yang menakar dirimu dari merek sepatu, tidak ada yang menatapmu aneh ketika kamu menghabiskan dua jam hanya untuk satu gelas es teh seharga tiga ribu.

Justru di situlah letak keajaibannya. Di kedai kopi, kamu membayar agar dianggap ada. Di warmindo, kamu dianggap ada meski hanya membayar tiga ribu. Keduanya sama-sama menjual tempat duduk, tapi hanya satu yang menjual harga diri tanpa menaikkan tarifnya.

Di balik etalase, ada buku tulis lusuh yang mencatat utang para pelanggan. Itu mungkin satu-satunya buku besar di dunia yang tidak pernah mengirimkan debt collector. “Nanti kalau ada rezeki,” begitu aturannya. Kalimat itu lebih manusiawi daripada seluruh syarat dan ketentuan aplikasi pinjaman yang pernah saya setujui.

Abangnya juga hafal pesanan kita. “Es tehnya nggak pakai gula, kan, Mas?” katanya suatu hari, padahal saya hanya menyebutkannya sekali, dua bulan lalu. Saya hampir menangis. Bukan karena tehnya, melainkan karena ternyata ada satu manusia di kota sebesar ini yang mengingat keberadaan saya.

Romantisme warmindo ini murah dan memang seharusnya begitu

Orang-orang sering menuduh saya meromantisasi kemiskinan. Saya tidak sedang meromantisasi apa pun. Saya sedang berterima kasih. 

Di tengah kota yang menyuruh saya kerja, kerja, kerja, warmindo tidak pernah menyuruh saya jadi apa-apa. Ia hanya menyediakan kursi kayu, mie instan, dan gorengan dingin, lalu membiarkan saya duduk sampai malu sendiri karena kelamaan.

Suatu hari nanti, kalau dompet saya sudah sembuh, saya mungkin akan menyeberang ke kafe itu, memesan flat white, dan memotretnya untuk unggahan yang tak seorang pun akan membaca. 

Tapi malam ini saya masih di sini, di bangku kayu warmindo, menikmati kehangatan dari mie instan seharga Rp8.000 dan dari sapaan abang yang tidak pernah menanyakan kapan saya akan sukses.

Mungkin itulah definisi cinta yang paling jujur di zaman sekarang. Tempat yang membuatmu merasa cukup justru ketika kamu tidak punya apa-apa.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 3 Ciri Warmindo di Jogja yang Masih Asli, Jangan Ketuker Sama Warteg

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 Agustus 2026 oleh

Tags: kafe jogja.Kedai Kopimie gorengmie instanwarmindowarmindo jogja
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

ArtikelTerkait

Membaca 6 Kepribadian Berdasarkan Minuman yang Dipesan di Kedai Kopi terminal mojok.co

4 Tipe Mahasiswa di Kedai Kopi yang Patut Dihujat

21 Mei 2023
Filsuf Kedai Kopi, Hobi Berdebat Filsafat Layaknya Dinosaurus Peradaban yang Harusnya Punah terminal mojok.co

Kiat Sukses Membangun Kedai Kopi Milenial ala Kawan Saya

13 Januari 2020
ulang tahun

Orang yang Rayain Ultah dan Rusuh di Kedai Kopi Layak Dirujak Barista se-Indonesia

9 Maret 2021
Mie Sedaap Cup Bikin Saya Kecewa karena Kemasannya Gampang Bocor

Mie Sedaap Cup Bikin Saya Kecewa karena Kemasannya Gampang Bocor

8 Februari 2025
Nostalgia dengan 5 Mi Instan Jadul yang Saya Harap Bisa Dipasarkan Lagi Terminal Mojok.co

Nostalgia dengan 5 Mi Instan Jadul yang Saya Harap Bisa Dipasarkan Lagi

22 April 2022
Realita Kedai Kopi Jogja Persaingan Blok Utara vs Blok Selatan MOJOK.CO

Kedai Kopi Jogja: Persaingan Blok Utara vs Blok Selatan

22 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nakes vs pasien BPJS sama-sama korban sistem kesehatan (Unsplash)

Nakes vs pasien BPJS terjadi karena sistem kesehatan yang busuk

9 Agustus 2026
Pengalaman berkendara di Jombang membuat saya merasa kalau jalan di Lamongan tidak buruk-buruk amat

Pengalaman berkendara di Jombang membuat saya merasa kalau jalan di Lamongan tidak buruk-buruk amat

12 Agustus 2026
Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

10 Agustus 2026
Nalar Cacat Kepala Sekolah yang Menganggap Enteng Bullying pada Siswa

Penyelesaian bullying di sekolah hanya dengan permintaan maaf adalah bukti bahwa hal ini nggak pernah dianggap serius

8 Agustus 2026
Mahasiswa Pendidikan Informatika adalah mahasiswa paling patut dikasihani karena hidupnya sudah susah sejak dini

Mahasiswa Pendidikan Informatika adalah mahasiswa paling patut dikasihani karena hidupnya sudah susah sejak dini

14 Agustus 2026
5 penderitaan jadi peneliti lapangan yang sering dikira pekerjaan enak karena jalan-jalan dan dibayar Mojok.co

5 penderitaan jadi peneliti lapangan yang sering dikira pekerjaan enak karena isinya jalan-jalan dan dibayar

11 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.