Walau Membagongkan bak Sinetron Indonesia, Berikut Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Drakor 'The Penthouse' – Terminal Mojok

Walau Membagongkan bak Sinetron Indonesia, Berikut Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Drakor ‘The Penthouse’

Artikel

Avatar

Drama Korea The Penthouse kini telah memasuki penghujung season kedua. Setelah sukses meraih rating tinggi pada season pertama, drama Korea yang dibintangi aktor dan aktris Korea kawakan seperti Lee Ji-ah, Uhm Ki-joon, Kim So-yeon, hingga Shin Eun-kyung ini dipastikan akan lanjut hingga season 3. Drama besutan SBS ini menceritakan para penghuni Hera Palace, sebuah apartemen mewah yang terletak di Seoul, Korea Selatan. Para penghuni Hera Palace merupakan keluarga konglomerat yang memiliki latar belakang profesi berbeda.

Gara-gara dipecah menjadi 3 season, menurut saya lama-lama alur The Penthouse jadi membagongkan layaknya sinetron Indonesia. Gimana nggak membagongkan, wong plot twist-nya bikin jantung breakdance. Apalagi makin ke sini kok ya makin ngadi-ngadi saja. Yah, namanya juga drama, terserah writer-nim saja lah mau bikin ending seperti apa. Meski begitu, ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari drama yang disutradarai Joo Dong-min ini. Siapa tahu pelajaran hidup dalam drama The Penthouse bisa kita aplikasikan dalam kehidupan kelak khususnya setelah memiliki anak. Mari kita simak bersama~

#1 Jangan paksa anak memilih bidang yang enggan mereka geluti

Dalam drama The Penthouse, para orang tua terobsesi pada kesuksesan anak-anak mereka. Mereka memaksa anak-anak untuk menjadi seniman tanpa peduli apakah anak-anak memang ingin jadi seniman dan berbakat dalam bidang tersebut.

Baca Juga:  Karcis Parkir: Benda Mungil yang Kalau Hilang Bisa Bikin Melarat Mendadak

Memang sih, orang tua ingin yang terbaik bagi anak-anaknya, apalagi jika sudah menyangkut bidang pendidikan. Namun menurut saya, memaksakan kehendak orang tua pada anak-anak kok ya terlalu berlebihan. Alih-alih membuat masa depan sang anak bersinar gemerlap, malah bikin si anak merasa insecure karena terpaksa melakukan yang ia nggak sukai. Kalau sudah begini, bisa-bisa potensi anak yang sesungguhnya jadi terkubur dan nggak berkembang. Sayang banget, kan?

#2 Berikan contoh yang baik bagi anak-anak

Pernah dengar kiasan “children see, children do”? Nah, sejalan dengan kiasan tersebut, orang tua adalah panutan bagi anak-anaknya. Jadilah role model yang baik bagi anak-anak kita kelak. Jangan seperti para orang tua dalam drama The Penthouse yang senantiasa berbuat curang demi memuluskan tujuan mereka.

Misalnya, jika menginginkan anak-anak kita kelak sukses menggeluti bidang yang mereka pilih, arahkan dan bimbing mereka. Berikan contoh dengan bekerja keras dan belajar dengan tekun dapat membuat kita mencapai goal akhir.

#3 Ajari anak-anak berkompetisi secara sportif

Tahu sendiri kan tingkat persaingan di Korea Selatan cukup tinggi? Untuk menjadi yang baik saja nggak cukup, kita harus jadi yang terbaik. Sama halnya dengan era serba cepat sekarang ini, semua orang dituntut untuk serba bisa dan menguasai nggak cuma satu bidang. Kalau sudah begini, ajari anak-anak kita berkompetisi secara baik. Tunjukkan atmosfer persaingan yang sportif.

Baca Juga:  Apa Salahnya Baca Buku di KRL

Jangan seperti para orang tua dalam drama The Penthouse yang menghalalkan segala cara demi bisa jadi nomor satu. Balik lagi ke poin nomor dua, orang tua adalah panutan bagi anak-anak. Sudah sewajarnya kita memberikan contoh baik bagi anak-anak kelak.

Nah, itulah beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari drama The Penthouse. Bagi yang belum menikah dan punya anak, silakan diresapi baik-baik poin-poin tersebut. Sehingga kelak bisa diaplikasikan pada anak-anak kita. Dan bagi yang sudah menikah dan punya anak, semangat, yuk! Mendidik anak memang tak semudah teori, praktiknya jauh lebih sulit, Bund. Tapi percayalah, dengan memberikan contoh yang baik, kelak anak-anak akan melihat dan mengikuti~

BACA JUGA Drama Korea ‘The Penthouse: War In Life’, Nggak Masuk Akal dan Bikin Kesal Sekaligus Ketagihan dan tulisan Intan Ekapratiwi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
10


Komentar

Comments are closed.