Kalau Anda mau melatih mental untuk sekadar bertahan hidup, jangan pergi ke hutan belantara. Datanglah ke Semarang Bawah saat musim hujan atau ketika air laut lagi pasang-pasangnya.
Di saat warga di kota lain sibuk bikin petisi di Twitter begitu air menggenang lima sentimeter, atau langsung bikin puisi melankolis pas gerimis, warga Genuk dan Kaligawe sudah berada di level spiritual yang berbeda. Bagi mereka, air yang masuk ke dalam rumah bukan lagi sebuah bencana alam yang harus ditangisi, melainkan sudah seperti tamu tahunan yang tak pernah mereka ingin terima.
Menjadi warga Semarang Bawah itu artinya Anda harus siap hidup dalam kepasrahan yang hakiki. Coba bayangkan skenario ini: Anda baru bangun tidur dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, berniat menghirup udara pagi yang segar sembari membuka pintu depan. Tapi begitu pintu dibuka, sejauh mata memandang yang ada adalah hamparan air rob berwarna keruh kecokelatan yang tingginya sudah semata kaki.
Alih-alih mengamuk di media sosial sambil mention akun resmi pemerintah kota dengan ketikan penuh capslock, mereka cuma menghela napas pendek, lalu menguras teras yang sudah menggenang. Sesekali mereka menengok sebelah, apakah mereka juga merasakan penderitaan yang sama.
Motor jadi jetski dadakan
Ketangguhan mental warga Semarang bawah paling teruji pada urusan mobilitas kerja. Jalur Kaligawe atau seputaran Tambak Lorok saat musim rob adalah arena survival yang sesungguhnya. Di saat mesin motor matic modern milik anak Semarang Atas mogok sedikit saja langsung bikin panik dan buru-buru telepon bengkel resmi, motor Supra bapuk atau Honda Beat karbu milik warga Semarang Bawah dipaksa bertransformasi menjadi jet ski darurat.
Dengan penuh keberanian, mereka menerobos genangan air setinggi lutut, bersanding dengan truk-truk kontainer raksasa. Ketika motor mogok, mereka bakal menuntun motor itu dengan tenang ke pelataran ruko yang agak tinggi, mencopot busi dengan kunci pas yang selalu siap di bagasi, meniupnya kuat-kuat, memasangnya kembali, dan brem… jalan lagi seolah-olah baru saja melewati genangan air mineral gelas.
Warga Semarang Bawah menolak tenggelam bersama proyek yang tak kunjung usai
Kita sering kali melihat romantisasi banjir di televisi. Anak-anak berenang pakai ban dalam dengan ceria. Atau orang dewasa yang naik perahu karet sambil tersenyum pasrah ke arah kamera jurnalis. Tapi bagi warga Semarang Bawah, ketangguhan mereka bukan karena mereka menikmati keadaan maha-repot itu. Ini adalah bentuk adaptasi dari manusia yang sudah lelah dengan janji-janji manis proyek penanggulangan banjir atau tanggul laut yang pembangunannya tak kunjung usai.
Jadi, kalau Anda melihat warga Semarang Bawah begitu tenang menghadapi kepungan air, jangan salah paham. Mereka sebenarnya tidak baik-baik saja. Cuma, menjadi gila gara-gara event tahunan itu buang-buang waktu. Yang bisa mereka lakukan adalah, berusaha agar tidak ikut tenggelam. Itu saja.
Bagi saya, warga Semarang Bawah adalah sehebat-hebatnya warga. Tidak mengeluh, tidak memaki, tapi tetap kuat menerima segala bencana yang menerpa diri. Tapi, dengarkan juga keluh kesah mereka. Jangan sampai menganggap bahwa segala bencana ini bukan anomali.
Penulis: Aljazeera Widya Anggraini
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
