Wajar Banget kalau Mahasiswa Sekarang Mikir 2 Kali Sebelum Masuk Organisasi Mahasiswa

Buat Anak Organisasi Mahasiswa, Berhenti Bolos Masuk Kelas, Kegiatanmu Tidak Sepenting Itu!

Buat Anak Organisasi Mahasiswa, Berhenti Bolos Masuk Kelas, Kegiatanmu Tidak Sepenting Itu!

Akhir pekan lalu, saya membaca artikel mbak Mercy Lucia Alesty tentang organisasi mahasiswa yang dia sebut sering bikin anggotanya boncos. Bukan cuma boncos uang, tapi juga boncos waktu, tenaga, dan ekspektasi. Dari situ, saya jadi paham kenapa hari ini semakin banyak mahasiswa yang memilih menjauh dari organisasi kampus, atau setidaknya ogah-ogahan ketika diajak bergabung.

Fenomena ini sering disederhanakan sebagai gejala kemalasan generasi sekarang. Mahasiswa dianggap kurang daya juang, terlalu pragmatis, dan maunya yang instan-instan. Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, sikap menjauh dari organisasi mahasiswa justru lahir dari kesadaran yang cukup rasional. Mahasiswa hari ini tidak serta-merta menolak pengalaman, mereka hanya lebih selektif menentukan pengalaman mana yang layak diperjuangkan.

Organisasi mahasiswa masih kerap dijual sebagai ruang belajar paling ideal. Katanya, di sanalah mahasiswa ditempa kepemimpinan, manajemen konflik, dan kemampuan bekerja dalam tim. Masalahnya, praktik di lapangan sering tidak seindah teori pengkaderan. Banyak organisasi terjebak pada rutinitas yang melelahkan tanpa hasil yang jelas. Rapat berjam-jam hanya untuk membahas hal teknis yang bisa selesai lewat grup WhatsApp. Program kerja disusun demi laporan pertanggungjawaban, bukan dampak nyata. Di titik ini, mahasiswa mulai menghitung untung-rugi.

Hitungan ekonomi mulai masuk

Perhitungan itu semakin masuk akal ketika realitas ekonomi ikut menekan. Tidak semua mahasiswa punya privilese untuk sekadar sibuk tanpa memikirkan biaya hidup. Bagi sebagian orang, waktu malam lebih berguna untuk bekerja paruh waktu, mengerjakan proyek lepas, atau sekadar menjaga kesehatan mental setelah seharian kuliah. Organisasi mahasiswa, dengan segala tuntutan kehadiran dan iuran, sering kali terasa sebagai kemewahan yang mahal.

Belum lagi budaya di dalamnya yang kerap tidak ramah. Senioritas masih dianggap lumrah. Kritik sering dibungkam atas nama solidaritas. Mereka yang berbeda pilihan dicap tidak loyal, setidaknya itu di organisasi saya. Dalam iklim seperti itu, organisasi kehilangan fungsinya sebagai ruang belajar demokrasi. Ia berubah menjadi ruang kepatuhan. Mahasiswa yang kritis tentu akan berpikir dua kali sebelum masuk ke dalamnya.

Di sisi lain, dunia di luar kampus bergerak jauh lebih cepat dibanding ritme organisasi mahasiswa. Perusahaan, lembaga riset, dan komunitas profesional menuntut portofolio konkret, bukan sekadar jabatan ketua divisi atau sekretaris umum. Mahasiswa pun mulai mengalihkan fokus ke hal-hal yang lebih nyata. Magang, riset independen, kerja sukarela berbasis keahlian, atau bahkan membangun usaha kecil-kecilan terasa lebih relevan untuk masa depan mereka.

Baca halaman selanjutnya

Masih berguna, tapi…

Organisasi mahasiswa masih berguna, tapi…

Ini bukan berarti organisasi mahasiswa sama sekali tidak berguna. Masih ada organisasi yang sehat, reflektif, dan benar-benar menjadi ruang tumbuh. Namun, mahasiswa hari ini tidak lagi mau menerima narasi wajib organisasi sebagai kebenaran tunggal. Mereka sadar bahwa pengembangan diri tidak punya satu jalur baku. Apa yang berhasil untuk satu orang belum tentu cocok untuk orang lain.

Menariknya, banyak mahasiswa yang justru berkembang pesat setelah keluar atau tidak pernah masuk organisasi. Mereka belajar langsung di lapangan, berhadapan dengan klien nyata, tenggat waktu sungguhan, dan konsekuensi yang tidak bisa ditutupi oleh jargon kebersamaan. Pengalaman semacam ini sering kali lebih membentuk dibanding sepuluh kali rapat evaluasi yang hasilnya hanya revisi proposal.

Maka, ketika mahasiswa memilih menjauh dari organisasi, itu tidak selalu pertanda apatis. Bisa jadi itu bentuk perlawanan halus terhadap sistem yang dianggap tidak lagi relevan. Sebuah cara untuk berkata bahwa waktu mereka terlalu berharga untuk dihabiskan pada kegiatan yang tidak memberi nilai tambah yang jelas.

Bagaimana kalau bercermin dulu?

Alih-alih terus menyalahkan mahasiswa, mungkin sudah waktunya organisasi mahasiswa bercermin. Bukan dengan mempercantik slogan perekrutan, tapi dengan membenahi budaya, tujuan, dan relevansinya. Jika organisasi memang mampu memberi ruang belajar yang bermakna, mahasiswa tidak perlu dipaksa atau dirayu berlebihan. Mereka akan datang dengan sendirinya.

Sampai titik itu tercapai, wajar jika mahasiswa hari ini memilih jalan lain. Jalan yang menurut mereka lebih masuk akal, lebih jujur, dan lebih sesuai dengan realitas hidup yang sedang mereka jalani.

Penulis: Rahul Diva Laksana Putra
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Saya Ditolak Masuk Organisasi Mahasiswa, dan Itu Adalah Anugerah Terbesar di Masa Kuliah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version