Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Wadi, Olahan Ikan Khas Dayak yang Nikmatnya Tiada Tanding

Suwatno oleh Suwatno
15 April 2022
A A
Wadi, Olahan Ikan Khas Dayak yang Nikmatnya Tiada Tanding

Wadi, Olahan Ikan Khas Dayak yang Nikmatnya Tiada Tanding (Dokumentasi Pribadi)

Share on FacebookShare on Twitter

Layaknya sebuah daerah yang jauh dari garis pantai, khazanah kuliner Kalimantan Tengah didominasi olahan ikan sungai. Meski sudah malang melintang di tanah Borneo dan merasa telah banyak ngicipi berbagai olahan khas tiap daerah, rupanya ada satu olahan ikan khas Kalimantan Tengah yang belum pernah saya coba: wadi.

Sebelum saya berangkat wisata kuliner kali ini, gugling-lah saya apa itu wadi dan di mana bisa mendapatkannya. Oh ini mungkin seperti ikan asin yang banyak dijual di daerah pesisir Pantura, batin saya ketika melihat deskripsi dan potretnya di halaman Wikipedia.

Sungai Kahayan (Shutterstock.com)

Seorang sejawat yang asli suku Dayak Ngaju merekomendasikan sebuah kedai yang memang menyajikan olahan-olahan khas Dayak ketika saya tanya di mana bisa mendapatkan wadi. Kuliner rumahan ini memang tidak dijual dalam sentra kuliner atau toko oleh-oleh, tambah Sang Kawan.

Maka begitulah, berbekal titik tujuan yang ia bagikan, saya meluncur ke tujuan. Sebuah kedai di Jalan Kutilang, Kota Palangka Raya.

Ketika akhirnya sampai di kedai itu hal pertama yang saya pastikan kepada pramusaji adalah ketersediaan menu sadi. Dari arah dapur ia, pramusaji itu, tersenyum dan mendekati saya. Ada, tapi cuma wadi patin, Pak, katanya. Ah tak apa, yang penting wadi, pikir saya. Tadinya saya memang mengincar wadi ikan papuyu, sejenis ikan betik yang kerap dihidangkan di warung-warung di Palangka Raya.

Huma betang, rumah khas Dayak Ngaju (Hestamma Jaghadita via Shutterstock.com)

Sebelum ia kembali, saya memastikan apakah boleh saya nanti ngobrol dengan koki yang memasak wadi ini. Tentu saja boleh, tambahnya sambil berlalu.

Setelah menunggu hampir satu jam pesanan saya akhirnya datang juga diantar oleh Sang Koki langsung.

“Ya, sederhana saja, Pak,” kata koki itu lempang. “Ikannya saya rendam air garam selama tiga hari. Terus di hari keempat ikan itu dicuci air bersih. Hari kelima saya taburi pakai beras ketan yang dihaluskan dan gula merah yang ditumbuk kasar untuk ngasih rasa asam. Baru setelah itu siap dimasak kapan saja. Bisa digoreng atau dibakar.” tambahnya yang lantas berlalu setelah tersenyum dan mempersilakan saya menikmati hidangan.

Baca Juga:

Yang Membunuh UMKM Itu Bukan Indomaret atau Alfamart, Tapi Parkir Liar dan Pungli

4 UMKM Klaten yang Berhasil Go Digital, Ada yang Sukses Jualan sampai ke Luar Negeri!

Mendengar penjelasan itu saya tak langsung makan dan kembali mbatin, “Apanya yang sederhana kalau persiapannya berhari-hari begitu? Hadeuh…”

***

Secara tampilan wadi tidak terlalu berbeda dengan ikan asin yang difermentasi pada umumnya: warna coklat keemasan seperti ikan yang dilumuri tepung cair sebelum dilempar ke penggorengan. Teksturnya pun mirip sekali. Namun, wadi mengeluarkan bau yang khas, semacam wangi rempah (entah apa) yang dominan. Walau tak yakin, saya menduga itu adalah bau campuran beras ketan dan gula merah.

Ketika akhirnya cuilan pertama wadi patin itu beradu dengan ujung lidah, saya langsung menyeringai. Serangan rasa asin menyengat tanpa aba-aba. Pekat sekali. Meski sudah tahu bahwa ia adalah olahan ikan yang difermentasi dengan air garam, saya tidak menduga bahwa rasa asinnya sedahsyat itu.

Ikan patin (Shutterstock.com)

Tapi pada gigitan kedua, saya seperti merasa ditarik ke sebuah kenangan tentang rasa asin semacam ini. Saya berusaha me-recall memori dan berhasil mengenali rasa asin ini yanh ternyata mirip sekali dengan ikan peda asin olahan mendiang ibu saya.

Dulu di desa, ketika masih bocah dan ekonomi keluarga semenjana, ibu saya sering memasak ikan asin peda yang dibungkus dengan lembaran daun pisang. Dulu saya suka sekali olahan ini. Bahkan sisa bumbu di dasar daun pisang itu kerap saya dlamuti sampai habis. Yang jelas, rasa pedas-asin olahan ikan peda yang ditandemkan dengan nasi panas yang masih mongah-mongah dari sublug kerap menjadi santapan siang hari keluarga kami.

Bertahun kemudian merantau dan mulai mengurangi konsumsi garam dewasa ini, saya hampir lupa nikmat rasa pedas-asin semacam itu, hingga hari ini ketika saya ngicipi wadi patin khas Dayak ini.

Meski nikmat dan membawa nostalgia, toh nyatanya seporsi wadi patin pesanan saya itu tak sanggup saya habiskan. Untuk menetralisir rasa asin dua lembar wadi itu saya telah menghabiskan dua piring nasi, dan perut rasanya sudah tak kuasa lagi menampung. Bahkan rasa asin itu menyisakan sensasi pening di kepala belakang saya. Asin, tapi enaknya tiada tanding.

Kendatipun begitu, sebagai pendatang yang telah lama bermukim di Bumi Tambun Bungai, saya menyayangkan tidak dijadikannya wadi sebagai produk oleh-oleh khas Kalimantan Tengah.

Meski di beberapa market place telah tersedia tapi menurut saya tetap dibutuhkan campur tangan pemerintah daerah untuk bisa mengangkat produk ini menjadi produk UMKM yang mempunyai nilai jual lebih tinggi sebagai bagian dari mata rantai ekonomi di sektor pariwisata.

‘Kan akan terlihat lebih wangun kalau nantinya setiap orang yang pulang berwisata di Kalteng bisa nenteng sekotak wadi ikan sebagai buah tangan, to? Ups lupa, ngapain mikirin sektor pariwisata kalau sektor tambang batubara dan perkebunan kelapa sawit nyatanya lebih ngasih cuan, ya. Hehehe.

Penulis: Suwatno
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Hubungan Ungkapan “Akehe Sak Ndayak” dengan Konflik Majapahit dan Nansarunai

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 15 April 2022 oleh

Tags: dayakikan patinLapak Terminalumkmwadi
Suwatno

Suwatno

Penulis adalah bapak (muda) dengan tiga orang anak. Tinggal di Palangka Raya.

ArtikelTerkait

Paula Gianita Membagikan Rahasia agar UMKM di Indonesia Mampu Bertahan Lama

Paula Gianita Membagikan Rahasia agar UMKM di Indonesia Mampu Bertahan Lama

20 April 2023
Pedagang Pasar Tanah Abang Bukannya Tidak Bisa Jualan Online, TikTok Shop yang Kelewat Batas Mojok.co

Pedagang Pasar Tanah Abang Bukannya Tidak Bisa Jualan Online, tapi TikTok Shop yang Memang Kelewat Batas

24 Oktober 2023
Dear Bupati Nganjuk, Bangun Banyak Tugu buat Apa, sih? Nggak Ada Manfaatnya buat Warga

Dear Bupati Nganjuk, Bangun Banyak Tugu buat Apa, sih? Nggak Ada Manfaatnya buat Warga

30 November 2023
4 Rekomendasi Tempat Cari Takjil di Kulon Progo, Nggak Perlu Jauh-jauh ke Jogja! bandara YIA

4 Rekomendasi Tempat Cari Takjil di Kulon Progo, Nggak Perlu Jauh-jauh ke Jogja!

5 April 2022
5 Rekomendasi Tempat Berburu Takjil di Banyuwangi, Kulinernya Dijamin Endes!

5 Rekomendasi Tempat Berburu Takjil di Banyuwangi, Kulinernya Dijamin Endes!

18 April 2022
Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri China, Bukan Hanya Belanja Barang Impor dari Mr. Hu terminal mojok.co Digitalisasi Usaha Terbukti Selamatkan UMKM, Ini Tipsnya Agar Bisnis Lancar

Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri China, Bukan Hanya Belanja Barang Impor dari Mr. Hu

4 Maret 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Monumen Kapal Selam di Surabaya Sebenarnya Kaya Informasi, tapi Ogah kalau Harus ke Sana Lagi Mojok.co

Monumen Kapal Selam di Surabaya Sebenarnya Kaya Informasi, tapi Ogah kalau Harus ke Sana Lagi

24 Februari 2026
Dosa Penjual Oseng Mercon, Makanan Khas Jogja Paling Seksi (Wikimedia Commons)

Dosa Penjual Oseng Mercon Menghilangkan Statusnya Sebagai Kuliner Unik, padahal Ia Adalah Makanan Khas Jogja Paling Seksi

23 Februari 2026
Tan Malaka: Keunikan, Kedaulatan Berpikir, dan Sederet Karya Cemerlang

Tan Malaka: Keunikan, Kedaulatan Berpikir, dan Sederet Karya Cemerlang

26 Februari 2026
Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

26 Februari 2026
Realitas Mahasiswa UNNES Gunungpati: Ganti Kampas Rem yang Mengacaukan Keuangan, Bukan Kebutuhan Kampus Mojok.co

Rajin Ganti Kampas Rem, Kebiasaan Baru yang (Terpaksa) Tumbuh Pas Jadi Mahasiswa UNNES Gunungpati

20 Februari 2026
Bakpia Kukus Tidak Layak Pakai Nama Bakpia Asli Jogja (Unsplash)

Bakpia Kukus Tidak Layak Menyandang Nama “Bakpia” karena Ia Bolu Kukus yang Mengaku sebagai Kuliner Asli Jogja

21 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur
  • Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman
  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga
  • Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT
  • Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi
  • Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.