Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Valentino Rossi Naik Podium Lagi dan Idealisme Lightning McQueen di Lintasan Balap

Aly Reza oleh Aly Reza
27 Juli 2020
A A
Valentino Rossi Naik Podium Lagi dan Idealisme Lightning McQueen di Lintasan Balap MOJOK.CO

Valentino Rossi Naik Podium Lagi dan Idealisme Lightning McQueen di Lintasan Balap MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

“Wah Mbah Rossi iki pancen wis wayahe leren.” Begitu komentar salah satu warga yang ikut nobar MotoGp Andalusia di pos ronda kemarin malam. Komentar tersebut terlontar seiring dengan kendornya Valentino Rossi—pembalap jagoannya—di dua lap terakhir sehingga posisinya direbut oleh rekan setimnya sendiri, Maverick Vinales.

The Doctor akhirnya emang kembali bisa naik podium—setelah berhasil finish di urutan ketiga, di bawah dua junionrya, Maverick Vinales di urutan kedua dan posisi puncak yang diamankan Fabio Quartararo yang finish nyaris tanpa perlawanan berarti dari pembalap lain.

Bagi beberapa orang—khususnya para penggemar Valentino Rossi—pencapaian tersebut tentunya sangat patut dirayakan dan disombong-sombongkan, dong. Setalah 15 bulan, loh, nggak pernah ngerasain ongkang-ongkang di atas podium. Kali terakhir Rossi naik podium adalah di GP Amerika Serikat, 15 April 2019 silam. Kalau Anda fansnya Rossi, nggak apa-apa, nggak usah malu buat nunjukin euforia kebanggaan atas pencapaian sang idola. Nggak bakal ada yang nyama-nyamain Anda sama fans Liverpool juga, kok.

Tapi berbeda dengan para penggemar Valentino Rossi yang saya temui kali ini. Mereka justru ngerasa kasihan sama pembalap bernomor 46 itu. Menurut mereka, Rossi ini masih berkubang dalam liang romantisme kejayaan masa lalu. Atau bahasa kerennya, post power syndrome; kondisi di mana seseorang nggak mau berhenti dari profesinya hanya karena dia ngerasa dia masih jauh lebih baik.

Dan itulah yang secara nggak langsung coba diungkapin sama bapak-bapak fansnya Valentino Rossi yang saya temui ini. Bagi mereka, Rossi itu nggak bisa move on dari masa-masa ketika dirinya selalu jadi perhitungan tiap turun di arena balap. Dan yang paling menyedihkan, menurut mereka, Rossi ini masih belum bisa nerima kalau dirinya sudah tua.

“Rossi itu ibarat bintang redup di antara ribuan bintang yang lebih terang,” begitu komentar salah satu dari mereka. “Sekuat apa pun dia ngusahain buat bersinar, tapi yang kelihatan ya bintang-bintang lain itu.”

Yah, dan kenyataannya memang—diakui atau nggak—makin ke sini Rossi makin tenggelam dengan munculnya bintang-bintang baru di kancah MotoGp. Rossi masih kalah mentereng dengan nama-nama seperti Marc Marquez, Francesco Bagnaia, atau bahkan rekan setimnya, Fabio Quartararo dan Maverick Vinales yang selalu tampil memukau.

“Emang udah saatnya Rossi harus pensiun,” sambung warga yang lain. “Dia harus sadar kalau masanya sudah habis. Hla wong temen-temen seangkatannya saja udah pada sadar dan berhenti kok, dia masih aja ngotot balapan.”

Baca Juga:

Sisi Lain Gelaran MotoGP Mandalika yang Tidak Terekam Kamera Televisi

5 Pesan Rahasia di Balik Kolaborasi Yamaha dan Komeng

Saya yakin nggak cuma bapak-bapak yang nobar di pos ronda saja yang menyarankan agar Rossi gantung helm. Di luar sana pasti juga banyak yang berpikir demikian. Bahkan Charlos Checa—veteran MotoGp—dilansir Liputan 6 pernah secara terang-terangan meminta agar Rossi turun dari panggung balap MotoGp.

“Hari ini bukan masanya Rossi lagi. Hari ini adalah zamannya Marquez dan kawan-kawan.” Kalau boleh saya sederhanakan sekaligus simpulkan, kurang lebih seperti itulah komentar Checa.

Lalu kenapa Rossi masih tak kunjung pensiun? Kenapa dia masih sebegitu gigih jatuh-bangun? Apakah dia takut, setelah pensiun nanti, dia bakal terlupakan? Ah betapa overthinking dan anxiety-nya jagoan kita ini kalau seandainya demikian alasannya.

Sembilan gelar juara yang pernah dia raih, sudah sangat sahih buat mentahbiskan sosoknya sebagai seorang legenda. Wis tho, nggak bakal ada yang lupa. Hla wong di desa saya aja nih, ya, sebutan MotoGp nggak begitu akrab di telinga orang-orang. Yang ada adalah istilah balapan Rossi saking ikonik dan membekasnya Valentino Rossi di ingatan para penggandrung dunia balap motor.

Ngelihat sosok Valentino Rossi, saya malah jadi inget sama sosok pembalap lain, Lightning McQueen, legenda balap Piston Cup yang lika-liku perjalanan karirnya sama persis kayak Rossi. Atau jangan-jangan Valentino Rossi emang meniru gaya McQueen?

Kalau kalian inget, dalam Cars 1 dan Cars 2, McQueen adalah sosok yang nggak tertandingi. Podium pertama selalu jadi miliknya, sama seperti Rossi sekian tahun yang lalu.

Ketika memasuki Cars 3, McQueen mulai mendapat tekanan dari banyak pihak. Dirinya diminta segara pensiun karena dianggap udah nggak sebergairah dulu lagi, seiring munculnya pembalap-pembalap muda nan visioner.

Sebut saja sang penguasa panggung; Jackson Storm. Ditambah dengan kanyataan, kawan-kawan seangkatannya satu per satu akhirnya memutuskan buat gantung setir dari arena Piston Cup. “Piston Cup hari ini bukan milik kita lagi. Tapi milik mereka yang muda-muda,” ucap para veteran seangkatannya.

Bahkan ada yang menyebut kalau McQueen adalah pembalap tua yang sok idealis dan keras kepala. Dia masih ingin menunjukkan kepada dunia kalau dirinya masih belum habis, sementara tiap terjun ke arena balap, dia udah nggak bisa berbuat banyak. Justru karena terlalu memaksakan diri, dia malah mengalami kecelakaan hebat. Sifat yang bisa kita lihat juga dalam diri Valentino Rossi.

Yang menarik dari McQueen adalah, menjelang balapan terakhirnya dia berkata, “Yang memutuskan saya pensiun atau nggak adalah saya sendiri.” Rupa-rupanya ungkapan tersebut ditujukan untuk mengkritik pihak-pihak yang memintanya pensiun.

Baginya, dalam dunia balap selama ini, nggak dikenal istilah pensiun, yang ada adalah dipensiunkan. Contoh korbannya adalah Doc Hudson, legenda Piston Cup sebelumnya yang dipensiunkan lantaran dianggap kehilangan taji setelah kecelakaan berat.

McQueen ingin dirinya, dan pembalap-pembalap lain menentukan kapan dan dengan cara apa dia akan pensiun. Sehingga balapan bukan hanya soal juara nggak juara, naik podium atau nggak, ngangkat piala atau nggak. Karena “Itu hanya piala kosong,” kalau kata Doc Hudson. Yang terpenting adalah komitmen sampai akhir.

Valentino Rossi akan pensiun, dan itu adalah keniscayaan yang nggak bisa dihindari. Tapi sayangnya, itu nggak bakal terjadi dalam waktu dekat ini. Kalau pakai rumusnya McQueen, yang tahu kapan dan atas dasar apa Rossi pensiun adalah dirinya sendiri. Bukan Checa, bukan pula bapak-bapak pos ronda. Juga usia yang menua atau 15 bulan jatuh-bangun tanpa sekali pun naik podium bukan alasan yang kuat untuk menyatakan bahwa Rossi sudah habis.

BACA JUGA Lagu Dangdut: Satu Lagu Sejuta Penyanyi dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

 

Terakhir diperbarui pada 27 Juli 2020 oleh

Tags: Fabio Quartararomotogpvalentino rossi
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

lionel messi dan barcelona mirip marc marquez dan repsol honda mojok.co

Marc Marquez Kayaknya Lagi Disindir waktu Honda Unggah Meme Messi Berseragam Balap

2 September 2020
Melihat Peluang 4 Kandidat Juara Motogp 2020 Setelah Marquez Cedera terminal mojok.co

MotoGP Andalusia: Kembalinya Rossi ke Podium dan Quartararo yang Tak Tersentuh

27 Juli 2020
Benarkah MotoGP 2020 Lebih Menyenangkan Tanpa Marc Marquez? Mojok.co

Benarkah MotoGP 2020 Lebih Menyenangkan Tanpa Marc Marquez?

24 Agustus 2020
Valentino Rossi Naik Podium Lagi dan Idealisme Lightning McQueen di Lintasan Balap MOJOK.CO

Valentino Rossi Sebaiknya Pensiun, karena Era Ini Milik Marc Marquez

28 Juli 2020
4 Alasan yang Bikin MotoGP Semakin Membosankan

MotoGP Butuh Keributan agar Tak Lagi Membosankan

24 Oktober 2022
legenda

Valentino Rossi, Legenda yang Kini Mulai Dilupakan

13 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi Mojok.co

Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi

16 Januari 2026
8 Istilah Bau dalam Bahasa Jawa, dari Prengus sampai Badheg

8 Istilah Bau dalam Bahasa Jawa, dari Prengus sampai Badheg

15 Januari 2026
Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal mojok.co

Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal

14 Januari 2026
Jika Tok Dalang dalam Serial Upin Ipin Pensiun, Abang Iz Layak Jadi Kepala Kampung Durian Runtuh

Jika Tok Dalang dalam Serial Upin Ipin Pensiun, Abang Iz Layak Jadi Kepala Kampung Durian Runtuh

16 Januari 2026
Stasiun Slawi, Rute Tersepi yang (Masih) Menyimpan Kenangan Manis

Stasiun Slawi, Rute Tersepi yang (Masih) Menyimpan Kenangan Manis

15 Januari 2026
Trowulan, Tempat Berlibur Terbaik di Mojokerto, Bukan Pacet Atau Trawas

Trowulan, Tempat Berlibur Terbaik di Mojokerto, Bukan Pacet Atau Trawas

12 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • 2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup
  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.